Setelah banyak sekali rencana untuk mengeksplor pulau sebelah, mulai dari roadtrip sampe nekad traveling berdua sama temen cewe. Saya dan Desi yang memang belum pernah sekalipun traveling bareng, kenalpun karena tahun pertama kuliah pernah satu asrama, mutusin buat gabung sama Backpacker Indonesia, mengingat budget kami terbatas banget kalau cuma berdua. Kami juga nggak mau ikut-ikutan travel agent yang nantinya bakal ngurangin kepuasan liburan kami. Dan memang pas banget saat saya lagi browsing, nemu deh satu forum yang ngadain trip ke Kiluan. Akhirnya rencana ke negeri Andalas yang udah dicoret-coret di dinding kamar dari tahun kemarin terwujud juga di tahun 2012 ini. Meski hanya bisa ngeksplor satu propinsi saja, Lampung.
Kami satu rombongan ber-tiga belas sampai di kota Bandar Lampung pukul 10 pagi (17/5) setelah sarapan pagi di pasar. Dengan menyewa angkot dari pelabuhan Bakaheuni, setelah nego sana-sini, kami menuju Pulau Kiluan yang terletak di di sebelah barat daya Lampung. Yah namanya angkot, selain surat-suratnya mati, gayanya juga ikutan ndut-ndutan di jalan. Bang Dolly, supir angkot, pun memaksa menggunakan angkot kuning itu, hingga sekali kena tilang. Mungkin penderitaan menggunakan angkot belum sampai disitu, kami disuguhi dulu pantai Klara yang berpasir putih di tengah perjalanan.
![]() |
Pantai Klara |
Pantai Klara mungkin seperti pantai Ancol di Jakarta yang menjadi kunjungan weekend warga kota Lampung. Selain banyak pondok-pondokan kecil di pinggir pantai, banyak ban-ban sewaan buat berenang. Rasanya mungkin nggak traveler banget kali ya, masa mau nyebur bareng anak-anak kecil yang pastinya banyak pipis sembarangan di pinggir pantai, hehehe.. Urung nyebur, kami foto-foto, at least meninggalkan jejak kaki dan mengambil gambar disana. I WAS THERE, Pantai Klara.
Perjalanan kami dilanjutkan langsung menuju Kiluan. Dari sinilah kami mulai merasakan goyangan hebat si angkot karena kondisi jalan ke Kiluan memang sangat tidak mulus. Ditambah dengan sound system yang dahsyat, perjalanan kami semakin seru saja. Apalagi saat salah seorang teman saya akhirnya nggak kuat dan muntah di jalan. Dari situ bang Dolly bercerita sambil jujur-jujuran sama saya, yang ketika itu duduk di depan berdua sama Desi. Dia baru pertama kali ke Kiluan lho *nyaks! pengen banting pintu rasanya, pantas aja sebelumnya dia beberapa kali nanya orang di jalan. Terus, dia juga nekad, dia tau kondisi jalan bakalan jelek, tapi tetep juga dipaksain jalan. Kalau feeling saya sih, buat buka jalur aja buat angkot-angkot lain. Meski sudah biasa dengan goyangan ELF, tapi goyangan angkot ini beda. Yasudahlah, semua penderitaan itupun terbayar saat kami sampai di Pulau Kelapa, tempat kami nantinya dua malam menginap. Aheey.. lauut..!
![]() |
Menepi di pulau Kelapa |
Saat tiba hari sudah mulai senja, saya pun hanya duduk-duduk saja sambil menunggu matahari tenggelam yang ternyata tertutup awan. Kami menginap di panggung pondokan milik pak Dirham. Oya, saya dengar cerita kalau ternyata pulau Kelapa itu milik si kakek yang juga tinggal di kamar paling pojok yang masih satu pondokan dengan kami.
Esok pagi kami bangun dini hari demi bisa melihat dolphin menari di samudera. Setelah lama menunggu, saya pun dapat giliran paling terakhit pukul setengah delapan pagi. Berharap tak berharap, melihat lumba-lumba saat hari mulai terik mungkin sia-sia saja.
![]() |
Sunrise yang kurang kece |
![]() |
Stres nunggu jukung nggak dateng-dateng |
![]() |
Team yang nggak dapet liat lumba-lumba |
Setelah lebih dari satu jam menuju laut lepas, saya yang satu jukung bersama mbak Sharie dan Mamet, akhirnya menjumpai lumba-lumba yang menari. Karena tak henti-henti merekam, saya pun hanya memperoleh satu gambar yang agak kece. Paling nggak bisa ngebuktiin kalo gue beneran ngeliat lumba-lumba loncat di laut lepas.
![]() |
"Sebenernya, aku nari lho bukan loncat." Kata dolphino. |
Setelah mencoba merayu-rayu Bang Emet, nelayan yang membawa jukung yang kami tumpangi, kami pun diberi waktu tambahan untuk melihat dolphino-dolphino lain. Kami bisa melihat lumba-lumba yang berukuran sangat besar yang berenang tepat sekali di bawah jukung.
![]() |
Bang Emet, yang ternyata adalah orang asli Jawa ini sudah 5 tahun melaut di Lampung |
Kami kembali ke pulau Kelapa pukul 9 pagi (18/5). Sarapan pagi dengan lauk yang sama setiap kali makan, ikan tenggiri *menurut saya lebih mirip ikan tongkol kecil. Kemudian bersama dengan Dede, seorang bocah lelaki asli Lampung, kami ditemani untuk mengelilingi pulau Kelapa sekaligus mencari lokasi snorkeling yang bagus yang katanya di laguna. Kami pun sudah siap dengan gear masing-masing, swimming suit, life jacket, dan google. Setengah pulau sudah kami lalui, di bawah terik matahari kami tetap dengan pedenya pake snorkeling set. Pertanyaan kami yang terus saja berulang, "Ini dimana sih lagunanya?" "Itu depan lagi." Jawab Dede. Sebuah batu besar dijumpai, lalu tanpa ancang-ancang teman-teman satu rombongan saya pun memanjat dan tentunya, hobi orang Indonesia yang suka narsis, berfoto-foto sampe kehabisan gaya.
![]() |
Laskar Kiluan |
Itulah pertanyaan kami yang selalu berulang menghujam si Dede. Nggak mungkin di laguna itu kan, sambil menunjuk bebatuan yang dikelilingi air laut dengan ombak besar. Si Dede cuma mesam-mesem. Setelah puas foto-foto sama batu dengan latar belakang laut, kami melanjutkan perjalanan di tengah hari bolong sambil tetap memakai life jacket dan menenteng google. Saya, fithra, dan Roy yang sampai duluan di tepi pantai sebelah timur, diajak Dede untuk snorkeling di lokasi yang ia tunjuk. Ealah de, de.. kalau tau tempatnya di sini kan kita ga usah bawa-bawa snorkel set gini, lucu banget ye jalan-jalan muterin pulau pake life jacket. Tawa pun pecah dan si Dede pun memberikan pernyataannya. "Kan saya tadi udah bilang, nggak usah bawa snorkel set nya karena kita cuma ke laguna. tapi pada ngotot sih." Yaah, miskomunikasi. Kami kira mau snorkeling di laguna. Hahahaa..
![]() |
"Iki wong kuto ko koyok wong ndeso.. katro!" Kata Dede mungkin dalam hati |
Saya pun langsung nyebur, menuju lokasi yang ditunjuk Dede sebagai lokasi snorkeling yang paling bagus. Cantik memang, namun ombaknya yang lumayan besar membuat saya urung untuk berenang semakin menjauhi tepi pantai. Beberapa diantara kami ada juga yang tak berhasil menuju lokasi ini, karena ombak sehingga sulit untuk melawan arus.
Mana makhluk laut yang paling kece?
Esoknya seusai menunggu satu tim yang nggak kebagian buat liat lumba-lumbadi hari kemarin, kami diajak ke pulau sebelah, *lupa nama pulaunya.
![]() |
Pulau di sebelah kanan itu pulau kelapa |
Siang harinya kami bertolak untuk kembali ke Bandar Lampung. Sebelum pamit kami berfoto bersama Pak Dirham. Dengan latar langit yang lebih biru.. Ahh rasanya nggak mau pulang!
Setelah menyebrangi laut, kami tidak langsung beranjak menuju kota Bandar lampung. Wisata bahari di Lampung masih kurang lengkap rasanya kalau belum ke pantai pasir putih, yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan kecil kami ke Kiluan. Sekitar 400 meter. Untuk menuju kesana kita diharuskan untuk berjalan kaki kurang lebih sepanjang 1 kilometer naik turun, karena akses menuju kesana harus melewati kebun warga. Saat sampai disana, kami menjumpai banyak sekali sampah, dan satu lagi benda yang saya perkirakan digunakan sebagai upacara adat.
Pantai Pasir Putih
Saat perjalanan kembali ke kota Bandar Lampung, ada lagi insiden "ngambegh" si supir, yang berujung jadi ngambeg2an antara kami dan si supir. Bang Dolly mungkin kecapean nungguin kami, dengan upah yang tidak besar, knalpot angkotnya yang rusak terantuk batu, dan jalanan yang hancur, membuat ia ugal-ugalan mengendarai si angkot. Hingga membuat kami mabok. Sampai di kota, ia pun tidak mau mengantar kami ke toko oleh-oleh karena surat-suratnya mati. Kami pun terpaksa jadi turis kota semalam, melenggangkan kaki di pinggiran toko kaki lima, lalu berakhir di Baso Sony. Kenyang makan baso, kami langsung bertolak ke Pelabuhan Bakaheuni. Ah Lampung.. Sampai jumpa lagi!
![]() |
Lanskap laguna pulau Kelapa |
Thanks UWEE, it's such a wonderfull journey.. !
saya menulis ini ditengah lautan manusia. untuk pertama kali saya tulis menggunakan telepon selular. bukan seperti biasanya, disaat yang tenang dan cozy sambil menyeruput kopi.
satu jam yang lalu, saat matahari mulai meninggalkan horizon bumi saya keluar dari tempat nyaman saya di depan meja kantor. sambil membawa ransel dan menplug ipod ksayangan saya sebagai teman jalan. saya memang suka jalan kaki. karenanya kendaraaan roda dua yang saya bawa saya tinggalkan di halte paling dekat rumah saya. kemudian saya naik transjakarta, lalu di lanjutkan dengan jalan kaki ke kantor kira kira 10 menit.
bercerita tentang bagaimana saya tibatiba ingin menulis adalah karena luapan setelah hampir sebulan meniti karir di ibu kota. bukan luapan kekesalan atau kekecewaan tentang pekerjaan, atau tentang buruk dan semrawutnya negeri ini. tapi tentang bagaimana saya melewatinya.
saya sudah belajar merasakan ketidaknyamanan ketika traveling ke kota-kota lain. saya belajar bagaimana menahan diri untuk tidak marah saat saya terdesak. saya belajar untuk mensyukuri setiap keadaan meski saya sulit bernafas ditengah kerumunan orang.
saya suka pekerjaan saya, karenanya saya tak akan mengeluh tentangnya, sjdkpaya jgzka suka jakarta, karenanya saya takkan menyalahkan jakarta dengan segala keruwetannya.
saya suka pekerjaan saya, karenanya saya takkan mengeluh tentangnya. saya juga suka jakarta, karenanya saya takkan menyalahkan jakarta dengan segala keruwetannya. aah... paling tidak saya sudah berbuat sesuatu untuk kota ini, dengan tidak menambah macet jalanan kota, dengan berpeluh sesak merasakan macet di dalam halte busway. tak apalah, hari ini saya belajar, bahwa saya harus keluar kantor sebelum pukul setengah 6 sore!
banyak yang bertanya, kenapa saya mau merasakan lelahnya bekerja di jakarta. tentu bukan karena materi, toh imbalan saya bekerja juga tak sberapa. memang butuh perjuangan untuk bertahan hidup di kota yang tak pernah tidur ini. tapi saya menikmatinya. seberapapun lelahnya, semua rasa penat itu akan hilang saat saya pulang ke rumah, saat saya mencium tangan ibu saya lalu mendengarkannya bercerita, atau saat adik-adik saya mulai jahil mengganggu saya saat telat makan malam. ah iya saya belum makan, akhirnya tulisan ini berakhir saat saya sudah di rumah!
bercerita tentang bagaimana saya tibatiba ingin menulis adalah karena luapan setelah hampir sebulan meniti karir di ibu kota. bukan luapan kekesalan atau kekecewaan tentang pekerjaan, atau tentang buruk dan semrawutnya negeri ini. tapi tentang bagaimana saya melewatinya.
saya sudah belajar merasakan ketidaknyamanan ketika traveling ke kota-kota lain. saya belajar bagaimana menahan diri untuk tidak marah saat saya terdesak. saya belajar untuk mensyukuri setiap keadaan meski saya sulit bernafas ditengah kerumunan orang.
saya suka pekerjaan saya, karenanya saya tak akan mengeluh tentangnya, sjdkpaya jgzka suka jakarta, karenanya saya takkan menyalahkan jakarta dengan segala keruwetannya.
saya suka pekerjaan saya, karenanya saya takkan mengeluh tentangnya. saya juga suka jakarta, karenanya saya takkan menyalahkan jakarta dengan segala keruwetannya. aah... paling tidak saya sudah berbuat sesuatu untuk kota ini, dengan tidak menambah macet jalanan kota, dengan berpeluh sesak merasakan macet di dalam halte busway. tak apalah, hari ini saya belajar, bahwa saya harus keluar kantor sebelum pukul setengah 6 sore!
banyak yang bertanya, kenapa saya mau merasakan lelahnya bekerja di jakarta. tentu bukan karena materi, toh imbalan saya bekerja juga tak sberapa. memang butuh perjuangan untuk bertahan hidup di kota yang tak pernah tidur ini. tapi saya menikmatinya. seberapapun lelahnya, semua rasa penat itu akan hilang saat saya pulang ke rumah, saat saya mencium tangan ibu saya lalu mendengarkannya bercerita, atau saat adik-adik saya mulai jahil mengganggu saya saat telat makan malam. ah iya saya belum makan, akhirnya tulisan ini berakhir saat saya sudah di rumah!
I'm dreamin' about you.
We are together reaching our dreams..
Make a story for tomorrow
Till we get old, looking at the pictures book
Looking at photos in everywhere we take together
Hope someday we can meet,
at the mountain? at the seashore?
or just at the street where we walk together.
I walked across an empty land
I knew the pathway like the back of my hand
I felt the earth beneath my feet
Sat by the river and it made me complete
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin
Is this the place we used to love?
Is this the place that I've been dreaming of?
So why don't we go somewhere only we know
We are together reaching our dreams..
Make a story for tomorrow
Till we get old, looking at the pictures book
Looking at photos in everywhere we take together
Hope someday we can meet,
at the mountain? at the seashore?
or just at the street where we walk together.
I walked across an empty land
I knew the pathway like the back of my hand
I felt the earth beneath my feet
Sat by the river and it made me complete
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin
Is this the place we used to love?
Is this the place that I've been dreaming of?
So why don't we go somewhere only we know
(Keane - Somewhere Only We Know)
Kami berkumpul di terminal Kampung Rambutan sejak jam 8 malam (16/5). Menunggu untuk bertemu dengan teman-teman seperjalanan kemudian berangkat menuju Merak pada tengah malam. Saya bersama dengan 12 orang lainnya yang baru saja saya kenal melalui komunitas Backpacker Indonesia, melakukan perjalanan ke tanah sebrang, ke Lampung, Sumatera. Itinerary dan budget yang sudah lengkap yang dibuat oleh mbak Sharie, menjadi bekal kami untuk mengeksplor Lampung.
Setelah tiga jam berdempet-dempetan di dalam bus, kami tiba di pelabuhan Merak. Pemandangan di pelabuhan ini sangat berbeda dengan yang sering saya lihat di televisi saat musim mudik tiba, tentu lebih rapi dan bersih. Kami beli tiket ekonomi kemudian di upgrade lima ribu rupiah untuk dapat tambahan fasilitas AC. Menjelang pagi, matahari mulai menampakan wajahnya, membuat teluk Sumatera terlihat jelas. Kapal feri berlabuh, kami tiba di pelabuhan Bakaheuni. Ini lah kali pertama saya menapakkan kaki saya di tanah Andalas. Welcome, Sumatera!
Dengan menyewa angkot setelah dua kali bernegosiasi, kami menuju Bandar Lampung. Menurut saya, tak ada yang nampak berbeda dari tanah Lampung ini dengan tanah Jawa. Banyak bangunan, jalan raya, debu, orang-orang yang bahasanya saya kenali (*bahasa jawa dan nasional), becak, dan tukang bakso! Mungkin yang saya lihat agak berbeda adalah angkot yang kami sewa, meski fisiknya tidak dimodif seperti yang ada di Padang, atau kota lain di Sumatera, angkot kami ini punya soundsystem yang mantep. Lumayan untuk mengisi kebosanan kami di jalan, karena angkot ini jalannya sangat lambat sampai kami jadi akrab meski ada beberapa diantara kami yang belum kenal. Saya pun jadi ikutan akrab sama Bang Doli, pak Supir *karena duduk di sebelahnya, hehe.