Seperti kerinduan akan senja yang tak pernah sama,
Jogja selalu membuatku rindu. (26 Mei 2013)


Halo! Temu kembali di turnamen foto perjalanan yang kali ini udah masuk ronde 22! dan saya menjadi tumbal (eh tuan rumah) untuk ronde ini. Awalnya sempat bingung, sejak ronde 5 mulai gak ngikutin lagi karena sibuk aktivitas di kantor dan tentunya traveling sendiri hingga mulai jarang up-to-date. Sekalinya mulai nguplod eh kepilih, thanks @pergidulu yg memilih foto seorang bapak yang sedang berangkat kerja ini buat jadi pemenang di tema jalanan. Jadi hampir seminggu saya ngilang dulu buat semedi di Goa nyari tema yang asik buat ronde 22 ini. Ada beberapa tema yang sempat jadi masukan, dari tentang strangers, self potrait dan ray of lights. Namun akhirnya saya memutuskan satu tema yang semoga selalu menjadi teman setia perjalanan kita, yang selalu dipuja kehadirannya, Matahari!



Mentari, matahari, sang surya. Ia sumber energi, penerang jalan, dan penunjuk bahwa hari masih ada. Ia memiliki banyak cerita di setiap kehadirannya. Menerangi tiap langkah yang kau jalani. Ia pun tidak hanya melulu tentang sunrise dan sunset. Ia berjaga bergantian dengan malam. Menunjukkan adanya kehidupan. 

Bagi para pejalan, matahari selalu menjadi idola. Lihat saja, jika langit mulai gelap, matahari bersembunyi, mungkin pertanda akan turun hujan, sebagian dari kita pasti jadi malas keluar. Padahal keluar dari rumah, adalah langkah awal dari perjalanan yang akan kita lalui. Para pemuja senja dan fajar selalu menanti waktu dengan sabar demi bertemu dengannya. Para travel fotografer selalu menyebut-nyebut matahari sebagai model tercantik yang ada di dunia. Para pendaki gunung, rela mendaki berkejaran dengan waktu demi bisa menikmati semburat cahaya pagi dari puncak. 


Setiap pejalan pasti memiliki interpretasi yang berbeda tentang matahari. Mungkin seperti mengejar cita-cita, menemani setiap langkah, dan melihat dunia. Jadi, mari berbagi ceritamu dengan matahari yang ada di setiap perjalananmu!


A misty morning at Pangalengan, Bandung. 
Berjumpa sang surya yang baru terbangun. 
Meniti jalan, melangkahkan kaki demi sesuap nasi. 

Jalan berkabut di pagi, menjadi teman setia memulai hari.

Pangalengan, Bandung 11 Februari 2012

Karena terlalu senang main air.. sampai sok-sok an nyelem pake masker. Padahal niatnya mau berburu foto di sana. Akhirnya cuma ini yang bisa ngegambarin kalau air terjun Cigamea yang terletak di Gunung Bunder, Bogor ini patut dikunjungi. Setidaknya ini tempat terdekat dari Jakarta untuk melepas penat. Daripada menghabiskan uang belanja ke mall atau ngopi ke cafe, nyebur di sini bisa buat fresh lagi! Modal naek commuter line sampai stasiun Bogor, dilanjut dengan sewa angkot patungan ber-sepuluh. Perjalanan one-day trip bareng teman-teman kantor dan pacar kecilku si Ibas ini, cukup menyenangkan dan bikin kita ketagihan untuk bikin trip-trip gembel selanjutnya di sela-sela weekend yang selow!

Curug Cigamea dari jalur trekking


Saya menyusur sungai agak kebawah, karena di atas sudah terlalu ramai

Adeeem..

Serius, monyet-monyet di sini nggak kalah galak sama monyet-monyet di Uluwatu.
Watch out your snacks!

Don't do duck diving there!

Ujung sungai dari aliran Curug Cigamea yang menjadi batas untuk dilalui. Bening men!

Someday he'll be a real adventurer.
(Mengikuti jejak sang kakak)

Anak lelaki ini datang tergesa-gesa menghampiriku dengan keringat yang mengucur dari dahinya. Ia menggenggam dua batang eskrim yang sudah mulai meleleh. Ia berikan satu batang eskrim itu untukku tanpa aku minta sambil tersenyum. Dan bibirku pun langsung mendarat di pipi kanannya. 

Sambil menemaniku merebus mie di dapur, dia bercerita sambil menjilat-jilat eskrim yang mulai membuat tangannya belepotan. "Kalo hukum Islam itu harusnya setimpal kan? Kalo ngebunuh ya harus dibunuh kan?" Wah anak seumur gini kok nanyanya berat banget. "Temen aku, si Ali, dia dikata-katain sama si Andi kalo dia kayak monyet. Eh terus si Ali mukul si Andi. Harusnya kalo dalam Islam si Ali ngatain balik dong, jangan mukul."

Sambil mengusap-usap kepalanya aku mencoba memberinya penjelasan. "Kalau hukum Islam memang harus setimpal, tapi itu gak berlaku di Indonesia. Kalau temen kamu dikatain kayak gitu ya sabar aja. Gak harus dibales kan. Nanti dosanya si Ali berkurang lho. Kalau sama-sama mukul nanti sama-sama sakit kan ga enak." Aku mencoba membuatnya paham sambil sesekali nyengir. Ia pun mencoba memahami perkataanku. "Berarti kalo aku dikatain orang atau dijahatin orang aku aminin aja yah. Nanti dosa aku berkurang." Aku pun mengangguk dan memberi senyuman tanda aku mendukung perkataannya. 

Di situ aku terhelak. Jujur saja seharian ini aku kesal. Aku marah. Aku ingin balas dendam ke orang yang hari ini melukai hatiku. Aku pun sempat kepikiran hal yang tidak-tidak. Aku tidak rela, aku juga ingin membuat dia terluka setidaknya sama seperti apa yang aku rasakan. Tapi perkataanku ke anak lelaki tadi membuatku tersadar. Aku malu. Dalam hati "Sudah ken, bersabarlah. Lupakan saja dan bersyukurlah saat ini kau masih bisa berkumpul dan tertawa lepas bersama dengan orang-orang yang kau kasihi." 

Kemudian kami makan mie rebus di mangkuk yang sama berdua. Sesekali aku menjitak ringan kepalanya. Ibas, adik lelaki ku yang paling kecil ini, yang usianya saja belum genap sepuluh tahun menyadarkanku, betapa pun sakitnya kita dilukai oleh orang lain, bersabar saja dan berbahagialah. Tunggu saja, karena Tuhan selalu punya rencana indah yang kita tidak pernah tahu. 

Love you, 
My little angel


Pose ala pangeran tuksedo bertopeng nya Sailormoon




Masih tentang cerita petualangan saya di Flores Barat, November 2012 kemarin. Setelah sampai Labuan Bajo, maka petualangan saya berlayar dari Lombok sampai Flores pun berakhir saat senja nampak di balik kapal besar yang sedang berlabuh. Dari kapal, saya terburu langsung menuju dermaga demi mengejar sunset dari atas bukit. Namun, senja pun pergi meninggalkan langit, menyisakan kegelapan yang malam itu membuat saya sedikit kecewa. Kenapa kecewa? Karena saya tidak akan lama berada di Labuan Bajo, hanya satu hari (jadwal penerbangan siang hari yang enggak enak banget!), dan yang nggak akan memungkinkan saya bertemu senja lagi di sini.


Setelah malam hari dihabiskan dengan farewell party bersama teman-teman seperjalanan selama empat hari di laut, saya kembali ke penginapan pada tengah malam dengan kondisi badan yang kelelahan. Ojek yang tadinya saya mau sewa untuk antar jemput ke bukit untuk melihat matahari terbit pun saya batalkan. Dan benar, esok paginya saya terbangun memang agak kesiangan, ditambah dengan incident "amukan kamar mandi" membuat saya   malas keluar pagi-pagi. Tetapi, teman saya Tata, yang baru saya kenal dekat di hari terakhir sailing trip, mencoba menenangkan saya dan mengajak saya jalan-jalan keluar berdua. Lalu kami berdua menyewa motor dan langsung ciao menuju Pasar Labuan Bajo untuk hunting kopi Flores. 

Tata, perempuan kalem dan ramah ini selalu membuat saya terhibur.
Terima kasih, Ta :)

Ternyata untuk menuju pasar pun lokasinya tidak begitu jauh, kita bisa menggunakan jasa ojek yang hanya mengeluarkan kocek lima ribu rupiah saja. Ternyata di pasar, lebih banyak ditemukan penjual kopi Flores yang mentahan. Untuk bisa memperoleh kopi yang fresh kita harus memesan minimal sehari sebelumnya, atau dengan membeli satu merk kopi yang banyak dijual di toko-toko. Dari pasar, kami berdua pun langsung bergegas menuju Goa Batu Cermin dengan modal bertanya dengan orang-orang yang kami temui di jalan. Dan memang ternyata lokasinya pun tidak begitu jauh.  

Pak Roni, guide yang menemani kami menyusuri goa.
Saya tak akan banyak bercerita tentang Goa batu cermin, jadi saya lampirkan saja foto-foto yang bisa saya ambil dengan bantuan lampu senter ini, karena memang di beberapa spot berzona gelap abadi. 




Fosil penyu

Dari foto-foto diatas pun kita bisa melihat bahwa Goa batu cermin adalah sisa peninggalan yang memberi bukti bahwa dulu labuan bajo masih bagian dari laut. Terlihat dari adanya fosil penyu, fosil ikan (foto bersama Tata) dan beberapa batuan stalakmit/ stalagtit yang mirip dengan biota laut. Saya pun sempat diantar Pak Roni ke lokasi yang bisa memunculkan cahaya Tuhan sama seperti ray of light yang ada di Goa Jomblang. Namun dia bilang, hal tersebut sangat jarang sekali muncul. Dia sendiri yang sudah empat tahun jadi guide disana belum pernah bertemu. 

Salah satu batuan yang memunculkan kristal.


Goa batu cermin ini tidak seperti goa-goa lain, di mana kita harus melangkahkan kaki menuju kebawah sehingga posisi kita berada di bawah tanah. Beberapa kali kita harus menaiki anak tangga untuk menyusuri goa ini. Setelah sekitar 2 jam menyusuri goa ini, saya pun pamit dengan rekan-rekan petugas di Goa batu cermin yang membuat saya betah ngobrol di sana. Karena jadwal yang mepet saya, diantar Tata menuju penginapan untuk segera bergegas ke Bandara. Sampai jumpa lagi Labuan Bajo! Ah saya yakin, suatu saat saya pasti mampir ke sini lagi. Mungkin janji untuk minum kopi dengan teman lama yang belum sempat terlaksana. 


Some people asked me why did I never bored having a vacation to Kepulauan Seribu?
In one month I could go there for three times. Hehehe..
It's just because the destination isn't my goal.
"Our togetherness, laugh and make new friends are."
Pulau Kayu Angin Melintang. Kep Seribu, DKI Jakarta |  13-14 April 2013

Maaf ya ganteng, gak fokus. Motret kamu bikin deg-deg an.
Setelah tiga hari terombang-ambing di laut, lalu pagi, siang dan sore nyemplung, saatnya berwisata safari. Horee..! Kalau anak-anak akan riang diajak bermain ke kebun binatang Ragunan, maka kami para young traveler memilih kebun binatang yang lebih eksotis dari kebun binatang di mana pun. Karena kami akan berjumpa dan bercengkerama dengan naga terakhir di bumi, Komodo. 


Pulau Komodo dan Pulau Rinca adalah salah satu destinasi utama di Flores Barat. Setelah menikmati matahari terbit di hari ke empat sailing trip (18/11/2012), kami sarapan pagi bersama di atas kapal dengan menu pancake sederhana dengan selai nanas dan stroberi. Setelahnya, pelayaran dilanjutkan ke Pulau Komodo. Kami pun sempat melihat dari kejauhan desa di Pulau Komodo yang terletak di tepi pantai. 


Desa di Pulau Komodo yang bermayoritas Islam.
Dermaga di P. Komodo yang baru setengah jadi
Pulau Komodo, dikenal juga sebagai Loh Liang atau tempat pusat wisata dimana para wisatawan dapat melihat langsung satwa reptil terbesar di Pulau Komodo. Beberapa saat lalu di tahun 2011-2012 sempat terjadi gempar tentang new seven wonders untuk satwa ini yang saya sendiri tidak terlalu ambil pusing. Mungkin setelah kejadian itu, ada baiknya karena beberapa tahun terakhir, pulau ini mengalami perkembangan yang maju. Ya tentu harus bagus dong! Karena wisatawan dari seluruh dunia akan datang kemari melihat satwa naga terakhir di bumi yang satu-satunya hanya ada di negara kita ini. Tetapi dibalik itu ada "gerutu" dari beberapa teman saya tentang biaya masuk untuk Kamera DSLR dan pocket kamera sebesar lima puluh ribu rupiah. Hahaha.. 

50 ribu buat foto di sini! Cincay, berpikir positif aja lah buat kemajuan taman nasional ini :)
Kalau nggak mau bayar yaudah motret pake kamera ponsel saja.


Medium Trek, salah satu jalur trekking yang kita pilih. Kami ditemani Alvin, sang Ranger yang bahasa Inggrisnya jago uy! Beberapa kali kami melihat si Ganteng ini berkeliaran. Namun, semakin kamu mendaki justru tak satupun si Ganteng ini menampakkan wajahnya. Pendakian kami pun terhenti sebentar di Sulfurea Hills. Lanskap laut flores terlihat dari atas sana.

Yeah Tom, we didn't take a bath for 4 days yet!
Setelah turun dari Sulfurea Hills, kamu justru menjumpai banyak Komodo yang sedang berleyeh-leyeh di bawah rumah panggung yang kata Alvin adalah dapur. Kami pun berkumpul mengelilinginya, sambil menahan bau menyengat yang katanya bau kotoran Komodo. Saya pun sempat mendekati si Ganteng untuk merekam kedip matanya. Baru dua langkah maju, si Ganteng ini tiba-tiba menoleh ke saya dan... Hup! semuanya kaget lalu saya mundur dengan sigap. Fyuuh. my life shorten by 10 years..

Ngadem ya bang?
Terdapat sebuah cafe kecil di pulau ini yang dirancang untuk para wisatawan yang setelah lelah trekking dapat menikmati minuman dingin yang dijual. Sebenarnya jalur trekking medium tidak begitu panjang. Namun, panasnya matahari dan jarang sekali adanya pohon berwarna hijau membuat saya gerah dan ingin sekali meneguk teh botol dingin. Selain itu, ada beberapa penginapan yang berbentuk rumah panggung (tentu dibuat begitu biar si komodo nya ga sembarangan bisa masuk) yang bisa kita sewa jika ingin mengadakan penelitian di taman nasional ini. Sebelum meninggalkan pulau ini, jalur keluar menuju dermaga pun dirancang sehingga ada pasar kecil yang menjual souvenir si Ganteng.

Dari pulau Komodo, kami langsung ciao ke Pulau Rinca atau Loh Buaya. Tidak terlalu jauh dari Loh Liang. Kata Bang Adi, guide kami, Komodo di Loh Buaya jumlahnya lebih banyak di banding yang ada di Loh Liang. Hoho, apakah lebih ganteng? Kayaknya sama aja sih. Sama-sama menakutkan, takut di caplok tiba-tiba. 

Siap-siap buat trekking lagi. (12 pm. Panasnya gilaa!)
Saya, di sebelah kiri.
Kami memilih jalur medium lagi, karena tak mau berlama-lama dan ingin segera nyebur lagi ke Pantai Merah (-lagi, karena kemarin tak puas berenang di sana). Entah faktor beruntung atau tidak, justru di Loh Buaya kami tidak menjumpai banyak komodo. Dari ranger (saya lupa namanya), kami mendapat cerita neneknya beberapa bulan lalu pernah digigit komodo. Cerita lengkapnya saya lupa lagi, sudah hampir 6 bulan lalu sih, nyesel kan ngga langsung ditulis. Intinya sih dari perjalanan wisata safari demi ketemu si Ganteng ini membuat saya jadi benar-benar keling (hitam legam) dan bangga kalau udah ketemu Komodo. Hmm.. Kapan lagi? Keburu punah kan?

I couldn't be closer anymore!

Tak penting kemana kita menuju.
Tapi apa yang kita ceritakan di tua nanti.