Cara Migrasi PLN Listrik Pascabayar ke Prabayar

by - July 06, 2020


Jadi ceritanya sudah lebih dari setahun ini saya mengurus pembayaran listrik di rumah orang tua saya yang masih menggunakan sistem Pascabayar. Berhubung beberapa bulan terakhir ini tagihannya semakin meningkat (lebih dari dua kali lipat) saya berencana mau migrasi ke sistem Prabayar (Listrik Pintar). Di rumah saya sendiri memang dari awal sudah pakai Listrik Pintar (mode token) dan pengeluarannya stagnan, tidak ada kenaikan yang signifikan terkecuali memang pemakaian lagi tergenjot karena Work From Home. Saya perhatikan jumlah pemakaian kami (rumah Saya dan rumah orang tua) tidak berbeda jauh seperti mesin air jet pam, kulkas, mesin cuci, jumlah lampu, jumlah pendingin ruangan, dan penanak nasi. Terlebih saya pakai water heater, oven, dan toaster. Tapi jumlah KWH yang digunakan di rumah orang tua saya bisa 2x lipat dari penggunaan di rumah saya (di cek dari nomor meter di tagihan tiap bulan). Lalu di mana letak permasalahannya?


Awalnya saya sempat menduga karena pendingin ruangan di rumah orang tua saya sudah terlalu jadul jadi watt nya besar. Tapi kenapa naiknya baru tiga bulan ini? Ternyata jawabannya ketemu di salah satu twit yang melintas di timeline Twitter. Alasan naiknya, karena petugas mengganti meteran sehingga perputaran nya dua kali lebih cepat. Hahaha. WTF!

Jadi saya putuskan untuk mengganti mode pascabayar PLN ke mode token saja. Jadi pemakaiannya lebih jelas dan kita bisa atur sendiri. Saya mulai dengan browsing sana-sini untuk mencari informasi apakah migrasi ini perlu biaya? Karena saya pernah dapat informasi untuk pasang baru biayanya bisa lebih dari 1 juta rupiah. Ternyata untuk migrasi ke Listrik Pintar kita tidak dipungut biaya alias gratis. Saya pun memutuskan untuk menulis artikel ini karena sejujurnya saya mengalami sedikit drama.

Cara migrasi PLN Pascabayar ke Prabayar:

1. Buka laman resmi PLN https://portal.pln.co.id/ lalu masuk ke menu Pelayanan Pelanggan, nanti kita akan diarahkan ke laman https://layanan.pln.co.id/. Di sini saya mulai bingung karena jujur saja tampilannya sungguh tidak user friendly. Saya sempat misuh-misuh sendiri karena bingung musti ngapain sampai akhirnya menemukan tombol Setuju/Tidak Setuju yang ada di paling bawah inframe.


2. Klik submenu Perubahan Daya di bagian Web Korporasi PLN. Lalu klik tombol Setuju. Nanti akan muncul pop-up window lalu klik OK.


3. Untuk mempermudah dalam mengisi form, kita masukkan dulu Identitas Pelanggan atau nomor meter yang biasa kita gunakan untuk bayar listrik yang ada di pojok kanan atas lalu klik tombol Cari, sehingga kita bisa menggenerate bagian Data Pelanggan dan Data Pemohon secara otomatis.


Data Pemohon
Data Pelanggan

Lengkapi form yang masih kosong seperti email dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

4. Langkah selanjutnya isi form di bagian Tarif/ Daya Baru.

  • Produk Layanan: PRABAYAR
  • Peruntukan: RUMAH TANGGA
  • Keperluan: Z0253 RUMAH PRIBADI
  • Daya: 2200 (saya tidak merubah daya, hanya merubah sistem produk pelayanan). 
  • Token Perdana: Silakan pilih, saya memilih 50.000 untuk token pertama yang nanti digunakan.

Klik tombol Hitung Biaya. Di bagian Detil Biaya akan muncul total biaya yang harus kita transfer. Karena migrasi ini gratis maka biaya yang kita bayarkan hanyalah senilai token yang tadi kita isi.

5. Ceklist persetujuan kamu dan masukan kode yang ada di gambar. Lalu klik tombol Simpan Permohonan.


6. Cek email kamu. Nama tarif baru berubah dari R1 menjadi R1T, namun daya tetap sama.

Kode transaksi di bagian bawah email sebagai kode konfirmasi

7. Kembali ke laman https://layanan.pln.co.id/ lalu masuk ke submenu Entri Kode Konfirmasi. Masukkan kode transaksi yang ada di bagian bawah email. Lalu klik tombol Simpan

Simpan No Register dan No Agenda ini. Lalu lakukan cek email, kita akan memperoleh email baru lagi dari PLN untuk melakukan pembayaran.


8. Di sini lah langkah selanjutnya yang lumayan bikin drama. Bagaimana cara kita bayar? Tidak ada panduan resmi yang bisa kita peroleh untuk melakukan pembayaran ini. Saya coba ngubek-ngubek website PLN tapi nggak nemu. Akhirnya saya coba menghubungi Customer Service melalui DM ke akun resmi Twitter @pln_123. Lumayan cepat responnya tapi ...


Tapi semua panduannya menyesatkan! Entah apa yang merasuki Mbak Elfira ini hingga semua jawabannya seperti copy paste dari Google. Saya bolak-balik menunjukan bukti pesan gagal transaksi dan tagihan terblokir. Sebetulnya saya sudah sangsi saat membaca panduan pertama yang Mbak Elfira ini kasih, karena sudah jelas No Register ada 13 digit dan No Agenda ada 18 digit.  Lalu 16 digit yang dimaksud di panduan itu nomor apa??? Karena terus gagal saya ngadu lagi lewat DM. Katanya kita tidak bisa bayar lewat e-banking, harus lewat Teller Bank atau ATM. Oke, akhirnya saya meminta tolong Bre untuk ke ATM sesuai dengan panduan yang Mbak Elfira kasih. Ternyata ZONK juga, Bre sudah nyoba ke dua ATM berbeda tapi gagal. Baiklah mungkin saya harus ke Teller Bank. Tapi karena masih pandemi gini saya masih parno ke tempat ramai apalagi Bank yang nggak pernah sepi. 

Setelah seminggu saya mencoba lagi peruntungan lain dengan menghubungi Customer Service melalui DM ke akun resmi Instagram @pln123_official. Respon nya agak lama tapi jawabannya mumpuni. 

Cara melakukan pembayaran yang benar

Jadi untuk melakukan pembayaran untuk proses migrasi PLN Pascabayar ke Prabayar adalah dengan cara ke Teller atau ke ATM, sama seperti yang dibilang Mbak Elfira hanya saja untuk tata cara bayar di ATM yang benar bisa dilakukan seperti langkah yang diberikan oleh Mas Mutakin di atas. 

9. Setelah berhasil melakukan pembayaran kita bisa mengecek status migrasi kita melalui laman https://layanan.pln.co.id/ lalu masuk ke submenu Status Permohonan. Masukan No Agenda atau No Register lalu klik tombol Cari.


Saya melakukan pembayaran melalui ATM pada tanggal 1 Juli 2020, kemudian petugas PLN menghubungi saya pada tanggal 5 Juli 2020 untuk melakukan pemasangan alat metering baru. Janjian jam 3 sore, tapi ditunggu sampai setengah 7 malam baru datang. Proses pemasangan tidak lama, hanya saja mereka tidak bisa memindahkan alat metering yang tadinya ada di area halaman outdoor ke area teras. Karena alat metering baru ini katanya sih ngga bisa kena air atau hujan, bisa korslet katanya makanya harus dipindah. Untuk melakukan proses pemindahan alat metering, kita harus datang langsung ke PLN pusat di Duren Tiga, yang mana lumayan jauh dari rumah dan dikenakan biaya Rp 170,000 kata si bapak petugasnya. Aih~ nanti lagi aja deh.

Update:

Pada tanggal 8 Juli 2020, saya mendapatkan pesan dari PLN melalui WhatsApp yang mengatakan bahwa pelanggan diharuskan untuk melakukan pembayaran kompensasi UJL sebesar Rp 236.649 sebelum jatuh agar terhindar dari pemblokiran pengisian pulsa. Sempat bingung juga, di pesan dijelaskan jumlah tersebut adalah pemakaian listrik terakhir pelanggan sebelum migrasi. Kenapa jumlah nya bisa sebesar itu padahal setelah melakukan pembayaran listrik pada tanggal 4 Juli 2020, jeda waktu dari tagihan terbit hingga migrasi hanya beberapa hari, pasti pemakaian tidak mungkin sebesar itu. Ternyata setelah saya telusuri, kompensasi UJL ini seperti biaya wajib bulanan atau abonemen yang hanya dikenakan ke pelanggan Pascabayar. Detail lengkapnya bisa dibaca di sini. Kalau begitu, untuk menghindari kompensasi UJL ini lebih baik melakukan migrasi saat akhir bulan atau sebelum tagihan bulanan tercetak. Tapi sekali lagi ini hanya dugaan dan kesimpulan saya. Lebih jelasnya hanya PLN yang tahu.

Pesan masuk tagihan kompensasi UJL
Saya melakukan pembayaran melalui ATM yang caranya sama seperti pada poin 8. Struk yang tercetak keterangan nya adalah Migrasi Layanan. Hahaha.. Terserah lo deh.

Tambahan: Cara Geser Meter

Saat pemasangan saya mendapat informasi dari petugas kalau meteran yang baru ini tidak bisa kena hujan dan bisa korslet jadi sebaiknya dipindah ke teras rumah yang aman. "Yaudah pak sekalian saja dipindah." Saya nyeletuk begitu dan petugasnya bilang saya harus mengajukan laporan ke Kantor PLN Pusat di Duren Tiga. Katanya nggak bisa apply lewat web dan nggak bisa juga ke Kantor PLN yang di Lenteng Agung. Aduh repotnya.. Akhirnya malam itu saya akalin saja meterannya pakai plastik bekas taplak meja dan lakban. 

Data lengkap yang diisi untuk mengajukan Geser Meter
Tanggal 6 Juli 2020, saya iseng coba mengajukan proses geser meteran ini melalui DM ke akun resmi Instagram @pln123_official. Meskipun balasnya lama (sekitar 2 hari) Alhamdulillah mereka bisa bantu proses nya jadi kita nggak perlu repot-repot ke Kantor PLN sana. 



Setelah membalas pesan dengan mengisi data lengkap, pesan saya di DM Instagram baru dibalas lagi keesokan harinya (9 Juli 2020). Itu pun baru diproses setelah saya nanya dulu. 



Saya mendapat pesan melalui WhatsApp tanggal 10 Juli 2020. Isinya tentang tagihan yang harus dibayar untuk proses Geser Meter. Biayanya ternyata lebih mahal dari dua kali lipat dari informasi yang diberikan oleh petugas sebelumnya saat melakukan migrasi ke Prabayar. Dari Rp 170,000 jadi Rp 374.000. Mungkin selain adanya kasus kenaikan listrik yang tidak jelas ini, ada kenaikan biaya layanan lainnya. Kenapa? Sekali lagi, jawabannya hanya Tuhan dan para Direksi PLN yang tahu. 

Awalnya saya sempat ragu, karena akun nomor WhatsApp ini nggak official. Kayak cuma akun biasa terus diganti profile picture nya pakai logo PLN. Untuk memastikan dokumen pdf itu resmi, saya kontak lagi melalui DM Instagram resmi PLN. Dan katanya betul itu resmi terbitan dari PLN. Saya melakukan pembayaran tanggal 15 Juli 2020 melalui ATM (caranya sama seperti poin 8) dan konfirmasi ke nomor WhatsApp tadi. 

Tanggal 16 Juli 2020, yang bearti hari ini, petugas PLN datang untuk melakukan Geser Meter. Tapi saya disuruh menyediakan kabel Tupur namanya ukuran 325 sepanjang 3 meter, tergantung seberapa jauh gesernya. Hoala! Ternyata tetap harus beli sendiri kabel nya, yang dari mereka hanya kabel hitam tarikan dari tiang listrik saja. 

Begitulah. Drama migrasi dan geser meter PLN ini usai sudah. Kata petugasnya sih, mau Pascabayar atau Prabayar sama-sama naik listriknya. Dia sampai bertanya ke saya, kenapa migrasi ke Prabayar? katanya justru bakal lebih mahal lagi. WHAAAAAT???!!! 

Sedikit curahan hati: 
Dari dulu selalu gemas sama website resmi pemerintahan. Belum pernah nemu website yang informatif, enak dipandang mata dan mudah digunakan. Paling gemas sama website Kemenag yang buat ngecek nomor porsi haji. Error terus berbulan-bulan sampai kelewat tahun. Tapi sekarang sudah lumayan sih, fungsi cek keberangkatan sudah jalan dan ada beberapa perubahan di tampilan yang lebih sedap dilihat. Nah, yang bikin saya sebal kali ini adalah website PLN! PLN kan BUMN paling kaya ya di Indonesia, kenapa sih nggak bisa bikin website yang informatif dan mudah digunakan? 

You May Also Like

0 comments