Pelesiran Sesaat ke Telaga Saat Puncak

By Niken Andriani - Apr 8, 2021


Seminggu lalu saya menyuruh Bre mengambil cuti satu hari kerja di minggu pertama April. Kami berencana pelesiran ke luar kota yang tidak jauh dari Jakarta. Nggak ada tujuan khusus sih, yang penting keluar rumah. Pernah terpikir untuk ke Sukabumi, piknik lucu di depan danau Situ Gunung. Tapi saya sudah tiga kali ke sana. 

Baru semalam saya tidak sengaja melihat unggahan seorang teman di Instagram. Ada tempat yang namanya baru saya dengar, Telaga Saat Puncak. Terdengar dari namanya saya berasumsi lokasinya di Puncak Bogor, dan ternyata memang benar. Langsung saya menghubungi Indra, rekan fotografer yang tinggal di Mega Mendung. Dia memberikan informasi yang menjawab semua pertanyaan saya. Malam itu kami langsung packing secukupnya dan menyiapkan bekal. 

Kenapa kami repot-repot membawa bekal? Karena trip ini adalah pertama kalinya kami pelesiran selama bekerja di rumah 'WFH' di Jakarta. Puncak Bogor siapa yang tidak tahu, adalah destinasi favorit warga Jakarta di setiap akhir pekan. Jadi kami harus melakukan persiapan ekstra untuk piknik di saat pandemi. Meskipun saat tinggal di Malang saya bisa santai makan di warung di lokasi wisata, kalau di Puncak kami masih ragu. Kami juga sengaja memilih hari kerja untuk menghindari keramaian. Pelesiran di saat pandemi tentu menjadi hal yang lebih menantang.

Esok pagi saya bangun sebelum azan subuh, memasak bekal sederhana seperti sosis panggang, indomie goreng, dan cireng. Saya membawa termos isi teh hangat dan mengisi beberapa botol dengan air mineral. Saya juga membawa roti manis yang saya beli di toko roti langganan semalam. Menyiapkan bekal seperti ini saya merasakan seperti sedang traveling di luar negri. Tujuannya sih biar lebih hemat, tapi trip kali ini tujuannya biar lebih aman.

Pikachu lagi parkir sendirian di samping kantor Javana Adventure

Rencananya kami berangkat pukul 5:30 pagi, tapi Jakarta sedang dilanda hujan deras. Akhirnya kami baru berangkat satu jam setelahnya. Jalan menuju Bogor cukup sepi kendaraan, karena yang ramai justru kendaraan ke arah Jakarta. Dari Tol Kukusan, Pikachu melaju kencang sampai keluar Tol Puncak. Anyway, Pikachu 'picanto lucu' adalah nama mobil kami. Si cabe rawit merah ini baru pertama kali menjejakan kakinya keluar kota bersama kami. Mungkin dengan pemilik sebelumnya dia juga sudah rajin traveling ya, karena kilometernya sudah cukup panjang. Kami sampai di lokasi pukul 8 pagi, perjalanan berangkat hanya memakan waktu 1,5 jam. Yiay hari biasa tidak ada jalur buka tutup di Puncak.

Pintu Masuk ke Telaga Saat dan Telaga Warna
yang jelas terlihat dari pinggir jalan raya Puncak

Lokasi pintu masuk ke Telaga Saat ada di samping Melrimba Garden. Jika ingin ke sana menggunakan bantuan Google Map, kata kuncinya adalah 'pintu masuk ke telaga warna'. Jadi jangan sampai salah jalan, karena saya pernah coba menggunakan kata kunci 'telaga saat puncak' dan jalur yang ditunjukkan Google Map berbeda, masuk-masuk ke gang kecil. 

Kendaraan yang disewakan di pintu masuk telaga.

Nah, setelah sampai di sini ada tiga pilihan. Pertama lanjut menggunakan mobil pribadi, ke dua menyewa kendaraan yang disediakan oleh Javana Adventure, atau trekking sepanjang 1,5km di jalanan berbatu. Saya memilih opsi terakhir karena ingin menikmati udara sejuk Puncak hutan teh sambil memandangi kebun teh. Jalurnya juga cukup santai, tidak terlalu menaik dan menurun. Tapi gunakan sepatu atau sandal yang biasa digunakan untuk hiking karena kondisi jalanan semua berbatu. Jika ingin menyewa kendaraan, ada tiga jenis kendaraanMobil komodo yang bisa dikendarai sendiri dan muat hingga 4 orang, biaya sewanya 400 ribu rupiah selama 1,5jam. Ada juga ATV yang bisa dikendarai 1 orang, biaya sewanya 200 ribu rupiah. Dan yang terakhir mobil antar yang ada supirnya dengan biaya sewa 400 ribu rupiah selama 2 jam.


Asoy banget treknya. Jangan pakai sneakers ya nanti jebol.

Di loket kami diminta biaya masuk sebesar 21 ribu rupiah per orang. Tiket ini berlaku untuk 2 destinasi wisata, yaitu Telaga Warna dan Telaga Saat yang lokasinya berbeda arah. Nanti di Telaga Saat kita akan dimintakan lagi biaya kebersihan sebesar 10 ribu rupiah per orang. Jika ingin mengunjungi Telaga Warna setelah dari Telaga Saat, tiket harus disimpan. Jika ditotal biaya masuk per orang jadi kena 31 ribu rupiah ya, cukup mahal sih tapi setimpal karena Telaga Saat cukup bersih dan memiliki fasilitas yang cukup.

Pemandangan Gunung Pangrango yang sebagian tertutup awan

Pucuk daun teh muda yang siap dipetik

Sudah tiga bulan nggak menyapa alam bebas

Inilah saat yang menyenangkan, jalan-jalan sambil mengelilingi kebun teh. Menghirup udara sejuk perkebunan, sambil sesekali buka masker karena jarang sekali orang lewat. Mungkin karena masih pagi, kami hanya berpapasan dengan satu-dua motor dan angkot yang membawa pesepeda downhill. Jarak menuju Telaga Saat tidak begitu jauh, karena kontur naik turun bukit yang landai bisa ditempuh dengan 20 menit saja berjalan kaki. Tapi karena kami kebanyakan berhenti, ngobrol dan sambil sesekali foto-foto membuat perjalanan ke telaga kami tempuh selama satu jam



Memandang ke kanan dan kiri kebun teh kok tidak kelihatan sama sekali telaganya ya. Saya membandingkannya dengan Situ Patengang di Bandung di mana kita bisa melihat danau dari ketinggian. Ternyata telaganya kecil banget. Sesuai dengan namanya, dalam bahasa sunda 'situ' artinya danau dan 'talaga' artinya danau kecil di mana matahari dapat mencapai dasarnya.

Loket masuk Telaga Saat

Fasilitas yang cukup lengkap. Protokol kesehatannya juga lumayan,
di setiap saung disediakan sanitizer.


Biasanya pada akhir pekan jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 200 orang. Hari ini kami pengunjung ke 8, cukup sepi jadi kita bisa leyeh-leyeh di saung yang disediakan di pinggir telaga. Dari beberapa kedai, hanya ada dua yang buka. Selain menjajakan makanan khas warung kopi, tiap kedai menjual makanan khas yang harumnya menggoda perut yaitu 'basreng' atau baso goreng. 

Piknik pinggir danau. Air danau agak butek coklat kehijauan tapi nggak bau.

Mas-mas ini tidur sampai ngorok. Mukanya ditutupin karena silau.
Sambil menunggu dia bangun saya menulis jurnal seperti biasa.

Habis nge-brunch di salah satu saung, kami keliling telaga lalu menemukan spot menggelar flysheet di atas padang rumput yang luas. Meski sudah siang, udaranya cukup dingin jadi kami leluasa rebahan tanpa atap di bawah langit. Memandangi danau yang ada di depan kami dan membelakangi perbukitan hijau yang mulai diselimuti kabut. Sambil ngemil cireng pakai sambal rujak dan minum teh hangat di termos. Recharge energi sebelum kembali bekerja di rumah. 



KM 0 CILIWUNG

Saya baru ngeh di sini ternyata titik nol Sungai Ciliwung, sungai yang kerap menimbulkan banjir tahunan di wilayah hilirnya termasuk di Jakarta. 


I'm happy setelah dapat proyek lepas, tapi ternyata pending -___-

Sebelum naik ke rakit ini Bre kekeuh malas foto-foto.
Tapi dengan sedikit paksaan dari saya akhirnya mau juga :p

Sehabis foto-foto di atas tentu saja ada sesi foto berdua pakai gorilla pod. Sampai ada bapak-bapak paruh baya lengkap menggunakan setelan pesepeda tiba-tiba nyapa, "Mau difoto ala-ala prewed nggak mbak? Sini saya fotoin." Hahaha, nggak pak terima kasih sudah menawarkan. Padahal mungkin bapak tadi fotografer profesional. Sudah masuk ke tahun tujuh pernikahan loh, apakah setelan kita seperti cabe-cabean yang lagi pacaran di pinggir danau?

Saat kami sedang berjalan keliling danau, beberapa kali ada anak-anak muda yang mengambil foto candid saya. Awalnya saya takut tapi ternyata mereka adalah fotografer yang menawarkan jasa foto. Tapi tenang saja mereka nawarinnya nggak maksa kok. Menurut saya mereka cukup keren karena bisa jadi sarana untuk mempromosikan tempat ini.  

Jalan mau pulang, akhirnya dia mengeluarkan gawai buat foto-foto.

Masih nggak ngerti kenapa harus dicat warna-warni. Mungkin sudah jadi khas wisata di Indonesia semenjak viral kampung warna warni di Jodipan Malang.


Pukul 12 siang kami meninggalkan Telaga Warna. Yup, kami hanya tiga jam saja di sini. Kami sudah cukup puas, lagi pula mulai banyak wisatawan berdatangan jadi kami berniat pulang. Hujan rintik-rintik karena kabut tetap kami hajar meskipun tidak membawa payung. Sepanjang jalan kabut makin lama makin tebal hingga jarak pandang mata kabur. 


Kami kembali melalui jalur yang berbeda. Berdasarkan info dari Indra, nanti ada satu lagi danau kecil yang jadi hidden gem tapi jalurnya tidak sama dengan yang lewat loket masuk ke Telaga Warna. Sebenarnya tujuan utama kita lewat jalur ini karena malas papasan dengan wisatawan lain yang baru datang melalui jalur utama. Kepingin jalan sambil buka masker tanpa ketemu orang-orang. Dan benar saja, jalurnya makin lama makin kecil dan agak menurun tajam. Jalur ini nanti juga tembus ke jalan raya seperti gang kecil. Jika ingin rutenya bisa japri ke saya. Saya sengaja tidak publish karena takut nanti akan jadi jalur liar dan pengunjung yang nakal tidak mau bayar tiket masuk.

Misty hidden lake.

Perjalanan pulang ke Jakarta cukup drama, beberapa kali kami terjebak macet di jalan raya puncak. Saya sampai bisa nulis artikel ini sambil menunggu macet yang sebabnya tidak jelas, yang kalau dihitung total menikmati macet saja di jalan raya puncaknya ada mungkin 2 jam. Saya melengkapi tulisan dan foto hari ini, setelah mendapat kabar pekerjaan lepas saya pending dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Haha. Kami mampir minum susu hangat di Cimory Mountain View, karena Cimory Riverside pasti ramai, sambil sekalian numpang salat asar. Lalu kami ke pusat Kota Bogor mencari kuliner untuk makan sore. Biasanya kami mampir ke Bakso Seseupan, tapi karena sudah sering ke sana kami mau mencoba bakso seseupan yang lain. Namanya Bakso Boboho, pas sampai sepi banget hanya ada 2 pengunjung. Awalnya kami berpikir, harusnya bagus dong sepi, kalau ramai kan serem juga lagi pandemi gini. Tapi ternyata... rasanya sangat mengecewakan. Kuah bakso tidak ada rasa kaldunya sama sekali. Seseupan 'lemak sapi goreng' nya sedikit dan keras. 

Kami kembali ke Jakarta, beli martabak telur bangka di tempat langganan. Sampai rumah kami panaskan pakai oven, lalu menghangatkan susu rasa matcha yang kami beli di Cimory. Macet di jalur puncak memang bikin bete. Nggak bisa bayangin bagaimana macetnya Puncak saat libur panjang akhir pekan. Ditambah makan bakso yang rasanya nggak sesuai ekspektasi. Namun rasa jenuh ini akhirnya bisa hilang dengan pelesiran sesaat yang hanya tiga jam di Telaga Saat. 

"Ayo Bre! Pose pura-pura ketawa."

1 comment

  1. Gemes dah liat jalanan pakai dicat warna warni padahal lebih enak dibuat warna alaminya saja

    ReplyDelete