Blusukan ke Pasar-pasar di Eropa

Sunday, October 16, 2016


Pasar. Saya suka sekali pasar. Pasar itu berwarna. Di pasar banyak hal yang bisa kita lihat. Di pasar warga lokal berinteraksi satu sama lain. Di pasar saya menemukan banyak hal.

Dalam perjalanan keliling Eropa selama 50 hari lalu, kami tinggal paling tidak empat sampai lima hari di setiap kota. Paling lama di Reykjavik, kami tinggal 7 hari di sana, dan paling cepat 3 hari di Paris, itu juga karena transit. When we rush things, we will miss the hidden treasure. Harta karun itu bukan destinasi tapi pengalamanItulah mengapa kami memilih untuk lebih lama menghabiskan waktu di setiap kota. Dan disela waktu itu kami pasti menyempatkan untuk belanja. Bukan beli baju-beli tas-beli sepatu tapi belanja bahan makanan untuk di masak, kuliner dan memanjakan mata!


Great Market Hall, Budapest

Address: Vámház krt. 1-3, Hungary
Opening hours:  Monday to Saturday 6am - 6pm, Sunday closed

Great Market Hall atau mereka menyebutnya Nagyvásárcsarnoks (yang dalam bahasa Hungaria berarti central market) adalah pasar tradisional terluas dan tertua di Budapest. Menjadi salah satu tujuan wisata di Budapest karena bentuk bangunannya yang cantik dan megah. Lokasinya dekat dengan Liberty Bridge dan Gellert Hill. Jadi, kalau Chain Bridge itu sudah terlalu mainstream di mata turis, Liberty Bridge lebih sepi dan kita bisa nongkrong-nongkrong asik sambil makan Langos yang kita beli di pasar dan menikmati matahari tenggelam. Rencana kami begitu sih, tapi ternyata karena kelaparan, sebelum sampai jembatan Langos nya udah habis.



Di lantai 1 banyak dijual bahan makanan yang masih segar. Ada buah-buahan, sayuran, daging, produk susu dan cabe-cabean. Saya sebut cabe-cabean karena ada beberapa toko yang menjual aneka produk olahan cabe. Di lantai 2 banyak stall makanan dan barang-barang fashion. Karena lokasi pasar yang berdekatan dengan pusat turis maka di lantai ini banyak juga dijual aksesoris dan oleh-oleh. Fyi saya beli magnet kulkas buat tante-tante tercinta di sini, karena harganya paling murah se-Eropa. Kalau ingin wisata kuliner, Great Market Hall tempatnya. Banyak jajanan lokal Hungaria yang dijajakan di lantai ini, seperti csirkepaprikas, kifli, retes, goulash soup, dan langos (tiga terakhir sudah kami cobain). Hati-hati dompet yah, karena jajanan di sini cocok dengan lidah asia. 


Ada buah yang sangat menarik perhatian saya, namanya (saya lupa). Bentuk buahnya mirip sekali dengan apel. Untuk harganya sedikit lebih mahal dari apel hijau tapi rasanya segar! Buah ini banyak digunakan sebagai pewangi ruangan di sana. Kalau di Indonesia banyak aroma apel dan lemon, disana pakainya aroma buah ini.

Nagyon finom! (It was delicious)

FlohMarkt Maurpark, Berlin

Address: Bernauer Strasse 63-64, Berlin
Opening hours: Every Sunday 9am - 6pm

Another surprise dalam perjalanan kami ke Eropa. Kota Berlin juga tidak masuk dalam itinerary kami, tapi dadakan setelah dapat saran dari salah satu teman saya di Jerman untuk mengubah tujuan kami ke kota Frankfurt jadi ke Berlin. Jauh banget ya ujung ke ujung, but totallly worth! Kami sampai Berlin di Minggu pagi hari. Karena ngga punya itinerary, iseng lah kami browsing apa yang bisa dilihat di sekitar apartemen airbnb yang kami tinggali. Dan ternyata ada pasar loak yang lokasinya di belakang apartemen dan hanya ada di akhir pekan. Cukup ditempuh kurang dari satu kilometer karena memutar taman.


Sehabis hujan (yang lumayan lama) kami melangkahkan kaki keluar, menghirup udara Berlin yang lebih segar dibanding tadi saat kami baru sampai terminal bus yang pesing. Karena area ini adalah area tempat tinggal jadi tentu saja lebih bersih. Fleamarket berada di dalam Mauerpark yang merupakan lahan hijau luas yang di dalamnya juga mencakup stadion indoor. Jadi selain pasar, setiap akhir pekan tempat ini ramai karena menjadi tempat berkumpulnya warga lokal dan turis. Tujuan kami pertama nyari makanan, di sana banyak currywurst yang enak. Be careful sama kehalalannya ya. 



Ada yang main layangan, ada yang main gelembung sabun, ada yang tidur-tiduran berjemur, ada kakek dan nenek yang pacaran, ada yang sekadar duduk mengobrol sambil minum bir, ada yang melakukan hal aneh dengan bertelanjang dada sambil meregangkan tangan dan kaki, dan ada yang berkumpul menikmati street music performance which we really like. Ada juga konser besar di pojokan taman. Saat kami samperin pas mereka main Bohemian Rhapsody, jadi lah kami bernyanyi bersama-sama. 

Vokalisnya ketutupan payung

Kalau di atas mungkin band nya terkenal sampai ramai seperti itu, kami berjalan-jalan mengitari taman yang luas itu dan kami pun terhenti karena ada alunan nada yang tak biasa. Mereka menamakan Iah Moontra, dua orang pemain musik yang menyita perhatian kami. Jadi kangen TTATW waktu nonton berdua di senayan. Sehabis menikmati musik, gantian kami memanjakan mata dengan memutar pasar yang menjual bermacam-macam barang kuno seperti kamera, vinyl, dan pecah belah. Saya mengincar trench coat tapi ukurannya ngga ada yang memungkinkan. 



Brunnenmarkt, Vienna

Address: Brunnengassse 1160, Wien
Opening hours:  Monday to Saturday 6am - 6pm, Sunday closed
Website: wien.info

Islam adalah agama terbesar kedua di Austria, dan kebanyakan muslim tinggal di Vienna. Itulah kenapa pas Bre sholat Jum'at di Vienna, jama'ahnya banyak banget sampe keluar-luar pelataran masjid. Kalau muslimnya banyak, sudah pasti akan mudah kita mencari sumber makanan halal di pasar. 


Pasar yang paling eksis di Vienna adalah Naschmarkt, hanya saja lokasinya di pusat kota, agak jauh dari rumah airbnb kami. Setelah tanya-tanya ke si host, doi bilang ada pasar yang kisaran harganya lebih murah di dekat rumah doi. Namanya Brunnenmarkt, satu pemberhentian halte, atau sekitar 800 meter dengan berjalan kaki dari rumahnya. 

Di sini lah pertama kalinya kami makan sosis asli yang gede dan berantai seperti di kartun-kartun. Sebetulnya banyak dijual di supermarket, tapi kami ngga nemu yang halal. Nah, di Brunnenmarkt banyak lapak yang menjual daging potong dan daging olahan halal. Kami membeli satu kilo rind frankfurt (sosis daging) yang berlemak, bawang bombay, pisang dan satu kilo kentang.  Iseng deh kami menelusur pasar ini, melihat barang-barang yang dijual tidak jauh beda dengan pasar lokal yang ada di negeri kita. Salah satunya yang saya temukan adalah lapak boxer. (Don't call me perv!)




Lapjesmarkt, Utrecht


Address: Breedstraat, Utrecht
Opening hours: Every Saturday 8am - 1pm
Website: https://www.inyourpocket.com/Utrecht/Lapjesmarkt_65785v

Lapjesmarkt adalah pasar kain terbesar dan tertua di Belanda. Saya sampai ke sini bukan sengaja, tapi lagi kesasar waktu nyari tukang ngeprint di pusat kota Utrecht. Memang, kesasar selalu membawa kita ke tempat-tempat yang tak terduga. Pasar ini berada di Breedstraat, tidak jauh dari Oudegracht, kanal tua yang di sepanjang jalannya di kelilingi toko dan kafe yang biasanya ramai turis dan para mahasiswa yang hangout di malam hari. Saat Sabtu pagi hari Oudegracht sepi, yang ramai justru pasar ini. Saya ngapain di pasar ini? Cuma cuci mata, terus foto-foto dan tidak beli apa-apa.






Kolaportið Flea Market, Reykjavik

Address: Tryggvagötu 19, Reykjavik
Opening hours: Every Saturday & Sunday 11am - 5pm
Website: kolaportið.is

Karena cuaca yang sangat tak menentu (If you don't like the weather of Iceland, just wait 5 minutes) kami pun jadi malas keluar rumah. Kalau pun keluar, kami mencari tempat yang tidak diluar alias indoor. Dan tepat sekali, pasar yang hanya buka Sabtu dan Minggu ini berada di dalam bangunan dekat dengan pelabuhan. Lokasinya lumayan jauh dari rumah kami menginap, sekitar 2km. Bisa kami tempuh lewat pesisir pantai atau lewat jalan Laugavergur.


Sampai di tempat yang ditunjuk peta, kami ragu karena tidak sekalipun kami lihat ada keramaian. Sepi sekali. Apa mungkin pasarnya sudah tutup permanen? Pikir kami, karena biasanya yang namanya pasar, meskipun indoor, pasti diluarnya akan ada orang lalu-lalang membawa tas belanjaan. Kami pun mencoba memutar jalan sampai menemukan plang dudukan yang bertuliskan Kolaportið. Gitu aja, tanpa penunjuk arah dimana lokasi pasar ini. Dan akhirnya kami melihat ada orang masuk ke pintu gudang, lalu kami ikuti lah. Saat masuk, tercium bau aroma ikan yang menyengat. Beneran ini bukan sih pasarnya?



Setelah mutar-mutar, ternyata pintu pertama yang kita masukin tadi adalah pintu belakang! Pintu depannya adalah menghadap ke pelabuhan. Pintu depan bangunan ini sudah di design seperti revolving door di mall-mall. Memang waktu pertama kali kami masuk bau ikan, tapi setelah lama berada di dalam bangunan ini, kami jadi terbiasa dan tidak terasa. Apalagi saya sedang asyik mencari sesuatu yang unik untuk dibawa pulang, karena selama perjalanan keliling Eropa ini saya ngga beli apa-apa untuk diri saya. Dan nemu lah, gelang yang terbuat dari batu lava Iceland! Kami mutar-mutar untuk cari harga yang paling murah, dan beruntung kami bertemu dengan Lilja. Orangnya ramah, dia pun tidak sungkan bilang bahwa ia baru belajar membuat aksesoris dari batu lava. Kami pun diberi potongan harga karena gelang yang saya pingin designnya simple dan saya sabar menunggu!

Ini sosis kuda. Saya ulangi lagi, sosis kuda. Bentuknya mirip tapal kuda.

Pylsa. Fokusnya di bawang goreng nya. Enak bangets!

Apa saja yang saya dapat dari Kolaportið? Saya nyobain smoked salmon, sirip hiu (cuma ngelihat aja miris), lalu coklat made in Iceland (yang harganya lebih murah di banding di toko oleh-oleh), Nugget ikan dari Fish.is dan makan Pylsa. Pylsa adalah Iceland hot dog yang menjadi favorit tidak hanya warga lokal juga para turis. Bedanya dengan hot dog biasanya adalah ia terbuat dari daging domba. Jadi aromanya kaya prengus (bau kambing) gitu. Terus pylsa pake crunchy onion (bawang goreng) dan fresh onion. Sosisnya juga tidak di goreng tapi direbus. Tadi nya kami mau makan pylsa di food stall yang ada di luar pasar, yang mana ngantrinya panjang banget, akhirnya karena rintik-rintik hujan sangatlah tidak stabil kadang datang dan pergi, kami pun membeli di dalam. Harganya lebih murah dan tempatnya juga nyaman seperti di kafe. Sejak makan pylsa di sini kami jadi ketagihan, setiap kami lapar di jalan, pasti pylsa yang kami cari. Karena selain harganya yang murah (di Iceland apapun serba mahal), rasanya juga enak.




Sebetulnya kami lebih banyak belanja bahan makanan di supermarket yang umum, seperti Bonus, Coop, Lidl, Plus, Krona dan beberapa supermarket lain yang lebih dekat ke tempat kami tinggal. Tapi belanja di supermarket kan ngga ada seninya, dan salah satu the art of traveling adalah belanja di pasar.

Selain pasar-pasar di atas yang saya dokumentasikan, ada pasar lain yang secara tidak sengaja kami kunjungi namun tidak sempat saya dokumentasikan seperti pasar di area Lombok Utrecht, pasar pagi di Cochem, pasar loak di Turin, Rialto market di Venice, pasar loak di Brugge, dan pasar loak di Vienna. Selain berbelanja, kalau ke pasar ngga sambil makan di dalam pasar itu rasanya ada yang kurang. Makanya kami pasti menyempatkan juga untuk mencicipi local dish di setiap kota. Bukan berarti kami menghabis-habiskan uang, tapi apa yang kami korbankan tak sebanding dengan pengalaman yang kami dapat. Sangat mahal harganya. 

You Might Also Like

4 comments

Subscribe