DIY: Berkebun Sederhana dengan Raised Bed

By Niken Andriani - Sep 29, 2020

Berkebun menjadi trending saat pandemi. Kegiatan yang tentu saja banyak dihabiskan di rumah ini menjadi alternatif bagi kita yang memang tidak bisa melakukan banyak aktivitas di luar rumah. Sekarang berkebun jadi hal yang banyak digemari. Dampak yang paling terasa adalah harga tanaman hias yang melonjak dratis. Apakah saya menjadi salah satu korban kebiadaban harga tanaman? Ah, menurut saya tidak. Tanaman hias termahal yang pernah saya beli baru Pohon Ketapang Kencana setinggi 1,2 meter, seharga 65 ribu rupiah (tanpa ditawar). 

Terlepas dari harga tanaman hias yang semakin tak masuk akal, saya mencoba fokus untuk merapihkan kebun belakang rumah yang tak terurus. Lain waktu saya akan menulis tentang koleksi tanaman hias yang ada di kebun belakang rumah. Salah satu daftar harapan saya untuk merapihkan kebun belakang adalah membuat Raised bed. Apa itu Raised bed? Begini kalau kata Wikipedia:

Raised-bed gardening is a form of gardening in which the soil is enclosed in three-to-four-foot-wide containment units, which are usually made of wood, rock, or concrete and which can be of any length or shape.

Raised bed adalah lingkup lahan yang dibuat di atas tanah atau dak kemudian dibatasi dengan wadah. Atau bahasa sederhananya: Bak Tanaman.


Berkebun dengan Bak Tanaman adalah salah satu teknik berkebun yang mudah karena kita tidak harus melakukan proses pemurnian lahan sebelum menanam. Berkebun dengan teknik ini juga memangkas proses penggemburan tanah menggunakan cangkul —bagian fisik paling melelahkan. Berikut saya akan berbagi pengalaman saya dalam membuat Raised bed berukuran 80 x 120cm.

Hal yang perlu disiapkan:

Pembatas lahan

Bisa menggunakan barang bekas seperti genteng, batu, kulit kelapa bekas, kayu atau bisa juga dengan batu bata atau beton potong. Berhubung cuaca di Indonesia panas dan hujan sepanjang tahun, saya memilih menggunakan genteng beton karena lebih awet dan sangat mudah dalam pemasangannya. Jika tidak punya genteng bekas bisa beli di toko pengepul genteng dan kayu bekas atau lewat ecommerce. Harganya sebetulnya sangat murah sekitar 1000 rupiah per buah. Berhubung di dekat rumah ada toko genteng, saya memilih untuk beli genteng baru dengan harga yang paling murah (beli lewat ecommerce kena mahal di ongkir!). Jenisnya genteng beton Mutiara, sebuahnya dihargai 7000 rupiah. Ukuran genteng beton ini sekitar 35 x 45 cm, jadi saya hanya butuh 10 buah untuk ukuran raised 80 x 120 cm. 

Media tanam

Untuk ukuran Raised bed ini, saya membutuhkan satu karung sekam mentah dan tiga karung besar media tanam yang isi campurannya tanah, sekam, cocopeat, pakis, dan pupuk kandang. Media tanam beli di Bang Boy, toko tanaman langganan dekat rumah. 

Peralatan tukang

Saya menggunakan linggis, sendok semen, serokan dan sarung tangan tukang. Linggis mempemudah untuk menggali tanah saat menanam genteng. Sendok semen untuk merapihkan pembatas dan media tanam. Serokan tukang digunakan untuk menabur media tanam. Oiya saya menggunakan sarung tangan tukang saat menggali tanah pakai linggis, biasanya dibeli seharga 7500 rupiah di Toko Bahan Bangunan.

Opsional

Cacahan batang pohon pisang, daun pisang, tanah pekarangan. Saya menambahkan cacahan batang pohon pisang serta tanah merah yang ada di pekarangan. Cacahan batang pohon pisang bermanfaat untuk menahan air pada media tanam sehingga air tidak langsung surut ke tanah. Hal ini dikarenakan posisi media tanam Raised bed yang lebih tinggi dari sekitarnya. Daun pisang untuk menutup Raised bed sebelum digunakan.

Gersang sekali ya nggak ada rumputnya

Berikut cara membuat Raised hingga siap untuk ditanam:

1. Genteng ditanam ke tanah dengan kedalaman sekitar 10cm. Saat ditanam, saya menambahkan puing-puing dan batu kerikil jadi genteng dapat berdiri lebih kokoh. Untuk membangun pembatas lahan ini membutuh waktu sekitar 1 - 1,5jam dibantu Bre. 


2. Setelah pembatas lahan siap kita masukan media tanam. Pertama mulai dengan cacahan batang pohon pisang. Lalu dilanjutkan dengan sekam mentah dan media tanam campuran. Lalu yang terakhir adalah tanah pekarangan. 
 
Urutan media: Cacahan batang pohon pisang -> Sekam Mentah -> Media tanam campuran -> Tanah pekarangan

Saat proses ini saya ada yang missed. Dari bapak mertua, untuk tanah pekarangan harusnya disaring dulu karena tanah pekarangan saya bercampur dengan sisa bahan bangunan saat membangun pagar. Hal ini dilakukan agar kerikil dan batu-batu kecil tidak ikut. 


3. Yang terakhir opsional, Raised bed ditutup dengan daun pisang. Saya memakai cara ini mengikuti Mbak Rara di hashtag nya #rarabenhomegarden. Nggak ngerti juga sih tujuannya buat apa, tapi saya berasumsi hal ini untuk proses fermentasi media tanam. Setelah 3 sampai 7 hari, daun pisang dibuang dan Raised bed siap digunakan.


Karena saya masih pemula, maka untuk tanaman pangan yang paling mudah yang pertama saya tanam adalah kangkung dan bayam. Itu pun baru berhasil setelah yang kedua. Proses pembibitan yang pertama gagal karena saya asal sebar benih saja.  Ternyata si benih ini harus ditunclepin ke tanah dengan kedalaman sekitar 2 cm. Dan untuk benih kangkung harus direndam dulu semalaman sebelum ditanam.

Benih Kangkung dan Pokcoy setelah 1-2 minggu

Kangkung setelah 6 minggu

Bayam juga

Regrow Daun Bawang dan Benih Pokcoy

Saya juga menanam Seledri dan Daun Bawang dari biji. Sayangnya keduanya gagal. Selain itu yang tumbuh ada Pokcoy (benih 5 ribuan jadi nggak banyak) dan regrow Daun Bawang sisa masak. Saya titipkan sisa biji Seledri dan Daun Bawang ke Akbar, adik ipar saya untuk ditanam dulu di rockwoll baru nanti dipindah ke tanah. Akbar tangan nya lebih dingin, segala macam dia tanam semua tumbuh. Bayam merah, Sawi, Tomat Ceri, Bawang Merah, Timun, dan lainnya semuanya tumbuh pakai tangan dinginnya. 

Panen kangkung dan bayamnya sedikit dulu. Masih sayang gitu hahaha.
Berubah jadi Pelecing, makanan khas Lombok.
Kangkung dan bayam saya panen pertama kali setelah 6 minggu. Untuk panennya dengan cara menggunting dahan utama sehingga kangkung dan bayam bisa tumbuh lagi. Seru banget panen, kalau kata Bre, panen lumayan bisa ngilangin stres. 

Bukan tanaman Raised bed, tapi ikutan panen :))

Berkebun menurut saya pekerjaan yang melelahkan dan butuh kesabaran. Ibu saya dulu lebih hardcore lagi, nanam singkong, semangka, melon, pare, timun, dan lain-lainnya. Dan saya yang waktu itu masih kecil memang paling suka ikutan panen. Sekarang semua dimulai dari nol, rasanya setelah Kangkung dan Bayam sampai di meja makan, saya terharu sendiri. 

Benih Ubi Cilembu yang rencananya untuk diambil daunnya

Untuk proyek Raised bed berikutnya saya berencana membuatnya menempel ke dinding pagar, sambil menunggu tanaman dinding (dolar rambat) saya tumbuh lumayan tinggi. Benih yang sudah saya siapkan adalah benih Ubi Cilembu yang tanpa sengaja tumbuh di dapur karena kelamaan disimpan. Akhirnya saya pecah jadi sekitar 4-5 pot. 

Seru juga ya. Berkebun mengalihkan kita saat lagi butuh banget piknik karena terpaksa harus di rumah terus. Proses merapikan kebun belakang pun lama-lama mulai berjalan. Lumayan rapi, sekarang sambil hammockan di kebun main laptop bisa sambil nengokin tanaman. Setidaknya, bekerja dari rumah tetap menyenangkan!

No comments

Post a Comment