Amusement Park. Taman bermain atau taman ria adalah salah satu favorit destinasi saya.
Tapi tidak untuk wahana yang satu ini.


BNS. Singkatnya begitu, dari tahun 2009 waktu pertama kali solo traveling ke Malang, muncul keinginan menggebu buat main ke BNS. Yang akhirnya baru kesampean enam tahun kemudian. Waktu itu sih mikirnya tempat ini kayak taman-taman lampion gitu. Tapi ternyata BNS itu tempat wahana bermain mirip BCL (Bandung Carnival Land) yang hanya buka mulai dari sore hari hingga tengah malam. 

Jam menunjukan pukul 4 sore, di warung bakso bakar Pahlawan, mangkuk kedua, sambil kepedesan, saya iseng mengajak Brew ke BNS (baru inget dulu pengen banget ke sini). Toh hari itu malam terakhir di Malang jadi kami memutuskan ngga pergi ke tempat-tempat yang ekstrim kayak bromo dan sekalian ngobatin paralayang yang gagal. Lokasi menuju BNS sangatlah mudah di capai, karena berlokasi tidak jauh dari Jatim Park. Di tengah jalan kami juga sempat berhenti, sekedar menikmati udara sejuk dan pematang sawah dibawah langit yang mulai senja.


Jadi teringat buku gambar SD


Sampai di BNS, kami langsung menuju loket tiket. Untuk masuk saja kita dikenakan biaya 25 ribu rupiah (weekend). Jika kita hanya membayar tiket masuk, maka untuk setiap wahana kita diharuskan membayar tiket lagi per wahana, rata-rata per wahana adalah 10-15 ribu rupiah. Jadi kita diberi opsi lain dengan membeli tiket terusan sebesar 90 ribu rupiah untuk semua wahana kecuali Go Kart, The Battle Area dan Banji Trampolin. Tentu saja kami beli tiket terusan, karena rempong kalau harus buka-buka dompet setiap mau masuk wahana. 

Disana kami lupa, kami kembali menjadi anak-anak. Berlari-lari ke sana kemari layaknya pasangan muda yang jatuh cinta. Halah.. Kami mulai dengan wahana Kora-kora kalau di Dufan mereka bilang. Disco Bumper Car, dimana kami main bom bom car diiringi musik dangdut pantura. Lucu nya dari semua wahana kebanyakan kami cuma naik berdua saja, jadi waktu teriak-teriak itu aneh karena cuma saya saja yang teriak.


Ghost Stories

Di BNS, ada wahana yang unik namanya Art Trick. Seperti dua foto di atas, kami lumayan lama berada di dalam sana. Selanjutnya Gravitron, yang bikin Brew ketagihan. Kalau saya sih ngga, karena sensasi ngambang setelah diputer-puter dengan kecepatan tinggi itu bikin mual. Salah satu wahana yang paling antri adalah Sepeda Gila, sama seperti di BCL kami menaiki sepeda di atas ketinggian. Yang membedakan di BNS adalah jalurnya memutari taman bermain dan di sebelah kiri kami disuguhi pemandangan bukit bintang. Lokasi BNS memang diatas bukit di malam hari pun view kota Batu terlihat dari sana.


Lampion Garden, tujuan utama kami ke BNS
Setelah menaiki beberapa wahana yang bikin ngos-ngos an, kami pun beristirahat di Lampion Garden. Banyak bangku taman yang disediakan. Lampion yang dibuat pun beraneka ragam dan unik. Ada yang memang diletakan di kolam air mancur dan ada yang dibuat terbang seperti hot air balloon. Permainan kami akhiri dengan mengunjungi Night Market dimana kita bisa berbelanja souvenir bertema kota Batu dan Malang. Harganya pun sangat murah menurut saya. Berbeda sekali dengan souvenir yang dijual di taman bermain di kota besar seperti Dunia Fantasi atau USS di mana terkadang harga souvenir lebih mahal dari harga tiket masuk. Begitu juga dengan harga makanan yang dijual di Food Court, lebih murah daripada jajan di kantin kantor. Hehehe. 

And the final attack is Hot Rodeo! Wahana ini jadi tontonan banyak orang. Tadinya sepi banget wahana ini, lalu tiba-tiba jadi ramai setelah saya coba naikin dan berkali-kali jatuh ngga berhasil. Brew ternyata ngga boleh naik wahana ini karena berat badannya melebihi 70 kilo. 


Detik-detik mau jatuh


Bermain di taman hiburan, entah itu di Pasar Malam, atau di taman hiburan kota, semua menyenangkan. Menyadarkan kita bahwa kita masih memiliki jiwa kekanakan. Melatih adrenalin dan menguras keringat. Ada satu permainan yang membuat saya tertantang, yang menontonnya saja membuat saya sesak napas. The Streaming Condor, roller coaster berbentuk U yang kecepatannya bisa mencapai 122km/jam. Wahana ini pernah ditayangkan di episode Running Man. Mungkin next challenge kalo mampir ke Taiwan? Let's see.


Sedih rasanya begitu melihat catatan jurnal di tahun kemarin, cuma 6 artikel. Yap! enam artikel dari 365 hari yang sudah terlewati sia-sia tanpa diisi waktu dengan menulis. Apa karena terlalu sering jalan-jalan sampai ngga ada waktu buat ngeblog? Atau karena tahun kemarin lagi deadline kerjaan kantor sampai lupa diri kalau menulis cerita sebenarnya hobi bukan tuntutan? Atau karena lagi sibuk-sibuknya ngurusin kawinan sendiri? Hahaha opsi terakhir kayaknya deh yang bener. Jadi tahun ini ngga ada alasan lain buat nunda-nunda nulis jurnal. Ini udah Maret dan cerita perjalanan seharusnya makin seru karena tahun ini penulis sudah nggak hidup sendirian. She is on the journey, a never ending journey, with a lifetime partner, to make a story for tomorrow!

Jadi sebelum nulis perjalanan di tahun 2015, saya akan tebus dosa-dosa karena ngga nyempetin waktu buat nulis dan sering ditagih sama temen-temen dan juga suami. Berikut perjalanan tahun 2014 yang menyenangkan karena sebagian besar waktunya penulis masih single, hehehe. 

Januari



Trip ke Jogja bareng dua perempuan gila traveling yang mau diajak kemana aja. Sebenernya saya sih yang diajak buat jadi guide mereka ke pantai Klayar, hehehe. Berhubung saya murahan buat diajak kemanapun maka bersama Nisa dan Chintya selama empat hari kita habiskan waktu keliling kota dan touring ke tepi samudera hindia. Selain pantai Klayar, kami juga singgah ke pantai Timang. Muter-muter malioboro, kulineran sate klathak Pak Pong, main ke pasar buku, gaya-gayaan ke Mirota, nongkrong-nongkrongan di angkringan dan makan mie ayam di antah berantah.

Perjalanan yang dimulai dengan sangat dahsyat ini membuat kami nggak akan pernah lupa gimana rasanya berjam-jam duduk di jok motor ujan-ujanan. Sambil kedinginan dan pantat kram, kami tetap bisa melebarkan senyum meski matahari tenggelam yang kami kejar dari Jogja sampai Pacitan ini nggak mau muncul karena masih ditutup mendung. Perjalanan menuju pantai klayar ngga hanya kami bertiga, ada Uchank, Wahyu dan Jalil, pahlawan yang berhasil nganter kita sampai ke sini.

Esoknya matahari pun muncul memenuhi janjinya pada kami
yang sudah bersusah payah menuju kesana. (P.S. ada kuncen jogja nebeng foto)

Februari

Jalan-jalan ke Bandung sama temen kantor. Bukan jalan-jalan sih tapi sekalian karena ada kondangan di sana dan kami mampir ke Kopi Ireng. Niatnya mau makan-makan di HDL Cilaki cuma berdua sama (calon) suami (waktu itu), malah jadi ngopi-ngopi di cafe yang lokasinya ini paling atas di bukit dago pakar timur. Oya, bulan februari ini saya berulang tahun yang ke-25, dan dapet hadiah spesial polaroid z2300 dari (calon) suami (waktu itu). Berkesan deh ngopi yang harusnya berdua di Kopi Ireng ini malah jadinya rame-rame. 

Dia menulisnya penuh perjuangan karena ia sadar tulisan tangannya jelek,
apalagi gambar gitarnya hahaha


Maret

Di bulan inilah awal mula saya dan (calon) suami (waktu itu) mulai jadi sering jalan-jalan bareng. Kenapa sering, karena dia ini manggut aja kalo diajak kemana-mana. Kan ngga gampang juga ngajak temen yang selalu kapanpun bisa diajak kemana-mana (sampe bolos kuliah sama bolos kerjaan). Kami ke Sukabumi, jalan-jalan naik kereta. Ya, iseng aja naik kereta Bogor-Sukabumi sambil bawa bekal. Ngobrol sepanjang 2 jam, bercerita tentang apa saja. Sampai di Sukabumi kami pun dadakan ke air terjun Cibereum. Nggak sampe air terjunnya, karena hujan terus deras dan sendal jepit yang dipake (calon) suami (waktu itu) putus. Sekarang udah dijahit lagi dan masih dia pake kemana pun pergi ngetrip sama penulis.

Di akhir bulan, saya juga dengannya, jalan-jalan trip sehari ke Kep Seribu yaitu pulau Cipir, Onrust dan Kelor  Kami ikutan trip murah meriah yang udah di organisir, jadi kami tinggal ikutin aja deh itin mereka sampai akhirnya terpaksa ikutan games lucu-lucuan yang jayus. Hahaha..

Si (calon) suami (waktu itu) sambil meluk pacar kecilnya.


Mei

Sebenarnya saya udah lama kepengen naik gunung Semeru, nah skalian sama (calon) suami (waktu itu) yang katanya mau naik Semeru juga sama temen-temennya disana pas long weekend (25-31 Mei). Jadi lah kami naik gunung Semeru dan lalu dilanjut ke pantai Papuma di Jember. Aduh nikmatnya jalan-jalan ngeteng plus ngga ada beban bawa barang berat. (P.S. semua peralatan kemah dan beberapa baju nitip di (calon) suami (waktu itu). Cerita tentang Papuma sudah saya tulis di sini. Lalu cerita tentang Semeru, yang akhirnya saya berdua dia saja yang berangkat karena hmmm.. Saya simpen saja ya buat anak cucu kami. Hehe.

Pada suatu hari, disini lah, cerita itu dimulai..


Juni

Mendekati bulan puasa, Bang Rahmat yang udah terkenal di dunia per-traveling-an karena suka banget naik gunung (namun nggak naik-naik ke pelaminan) ini ngajakin saya kemping di gunung Krakatau. Niatan ini udah dari tahun 2012 waktu kami berdua pertama kali ketemu di trip Krakatau juga. Di sini kami benar-benar kemping di kaki gunung anak krakatau. Bersama dengan para pejalan lainnya, menikmati malam penuh bintang, menepis mentari pagi yang begitu syahdu di atas gunung, dan tentunya alam bawah laut gunung krakatau yang begitu indah. Di sini saya nemu ubur-ubur besar!



Agustus

Ceritanya kami nggak upacara tujuh-belasan, tapi upacara lamaran di rumah tercinta di Ciganjur. Nggak percaya deh ternyata tanggal 17-Agustus bakal gampang buat diinget keluarga kita masing-masing. Sore hari selepas lamaran, keluarga (calon) suami (waktu itu) minta diajakin muter-muterin jakarta karena calon mertua dan tante mertua baru pertama kali ke Jakarta. Jadilah ke Monas, terus lanjut ke PGC. Hadeuh, namanya ibu-ibu ya ngga bisa kedip liat pusat perbelanjaan.  

November

Kenapa ngga ada cerita di bulan September-Oktober? Ya tentu karena persiapan nikah yang cuma dikasih waktu 3 bulan. Tiap weekend bolak balik kesana kemari ngurusin tetek bengek kawinan. Dan Alhamdulillah, di akhir bulan November kami diberi kesempatan buat jalan-jalan juga akhirnya. Berdua sama suami ke Phuket dan Krabi. Sempet Mampir bentar di Singapur karena suami pengen banget naek Subway (aduh kamu ini selama hidup kemana aja sih?) juga mampir ke Penang kulineran. Cerita di Thailand mungkin nanti akan saya bahas di tulisan berikutnya, mungkin lho mungkin hehe. Jadi teasernya foto ini saja dulu ya..

Pulau Similan. Pemandangannya ajiiib!!


Desember

Di bulan Desember kami (lagi-lagi berdua suami, iyalah kan partner traveling sejati) mengambil libur long weekend natal. Seharusnya di bulan-bulan hujan begini naik gunung dihindari, tapi ya namanya lagi pengen, ujan-ujan juga tetep dihajar buat ngejar sunrise dari Gunung Prau. 

Dimulai dengan perjalanan yang melelahkan dari Jakarta, karena kami harus bolak-balik nyari bus jurusan Wonosobo. Sempat menyerah setelah hampir 2 jam mencari dan menunggu, akhirnya dapat juga bus pariwisata yang tarifnya 2 kali lipat dari harga normal. Lalu dilanjutkan dengan perjalanan yang tak berujung, karena macet sepanjang jalur pantura. Dan kamipun sampai di kota Wonosobo jam setengah 2 pagi (17 jam !!). Bayangkan jam segitu kami harus nyari hotel sambil jalan kaki sampe masuk-masuk daerah pasar dan akhirnya dapat juga. Petualangan yang tak terlupakan itu pun berlanjut dengan pendakian gunung Prau yang hujan sepanjang jalur. Dan kabut, yang terus menemani sampai pagi esoknya. Hanya 2 jepretan yg saya ambil, karena background yang disediakan alam hanya kabut. Hiks. Perjalanan itu nggak bikin partner sejati saya ini menyesal, dia bilang masih penasaran dengan view magis saat matahari terbit. Dia mau ke sana lagi, harus pokoknya. Saya cuma merengek sedih, "tanjakannya.... nggak tahan!!"


"Kita harus kesini lagi!!"

A story of the mountain and the sea that falling each other.
Krakatau, Lampung, Indonesia | June 22nd 2014

White isn't always mean beautiful. Sometimes black is.

Because there’s nothing more beautiful than the way the ocean refuses to stop kissing the shoreline,
no matter how many times it’s sent away. 

~Sarah Kay

Mengintip pagi dari dalam tenda,
Betapa rindunya menjelajah suatu tempat dengan cara "ngeteng". Bersama dengan teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, yang rela duduk di atas kap mobil kena angin karena terpaksa hitching (Hai Dito, apa kabar lo?). Atau karena cape jalan kaki numpang di truk kayu yang gedenya ampun deh naikinnya aja susah banget! Ya saya rindu sekali dengan perjalanan-perjalanan itu. Akhirnya perjalanan itu pun saya ulang kembali. Di warung baso Cak Kar, yang ternyata memberikan fasilitas free-wifi, saya iseng browsing "pantai-pantai eksotis di Jawa Timur". Jyaleaaah.. Mode alay on! Dan nemu lah pantai ini.

Biru nya pesisir pantai dari sebelah timur. Foto ini diambil di jalan masuk ke pantai.

Pantai lagi.. pantai lagi.


Tentu saja kami memilih pantai, karena hari sebelumnya kami baru turun gunung. Dan saat menemukan pantai ini di google saya teringat kembali ketika pelesir ke pantai Klayar di Pacitan, keinginan untuk menjelajah pantai di Jawa Timur begitu menggebu. Sedikit lagi setelah pantai Klayar pasti sudah menyentuh tanah timur jawa, demi project 100 pantai yang pastinya masih berlanjut selama bumi ini masih berputar. So here the story.... Semalaman kemah di Pantai pasir putih malikan atau singkatnya PaPuMa!


Bus kami berangkat dari Terminal Arjosari, Malang pukul 9 malam. Tadinya kami mau langsung naik jurusan Jember, tapi sepertinya sudah tidak ada. Kami pun menaiki bus jurusan Banyuwangi yang jalurnya melewati Jember. Kiranya sampai Jember pagi hari jadi kami ngga perlu menginap, eh ternyata kami sampai jam 2 pagi. Hayaaah.. Masih gelap. Antimo yang baru diminum 4 jam yang lalu pun masih menyisakan rasa kantuk yang tiada tara. Baru saja turun bus, kami dihadang banyak orang yang menawarkan jasa ojek. Saat kami bilang kami mau menuju pantai papuma di pagi hari, si bapak malah memaksa kami menginap di motel. Kami pun buru-buru meninggalkan bapak itu, tetapi bapak itu malah mengikuti kami menawarkan jasa ojek yang tarif nya main tembak saja. Jadi, trik supaya ngga diikutin dan ditanya-tanya terus adalah pura-pura menelepon teman di Jember minta dijemput. Hahaha... Kalo ngga gitu pasti urusan jadi panjang. Akhirnya bapak itu pun pergi dan kami memutuskan tidur bergantian di teras Musholla di depan terminal, bersama dengan para gelandangan. 


Setelah sholat subuh, kami tidur lagi. Benar-benar ya antimo itu ternyata nyiksa juga kalo minumnya telat. Kami pun memulai perjalanan kami pagi hari itu sambil bertanya-tanya dengan para petugas dishub di terminal soal angkutan umum menuju Terminal Ajung. Tak dinyana, kita malah ditawari jasa ojek lagi. Langsung nembak pula harganya. Karena males berdebat tidak jelas dengan "calo" saya langsung bertanya pada ibu kios sambil beli minuman ringan. Untuk menuju terminal Ajung kita naik angkutan umum 2 kali. Lagi-lagi ditengah jalan ditawarin jasa ojek, karena kami berdua kelihatan lama menunggu angkutan umum berikutnya. Gak deh. Setelah sampai Terminal Ajung kami naik angkutan pedesaan yang udah ngga tau lagi gimana bentuknya menuju Ambulu. Duduk sumplek-sumplekan bareng sayuran, ayam, dan ibu-ibu serombongan mau kondangan. 

Sesampainya di Ambulu, kami cari sarapan sambil bertanya-tanya ke penduduk sekitar soal angkutan umum ke PaPuMa. Ternyata di sana hanya tersedia dua jenis angkutan umum, yaitu ojek dan bentor (becak motor). Kami pun dihampiri beberapa tukang ojek, sambil nego harga. Inilah seninya traveling di  Indonesia, ngga ada harga patokan jadi kita harus pintar-pintar nawar. Karena perundingan berlangsung alot, bapak-bapak ojek pun meninggalkan kami. Kemudian kami mencoba alternatif ke dua yaitu bentor. Ternyata kalo naik bentor itu hanya sampai perbatasan pertigaan antara pantai Watu Ulo dan pantai PaPuMa. Tadinya mau ngirit ongkos malah jadi kemahalan. Hahaha.. Lalu kami putuskan naik ojek saja ke bapak ojek yang tadi. Pas kami hampiri ke pangkalan ojeknya, si bapak sudah ngga ada! Kami pun panik dan mencoba menyusuri jalan raya sambil cari ojek lain.



Tapi yang namanya jodoh, akhirnya kami bertemu lagi dengan si bapak setelah berjalan kaki beribu-ribu kilometer! Kita sepakat 100 ribu untuk 2 ojek pulang pergi Ambulu-PaPuMa, yang artinya sekali jalan kita kena dua puluh lima ribu. Si bapak juga dengan senang hati menjemput kami ke lokasi esok harinya. Ternyata Pak Selamet ini orang baik. Bersyukur sekali kami bertemu dengan nya. Sampai di PaPuma pukul 11 siang, kami membayar tiket masuk sebesar 12 ribu. Setelah pamitan dengan pak Selamet, kami langsung menuju bibir pantai. 

Perjalanan yang menyusahkan dan semuanya terbayar! Birunya langit siang itu, memantulkan warnanya pada laut selatan. Serta awan putih yang memberik corak langit. Angin laut yang menghempas serta suara ombak yang menderu mengobati segala kerinduan. "Ah pantai.. aku kangen sekali sama kamu." Sambil memeluk orang di sebelah saya. Eh ngga kok ini cuma perumpaan aja pengen meluk pantai biar romantis tapi ngga bisa. Hehehehe.. 




Matahari pun semakin bergerak ke atas, menunjukan waktunya sholat Jumat. Di pantai tidak ada pengunjung lain, hanya ada para pedagang dan penjaga toko. Brew yang kebingungan karena di pantai tidak ada masjid pun akhirnya bertanya kesana-kemari. Tidak ada orang yang terlihat akan pergi ke masjid, ia pun berencana jalan kaki sambil cari tumpangan. Lebih baik usaha daripada tidak. Beruntungnya, di jalan ada anak kecil yang sedang mengendarai motor meninggalkan pantai dan mau menumpanginya sampai ke masjid. 





Pengen berenang di sini ngga bisa. Jadi liatin si bapak mancing sambil nyanyi-nyanyi.

Matahari nya ketutup bukit. Sayang sekali!
Menunggu sunset, kami menghabiskan waktu mengelilingi ujung pantai PaPuma dari sebelah timur sampai ke barat. Bentuk pantai papuma itu seperti V terbalik jika dilihat dari bukit. Setelah senja mulai memudar, kami makan malam di sebuah warung kecil yang menawarkan sajian ikan segar untuk dikiloin. Seporsi cumi bakar dengan bumbu sambal nya menguras keringat di dahi. Setelah makan, kami tiba-tiba dihampiri seorang laki-laki yang usianya mungkin tidak jauh dari kami. Dia mengenalkan dirinya sebagai Iwan. Seorang pemuda asal Surabaya yang bekerja sebagai petugas lingkungan di pantai PaPuMa. Kami bertiga pun berbagi cerita, berbagi pengalaman kami dalam perjalanan. Malam itu kami pun langsung diajak ke kantor nya untuk lapor kalau kita akan camping semalam. Kami tidak dipungut biaya apa-apa kok, hanya membayar 3000 rupiah saja untuk retribusi. Di kantor pun kami malah jadi ngobrol dengan bapak-bapak petugas yang lain. Dan malam pun kami habiskan dengan berbincang-bincang dan bercerita. Milky way malam itu jadi agak samar semakin gelap menuju pagi.

Pemandangan dari pintu tenda. Ajib kan?
Bangun tidur ku kucek mata terus melongo, sambil nguap dan ngelamun.
Aktifitas pagi nelayan.
Sebelum di jemput oleh pak Selamet, pagi hari pukul 8 pagi setelah sarapan dan packing, kami berencana hiking ke bukit di utara. Sesuai dengan info yang diberikan oleh mas Iwan bahwa ada satu spot yang jarang sekali dikunjungi wisatawan lokal. Jalan yang dilalui beraspal namun hancur dan sudah ditumbuhi banyak tanaman liar. Tiba-tiba ada bapak petugas yang sengaja menghampiri kami menggunakan motor kopling. Kami pun disuruh menumpangi motornya, dan ia mau mengantar kami sampai atas. Baik sekali bapak nya! Memang trek nya lumayan curam. Baru sepersepuluh perjalanan saja kita sudah ngos-ngosan.

Pantai PaPuMa yang dilihat dari atas bukit

Itulah spot dimana kita bisa melihat keseluruhan pesisir pantai PaPuMa dari ujung barat sampai timur. Sayangnya masih terlalu pagi sehingga buih dilaut membuat horizon tidak begitu terlihat. Setelah sejenak menikmati view yang luas itu, kami pun beranjak pulang dengan dijemput oleh pak Selamet dan temannya. Perjalanan menuju Jakarta pun tidak mudah, dimulai dengan bus Jurusan Jember-Jakarta yang sudah habis dihari itu, sehingga kami terpaksa cari bus menuju Surabaya dulu. Sampai di Surabaya pun kami kehabisan bus ke Jakarta jadi terpaksa kita manaiki bus menuju Cirebon. Tidak henti sampai disitu, di Cirebon kita kehabisan tiket kereta dan terpaksa naik bus lagi dari Cirebon sampai Jakarta. Setelah dihitung dari Jember - Jakarta total perjalanan darat 32 jam! Tak mengapa, karena ini lah seni nya dari traveling, menikmati setiap sudut perjalanannya karena Suatu saat nanti aku pasti akan merindukan ini lagi

China Town di Singapura
Mungkin bagi beberapa orang, mendengar kata Singapura pasti merujuk ke wisata belanja. Kota yang banyak mereka sebut tidak ada apa-apanya. Ya, kalau dibandingkan dengan Indonesia yang beragam suku bangsa dan budayanya. Apalagi bagi orang yang menganggap berwisata kesana bukanlah pilihan yang menarik. Pikiran yang sempit! Karena tujuan dari sebuah perjalanan bukanlah destinasi. Itu lah yang menjadi prinsip saya ketika setahun yang lalu (2013) memutuskan untuk menginjakan kaki di luar Indonesia pertama kali di Singapura, negeri yang katanya tidak lebih besar dari kota Jakarta. Serta Malaka, kota pelabuhan dan pusat perdagangan jaman dahulu yang menyimpan banyak sejarah.


Memiliki yacht atau kapal kecil yang bisa dibawa untuk keliling dunia adalah impian saya sejak jatuh cinta dengan laut. Ketika pertama kali mengarungi laut Sumbawa hingga Flores, menjelajah lautan, menikmati terbit dan tenggelam matahari dari kapal, menyelami kehidupan bawah laut yang sangat memesona.

Bangunan hotel yang berdiri megah di darat.
http://smilinghillbatam.com/

Bagaimana jika terdapat sebuah kapal pesiar yang memiliki fungsi sebagai hotel? Atau lebih tepatnya sebuah hotel yang terinspirasi oleh kapal pesiar sehingga arsitekturnya mengikuti bentuk kapal. Menurut sebuah artikel mengenai hotel berarsitektur unik di Indonesia, tidak hanya arsitekturnya yang menyerupai kapal pesiar, Pacific Place Hotel juga terletak di tepi laut sehingga posisinya seperti sedang mengarungi lautan luas.
Hotel yang terletak di Pulau Batam, Kepulauan Riau ini tidak hanya memiliki banyak fasilitas yang memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya, namun juga keunikannya bisa menambah pengalaman yang menarik bagi para pelancong. Untuk menuju hotel yang terletak di Jalan Duyung Sei ini tidaklah sulit. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit dari terminal Ferry yang ada di Harbour Bay dan Batam Centre.

Selain menginap, kita dapat memanfaatkan berbagai fasilitas lain yang disediakan hotel sambil menikmati semilir angin laut dan birunya laut Batam karena bangunan ini berada dekat tepi pantai. Para crew hotel juga berseragam ala pelaut sehingga menarik bagi para pengunjungnya. Tentunya sebagai pelancong yang mencintai laut dan bercita-cita menyusur 100 pantai, bisa menginap di hotel ini akan menjadi pengalaman yang unik. Sebuah cerita tentang kapal pesiar yang menginspirasi perjalanan mengelilingi samudera yang luas.

[paid partnership article]

Alone. When I tried to find the answer.
Pulau Kiluan. Lampung, Indonesia | 18 Mei 2012

I've never enjoying myself until I get lost somewhere. A place I've never been visited. A place where no one recognizes me. 

Talking with strangers. Seeing new things. Eating local food at the street. Walking under the sun. Lost in the city. Going out to the crowd or laying at beach where no one around. Or just sitting at the train, chat with my best mate, while seeing the ordinary panorama through its window. 


March 15th 2014
Sukabumi Train Station, West Java Indonesia
Photo in polaroid taken by stranger

A couple of passenger who's sitting in front of us, asked why were we doing this?
I answered with a smile. 
"This is how I enjoy my story."

Menyusuri hutan basah, terapi untuk paru-paru yang terbiasa mengisap karbon dan timbal di jalanan ibukota. Salah satu cara menikmati penghujung tahun di tempat yang jauh dari riuh ibukota. Matahari yang muncul menampakan sebarisan pohon-pohon pinus yang hijau. Riuh air yang terjun di antara bebatuan besar menambah semarak suara alam.




Setelah kaki lelah menapaki jalanan berbatu dari lokasi air terjun Sawer selama kurang lebih satu jam, segelas kopi panas dan tenangnya suasana pagi di pinggir danau membuatku semakin mensyukuri hidup. Terima kasih, Tuhan.