Bali Surganya Pecinta Pantai

By Niken Andriani - Jun 3, 2022

Judul yang sangat klise. Ya mungkin karena saya mainnya masih kurang jauh. Tapi begitulah yang terlintas di kepala saya saat seharian kemarin berkeliling di daerah Kuta Selatan, Badung, Bali. 

Awalnya akhir pekan ini saya dan Bre berencana untuk main ke Nusa Lembongan, namun kami tunda karena rasanya sayang jika menginap hanya satu malam di sana. Malam itu juga saya buat daftar tujuan pantai selatan Bali menggunakan Google Map. Fitur Saved yang ada di Google Map ini sungguh mempermudah saya untuk membuat rencana perjalanan. Saya tinggal buat beberapa daftar seperti Kuliner Bali, Pantai Bali, Coffee Shop Bali, dan lain sebagainya. 

Sabtu, 28 May 2022

Berhubung rencana perjalanan kami hanya daytrip, barang yang saya packing sederhana saja, yang pasti kami membawa baju renang, underwear untuk ganti dan sabun mandi. Oiya satu lagi yang terpenting, alas piknik atau tikar. Saya bawa flysheet tipis yang cukup lebar untuk rebahan di pantai.

Pantai Green Bowl

Pantai Green Bowl

Kami bergegas meninggalkan kostan kami di daerah Kuta belakang bandara pukul tujuh pagi. Jarak ke Pantai Green Bowl sekitar 17 kilometer yang cukup ditempuh dalam waktu setengah jam jika tidak macet, yang biasanya sering terjadi setelah pukul 9 pagi saat akhir pekan. Saya membawa bekal nasi jinggo yang saya beli di depan gang kostan. Sampai di parkiran Green Bowl, kami disambut banyak monyet dan anjing liar. Saya makan bekal nasi tadi di dalam mobil, menyiapkan tenaga ekstra sebelum menuruni 300 anak tangga (yang kata Dessy cukup melelahkan dan memberi tips untuk packing light). 

Pukul 8 pagi kami mulai berjalanan menuruni anak tangga yang cukup curam. Setelah sampai bawah, ternyata ujung anak tangga sudah tersapu ombak besar. Jalan menuju pesisir lumayan ekstrim karena terjangan ombak laut yang pasang. Bre berhasil turun dan berjalan kaki ke arah cekungan goa sementara saya menunggunya di anak tangga. 

Bibir pantai Green Bowl yang hanya bisa dipandangi selama 15 menit. Setelah itu air pasang.

Setelah setengah jam menikmati terjangan ombak yang menabrak dinding bebatuan, perut saya mulai terasa mulas. Saya langsung berjalan cepat menaiki anak tangga, dengan keringat dingin yang sudah mengucur membasahi baju. Ini adalah pengalaman terburuk saya di tempat wisata. Bukan karena jumlah anak tangga yang katanya sampai ratusan ini, tapi karena gejolak ke toilet. Di tengah jalan rasa-rasanya saya ingin berak di semak-semak. Namun saya nggak bawa tisu basah. Saya mencoba teknik menahan pup dengan cara memencet-mencet jempol tangan. Lumayan berhasil tapi hanya sementara. 

Sampai di toilet saya langsung jongkok, ooooh.. leganya. Tapi ternyata kran kamar mandinya mati. WTF! Untung masih ada air seember kecil. Heuh~

Info: Tiket masuk Pantai Greenbowl 5 ribu per orang, mobil 5 ribu. Tiketnya berlaku satu hari, jadi bisa digunakan lagi di hari yang sama. Seperti kata Dessy, akan ada ibu-ibu pedagang menawarkan kelapa muda yang agak maksa di bawah pantai. Brew sih jajan kelapa muda di warung yang ada di parkiran. Ibunya pun bercerita kalau kelapa muda yang dijual di bawah harganya dibanderol 50 ribu, sedangkan dia jual 15 ribu saja. "Itu ongkos untuk bawa ke bawah bu, lumayan capek turun ke bawah kan. " Bre ikut nimbrung.

Menurut saya Pantai Melasti adalah salah satu pantai komersial di Bali yang fasilitasnya sangat baik.

Pantai Melasti

Pantai ini pantai yang paling cocok untuk renang anak-anak. Makanya sebelum berangkat saya menyiapkan seperangkat alat renang, mulai dari baju, gogle dan masker. Perjalanan menuju pantai Melasti cukup mengasyikan, kami melewati tebing tinggi di sebelah kiri yang langsung menghadap ke laut. Garis pantai Melasti cukup panjang, berbeda dengan pantai Green Bowl yang hanya ada cekungan goa, sehingga kita bisa bebas memilih area untuk menggelar tikar. 


Pertama masuk pantai akan ada banyak berjejer sunbed dengan payung parasol yang disewakan seharga 100 ribu rupiah (dapat 2 sunbed 1 parasol). Sayangnya cukup ramai dan posisi sunbed saling berdempetan. Kami sih sudah bawa tikar ya, jadi tinggal cari tempat yang adem saja, seperti di bawah cekungan tebing batu pantai. 

Nggak lengkap kalau nggak renang main ombak di Pantai Melasti

Setelah santai sejenak menikmati suara ombak, kami langsung ganti baju. Karena sepi, jadi pakai sarung saja, nggak perlu ke kamar ganti. Puas banget kami berenang di sini, sepertinya hampir 3 jam. Beberapa kali matahari tertutup awan jadi tidak terlalu terlalu panas. Tapi paling seru jutsru pas ada matahari, underwaternya sangat jernih dan bening. Saya pakai masker jadi bisa sambil snorkelingan (meskipun nggak ada ikannya).

Garis Pantai Melasti di sebelah barat, di sini tim gelar tiker.
Bagian timur tim gelar sunbed.

Kelar berenang kami mandi dan makan siang di warung yang juga berjejer di dekat pantai. Cukup murah harganya, tidak seperti di tempat wisata pada umumnya. 

Info: Tiket masuk Pantai Melasti 8 ribu per orang, mobil 5 ribu. Toilet gratis (rata-rata di tempat wisata di Bali memang gratis), di sini juga ada tempat ibadah di parkiran bus yang ada di atas. Definitely come back sih ini, buat renang dan main ombak. Sensasi main ombaknya lebih seru dari pada di Snow Bay. Biaya masuknya jauh lebih murah dari pada kolam renang umum. 

Mau ngabisin sore sampe sunset di Pantai Bingin, tapi langit masih biru.

Pantai Bingin

Setelah dari Pantai Melasti kami berencana menghabiskan sore sampai matahari tenggelam di Pantai Bingin. Brew dapat info tentang pantai ini dari Youtube. Bukan pantai yang mainstream, karena mencari jalan masuknya saja cukup membuat kami bingung. Kami ikuti arah petunjuk Google Map, masuk ke kampung, dan mentok tak ada akses mobil lagi. Setelah bertanya ke warga lokal, ternyata kami harus balik lagi, tempat parkir mobil adalah ladang sapi yang jalan masuknya dihalang oleh portal bambu. Ternyata ada penjaga parkirnya.

The way to heaven is hard, isn't it?

Rute menuju pantai cukup seru. Serasa sedang berkelana di Santorini (meskipun belum pernah). Naik turun tangga masuk gang sempit. Kata Brew tangganya masih lebih oke dibanding Pantai Green Bowl, tapi menurut saya lebih tinggi Pantai Bingin sih. Mungkin karena kebelet pup, saya sudah lupa rasanya menaiki tangga di Pantai Green Bowl.

Sepanjang garis Pantai Bingin yang pendek ini berjejer kafe dan restoran

Enaknya di sini karena kebanyakan wisatawan asing, jadi aman dari asap rokok karena kebanyakan dari mereka lebih suka minum. Wong pantai hawanya panas. Garis Pantai Bingin tidak terlalu panjang, sepanjangnya berdiri kafe-kafe dan restoran. Jadi kita gelar tikar, belakangnya ya ada kursi-kursi makan. Tidak tampak pula warung makan murah yang jualan indomie telor rebus. Hal ini membuat kita kurang nyaman. Selain itu sudah tidak ada suara ombak karena air sudah sangat surut. Jadi kami putuskan untuk ke Padang-padang Beach yang jaraknya hanya 1 kilometer dari sini.

Info: Tidak ada biaya masuk ke Pantai Bingin, cukup bayar parkir 10 ribu.

Pantai Padang-padang, sampai sekarang saya nggak ngerti kenapa namanya padang padahal ini di Bali.
Padang artinya terang kalau dalam bahasa jawa. Apakah artinya pantai yang cukup terang?

Pantai Padang-padang

Sepuluh tahun lalu saya pernah mampir ke pantai ini. Gak ada biaya masuknya, karena pantainya di pinggir jalan. Sekarang sudah banyak perubahan. Akses turunnya cukup oke dan terlihat sangat terawat. Eh tapi ternyata di bagian pantainya sama saja, tidak ada yang berubah. Di sini ramai wisatawan lokal dan asing. Jadi ya, siap-siap aja sama bau asap rokok yang tersebar di mana-mana. Heran saya tuh, panas begini apa enaknya sih merokok. Enakan minum es kelapa muda, seger.

Mendung

Akhirnya kami cari spot ke ujung sebelah kanan, tepat sebelum bukit view point. Kami menunggu hingga lewat jam 6 sore, namun matahari ternyata tampak malu tertutup awan mendung. 

Info: Biaya masuk 10 ribu per orang, parkir mobil di sebrang pintu masuk, hanya 2 ribu saja.

Sudah gelap, waktunya mengisi perut sekalian pulang. Jarak antara pantai sebetulnya dekat-dekat paling sekitar 2-3 km. Tapi yang membuat berat adalah akses naik-turun ke bibir pantainya. Cukup membuat semua otot kaki saya kaku karena sudah lama tidak berolahraga. Jadi sebaiknya siapkan fisik dulu sebelum mengekplorasi pantai-pantai di selatan Bali ya.

Minggu, 29 Mei 2022

Hari esoknya, seakan kurang puas main ke pantai, saya mengajak Bre ke daerah selatan lagi. Bedanya dengan kemarin kami berangkat lebih siang. Rencananya mau ke satu pantai saja, lalu menghabiskan siang hingga sorenya ngafe di daerah Sanur. Kami jalan saja tanpa mikir pantai mana yang mau kami tuju. Setelah 20 menit perjalananan, sembari jalan saya browsing di Google Map. Ada namanya Pantai Kubu, pantainya kecil dan kayaknya asik. Setelah saya baca reviewnya, ternyata pantai itu beach club, tidak ada akses bebas masuk yang murah meriah. Saya geser-geser di map, tidak jauh dari Pantai Kubu, ada view laut dari tebing. Let's go!

Pemandangan Pantai Balangan dari tebing

Tebing Pantai Balangan

Tanpa berekspektasi, kami tiba di parkiran mobil yang cukup luas, sepertinya ini ladang sapi saking luasnya dan bau pup sapi di mana-mana. Dari parkiran, ada 2 akses ke Pantai Balangan, yaitu ke pesisir dan ke tebing. Karena sudah capek main di pantai, saya memutuskan untuk duduk-duduk manis saja ke tebing. Dan wow, pemandangannya ajib. Posisi matahari sudah di pukul setengah sebelas siang, tapi langit masih biru merona. 

Pantai Kubu yang terlihat di sebelah barat dari tebing Pantai Balangan

Kata Brew, ke pantai nggak beli ciki rasanya ada yang kurang. 

Ada mas-mas sedang tiduran di hammock di ujung tebing. Saya jadi pengen ikutan pasang hammock juga karena kami bawa juga, sayangnya nggak ada pohon lagi yang bisa dipasangi hammock. Saya jalan-jalan sambil payungan, jeprat-jepret sana-sini. Brew nongkrong sambil makan ciki. Setelah mengitari view point, ternyata jalan ke bawah sedikit ada pura kecil dan tempat mancing. 

Kayaknya lagi mancing lobster.

Info: Tidak ada biaya masuk ke Pantai Balangan, cukup bayar parkir mobil 10 ribu.

Selasa, 31 May 2022

Baru jeda satu hari, kami sudah kepingin ke pantai lagi. Kali ini ingin melihat matahari tenggelam yang benar-benar bulat. Sembari bekerja, saya mengajak Bre nongkrong di kafe dengan tema pinggir sawah. Dapat info dari Wira, namanya Stock Iced Coffee. Kafe ini salah satu kafe yang biarpun temanya di ruang terbuka dan di pinggir sawah, anginnya cukup asik sampai bikin ngantuk. Jadi kami nggak kegerahan. Setelah mendekati waktu Magrib, baru kami bertolak ke Pantai Batu Belig yang lokasi nya hanya 2 kilo meter dari kafe ini.

Matahari bulatnya malu-malu lagi. Mungkin lain kali.

Pantai Batu Belig

Jalan masuk ke pantai ini lumayan kecil tapi masih bisa kok dilalui 2 mobil saling bergantian. Nggak enaknya pantai ini tuh pasirnya sangat halus dan warnanya coklat kehitaman, saking halusnya yang nempel di telapak kaki ga bisa dibersihin kecuali diguyur pakai air. 

Lihat sunset nggak lengkap kalau nggak lihat orang pacaran.

Garis pantainya sangat panjang, jadi ga heran kalau tiba-tiba ada yang lagi jogging nyeker. Kita bebas menggelar tikar di mana saja. Nggak cuma anak-anak saja yang ramai, anjing juga lari-larian. Oiya kalau takut anjing kita nggak perlu kabur. Cukup di hush aja juga dia pergi. 

Info: Tidak ada biaya masuk ke Pantai Batu Belig, cukup bayar parkir mobil 5 ribu. Meskipun ramai, area parkirnya sangat luas jadi nggak akan khawatir gak kebagian tempat.

Cie yang Work From Balinya udah lengkap nih kerja sambil bermandikan sunset.

"Pantai-pantai di Bali nih bisa segala nya memenuhi hasrat pecinta pantai. Dari yang sekadar suka leyeh-leyeh, berjemur, berenang sambil main ombak, main kayak, surfing, sampai paragliding. Semuanya ada dan mudah diakses. " Gumam saya sembari mikir, tinggal di Bali kayaknya asik. Proyek 100 pantai yang sudah saya kerjakan sejak satu dekade lalu pasti bisa cepat kelar. 

No comments

Post a Comment