Selama lima hari perjalanan (27 November - 1 Desember), penginapan di Phuket Town ini lah yang setidaknya paling asik dan kesannya honeymoon banget. Hahaha.. Seumur-umur nginep di hotel ngga pernah keren, karena selalu nyesuaikan budget. Namanya Casa Blanca Boutique Hotel, lokasinya strategis banget terletak pas di perempatan depan gedung tua (aduh lupa namanya). Jadi pas hari kedua kita muter-muter Phuket Town, sekalian lah kita reservasi. Baru inget, ternyata hotel ini sebenernya rekomendasi nya Mink, pemilik Cozy Coco Apartment. Nah pas kita lagi jalan-jalan mau ke taman tengah kota, kita ngelewatin hotel ini.

Brew masuk duluan buat reservasi besok

Setelah pulang dari trip ke Kepulauan Similan, kita ngga punya banyak waktu buat main-main lagi karena kecapean abis berenang seharian. Jadi setelah balik dari pasar malam Talad Kaset, kita hanya duduk-duduk bentar sambil ngobrol di tengah taman kota (menyerupai alun-alun). Menertawai kekonyolan trip kita, setelah kamera kecebur dan jam tangan saya hilang di pantai Patong. Juga, acara wisudaan Brew yang "sengaja" dilupain dan baru keinget pas kita udah di antah berantah. Malam pun berlalu cepat, paginya kita dijemput ke pelabuhan, melanjutkan perjalanan ke Krabi. Untuk pelayaran ke Krabi, saya memesan agent kapal ferry yang supaya kita bisa singgah ke pulau Phi Phi. Ciee, akhirnya ke pulau Phi Phi. Hahaha.. Norak makes our journey's awesome, doesnt it?

Kapal ferry milik Andaman Wave Master ini punya dua jadwal. Nah kita ngambil rute Phuket - Phi Phi - Krabi. Berangkat jam 8 pagi, sampai di Koh Phi Phi jam 11 siang. Kemudian berganti kapal, lanjut ke Krabi berangkat setengah 4 sore. Lalu sampai Krabi sekitar mendekati sunset.

View asik dari kapal

Silaaaau men!

Saat menjelang sampai ke Koh Phi Phi, dari kapal kami disuguhi pulau-pulau berbentuk karang. Di beberapa spot juga terlihat adanya kapal-kapal kecil yang membawa turis berkeliling. Ah sayang sekali, selama di Koh Phi Phi kami ngga ikutan tour Maya Bay. Karena kita cuma punya waktu 4 jam transit selama di sana. Ada kejadian lucu, kapal kami yang transit di pelabuhan Tonsai, Koh Phi Phi ternyata ngga lama parkirnya. Mereka hanya menurunkan penumpang saja. Kami hampir aja kebawa ke pulau lain karena kapalnya langsung menuju ke Koh Lanta. Kejadiannya karena pas nurunin penumpag di Koh Phi Phi saya lagi di kamar mandi. Dan ternyata pas saya keluar, kapalnya udah 10 meteran jalan ninggalin pelabuhan. Jadilah kami teriak-teriak ke awak kapal. Para crew pun langsung ngasi aba-aba buat balikin arah kapal ke pelabuhan Tonsai. Huft! Kami loncat dan langsung dadah-dadah ke kapal.

Dadah-dadah ke kapal. Hampir aja kebawa!

Berhubung kami berdua ngga mau repot bawa-bawa carrier, kami menitipkan tas di kantor administrasi pelabuhan. Cukup bayar 20 Baht aja satu tas. Karena tujuan utama kita ke Phi Phi ya karena mau nanjak sampai ke View Point. Peta udah kita foto, selanjutnya kami jalan menelusuri gang-gang hingga akhirnya kami nyasar!

Jalanan area turis di Koh Phi Phi
Kayaknya asik yah bermalam di sini


Kenapa kami nyasar? 
Karena banyak sekali belokan yang bikin bingung. Sementara plang "View Point" dan jalur yang ada di peta agak sedikit berbeda. Dan doi kekeuh nyari jalan pintas nyesuain sama yang ada di peta. Jadilah kami siang bolong sampai ke perkampungan warga, yang jalannya udah bukan jalan turis lagi. Kanan-kiri banyak kebon dan rumah warga yang sebagian besar memelihara ternak. Pokoknya kami sampai sendirian, udah ngga ada lagi orang yang lewat. Jalanan yang dilalui lumayan lebar, yang sepertinya memang dilalui kendaraan roda empat. Matahari pun semakin terik dan kami semakin lelah. Hingga akhirnya ada mobil pick up yang sedang membawa banyak kardus yang lewat dan saya berhentikan. "Hitching ah sekali-kali biar kayak Ejie." Senyum saya pada nya. Pak supir pun mau mengantar kami sampai ke View Point. Karena bagian belakang sudah agak penuh kami pun berdiri. Ceritanya ... saya simpan ya buat anak cucu kami. Hehehe ..

Kami pun diturunkan pas di depan plang bertuliskan "View Point". Tulisan ini ditulis seadanya dan ditancap tepat di pohon. Pepohoan yang ternyata merupakan jalan masuk ke hutan. Ternyata dari hutan itu, kami masih harus sedikit nanjak lagi. Huaaah, sambil ngelap keringet. Jalan cuma berdua. Disitu saya agak sedikit parno. Sambil jalan kami ngobrol, sampai ketemu bule juga yang baru turun. "Oh ada juga ternyata yang lewat sini." Tapi jarang banget, itu pun mereka semua arah turun. Oya selama melewati hutan, saya ngga berani foto-foto. Setelah satu jam jalan menanjak, akhirnya kami sampai di pos View Point. Bayar tiket lalu kami menaiki tangga lagi.

PeePee or Phi Phi?

Semuanya terbayar saat kami sampai ke puncak! Duileh puncak, cuma nanjak sejam doang. Hehehe.. Dan memang terbayar kok. Sampai di atas, pemandangan yang disajikan bikin mata ngga bisa merem. Sayangnya matahari udah di atas kepala. Langit jadi agak over. Tapi tak apa lah, di akhir November ini kami udah beruntung banget dapat langit yang cerah.

Tadi kita jalan dari ujung sana!
Sambil nunjuk ke pelabuhan Tonsai yang sebesar titik

Sambil minum jus jeruk dan air kelapa muda, kami nikmati siang yang sebentar ini di warung yang memang cuma ada satu di puncak. Tidak banyak turis di sini. Bisa dibilang sepi. Paling ada pun mereka ngga lama-lama, cuma mampir foto terus beli air minum lalu turun lagi. Macam joging aja. Di sini kami duduk-duduk lumayan lama, sampai akhirnya kami kelaparan karena jam makan siang udah lewat. Kami pun mencoba turun melalui jalan yang saya lihat beberapa kali dilewati turis. Ternyata ini jalur yang benar! Disitulah kami menyadari, kalau kami nyasar pas naik tadi. Jalur turis ini lebih rapi dan berbentuk anak-anak tangga. Kanan-kiri juga banyak toko, hostel dan penginapan.

Di jalan kami mampir ke toko pakaian. Seorang bule asal Jerman yang ternyata sudah tinggal 6 tahun di Krabi menyapa kami. Ia bertanya, kenapa ya banyak turis asia yang suka ngabisin duitnya buat beli oleh-oleh, kamu juga? Saya pun menjawab sambil tersenyum, saya beli buat saya sendiri kok. Ngga ada budget buat ngasih orang-orang. Hahaha.. Tawa pun pecah. Saya dapat satu sarung bermotif gajah. Lalu kami jalan bareng dan diantar kan ke pantai Loh Dalum. Kapan-kapan kalau ke Koh Phi Phi lagi, katanya kami dipersilakan menginap di penginapannya. Lalu kami menikmati makan siang di jejeran warung makan di pantai Loh Dalum. 

Setelah makan, kami pun langsung terburu menuju pelabuhan. Di sana ternyata sudah ramai. Sempat terlibat percakapan lama dengan crew kapal karena kami belum sempat check in di stand Ao Nang Princess yang terletak di area pertokoan. Karena waktu keberangkatan yang mepet akhirnya kami diperbolehkan masuk. Sebelum kapal berangkat, saya coba browsing di Agoda hostel murah di Krabi. Karena udah capek nanjak tadi, kami pun tidur di kapal. Hanya dapat satu view ini aja lalu lanjut tidur lagi.

Ayo itu apaan?


Kami sampai di pelabuhan Ao Nang tepat sebelum matahari tenggelam. Lalu kami memperoleh service tumpangan dari Ao Nang Princess untuk ke penginapan masing-masing. Awalnya kami sudah reserve untuk drop di Mini House Ao Nang (rekomendasi Mink). Namun di perjalanan kami melewati Lanna Beach Guest House, penginapan yang belum sempat saya book pas di Koh Phi Phi. Kami pun minta berhenti saat itu juga. Lalu menuju penginapan itu yang tentunya kami pilih karena jauh lebih murah dari penginapan yang direkomendasikan Mink. Memang lebih murah sih, untuk double bed kami hanya kena charge 700 B/room. Tapi ternyata kamarnya ada di lantai paling atas yaitu lantai 4, tanpa pakai lift!


Tuk-tuk yang pertama kami naikin ada di Krabi
Trotoar lebar sepanjang jalan menuju pantai Ao Nang

Habis naro tas di kamar dan sholat, kami bergegas menuju pantai mengejar sunset. Nggak terlalu jauh dari penginapan sih. Karena sudah kelihatan di ujung jalan langit mulai berwarna jingga. Kami habiskan sore terakhir di pantai Ao Nang. Menikmati senja dan matahari yang kembali keperaduannya. 

Takkan pernah bosan. Dengan kamu.

Setelah matahari tenggelam, kami berjalan kaki menyusuri jalan yang sejajar dengan garis pantai.Trotoar yang lebar, memudahkan para turis menikmati sepanjang jalan yang di kanan-kiri nya dipenuhi pertokoan souvenir. Beberapa kali kami disapa dan diberikan brosur cabaret show oleh para ladyboy yang amat heboh dengan dandanan kabaretnya. Malam pun semakin larut, perut meraung waktunya makan malam. Sambil jalan balik ke penginapan, kami mampir ke Lemon Seafood Restaurant yang tidak jauh dari penginapan. Karena harga seafood di sini bisa dibilang lebih murah dibandingkan di Jakarta, di sini kami memuaskan diri sampai nambah-nambah. Kenyang. 

Pagi hari esok nya kami lebih santai, karena penerbangan kembali ke Jakarta agak siang. Kami memesan seat bus mini untuk ke bandara, melalui agen travel yang terletak persis di sebelah penginapan. Lalu kami dijemput, ehm agak molor dari jadwal sih tapi karena kami pesan 2 jam sebelum keberangkatan jadi kami masih punya waktu longgar. Bandara Krabi ini termasuk bandara kecil, dari terminal 1 ke terminal 2 jaraknya tidak terlalu jauh, cukup berjalan kaki saja. Kami menunggu di bawah sambil makan pop mie nya Thailand (suka banget yang rasa bebek). Saya pun tersadar, ternyata nama Krabi diambil dari kepiting. Terlihat dari baliho besar bertuliskan "Welcome to Krabi" dengan gambar kepiting yang besar. Mungkin maksudnya Krabi dari crab kali ya. Hehehe.

Perjalanan 2 jam pun dilanjutkan ke Penang, nggak langsung ke Jakarta. Lho kok ke Penang? Lagi-lagi setelah transit di SIngapur, kami iseng transit di Penang, Malaysia. Kata temen-temen sih Penang tempat wisata kuliner. Pas sampe bandara, kami pun buru-buru nyari bus ke kota. Karena belum sempat nukerin receh, kami bolak-balik jajan ke toko yang bisa balikin receh. Hal itu karena kalau naik bus di Malaysia kita musti nyiapin receh karena uang nya langsung masuk ke box, ngga ada kembalian. Sayang juga kalo 50 ringgit harus ludes gara-gara ga ada receh. 

Tiket bus yang ada di Penang

Karena ngga ada persiapan, kami cuma dapet info tentang George Town, dari mbak-mbak yang duduk disebelah saya sehabis sholat Zuhur. Itu pun kami ngga tau harus turun di mana. Bolak-balik nanya sama supir bus, yang ternyata baik kami pun dikasih tau bakal turun dimana. Tapi karena miss-communication kami malah jadi turun di antah berantah. Akhirnya kami cuma makan, terus balik lagi ke bandara. Beneran kan, wisata kuliner di Penang. Hahahaha saat kembali ke bandara kami hanya menertawakan sisa-sisa waktu yang sangat mepet. Di tambah lagi ternyata maskapai penerbangan kami L*on Air dari Penang ke Medan jadwalnya dipercepat 2 jam. Dan hal tersebut sudah diberitahu lewat email 2 hari sebelumnya. Pret! Mana sempet baca email orang lagi liburan. Jadilah kami ketinggalan pesawat. Untungnya, pihak maskapai mau mengganti tiketnya karena kasian kali ya. Mereka sebenernya juga kesal, karena yang mengubah jadwal tiba-tiba itu dari pihak maskapai yang ada di Indonesia. Waktu itu hanya ada tiga orang. Saya, si suami dan satu orang Indonesia juga. Alhamdulillah syukur banget ternyata mereka mau bantu sampai kami mendapatkan tiket pesawat penerbangan ke Medan berikutnya menggunakan maskapai lain.

Kenapa sih kita musti transit berkali-kali? Ke Medan pula. Hahaha.. Alasannya tentu saja biar bisa dapet tiket yang lebih murah. Penerbangan pulang pergi CGK-HKT di tanggal segitu lagi mahal-mahalnya. Makanya sekalian deh saya puter-puterin biar makin kerasa jalan-jalan nya. Hehehe.. Mampir ke Medan, sudah pasti saya membungkus dua gulung bolu meranti rasa keju yang makannya aja mungkin setahun sekali, itupun karena ada temen yang mau dititipin. Jadi kalau ada yang nanya, ngapain transit ke Medan. Jawabannya "Bolu Meranti!".

Perjalanan yang takkan terlupakan. Bersama kamu. Lima hari yang selalu saja masih teringat di kepala. Walau ada beberapa hal detail yang saya lupa, karena sepanjang jalan kita selalu ngalamin hal-hal yang tak terduga. Juga cara kamu yang ngga pernah nyebut Baht, tapi Beri karena penampakan mata uang Thailand yang mirip sama mata uang di anime kesukaan kita. Petualangan di Penang yang bener-bener ngga penting, ketinggalan pesawat, nyasar ke hutan-hutan, kamera yang kecebur, jam tanganku yang hilang, hampir kebawa ke Koh Lanta, nyasar ke pecinan mesen mie pake minyak babi, berapa kali makan pop mie nya Thailand yang rasa bebek (waktu di kapal juga), berapa kali makan seafood yang murah meriah, semua sunset yang kulihat bersama kamu, dan akhirnya paspor kamu yang udah keisi empat cap negara (termasuk Indonesia ya). Let's wander as long as we're still alive! To make a story for tomorrow!


Perjalanan itu bukan tentang jauhnya, atau tentang menuhin cap di paspor.
Tapi tentang setiap momen yang akan kita ceritakan di esok nanti.

Banyaknya pertanyaan yang muncul, dari teman-teman yang berencana melakukan perjalanan mandiri ke Tanjung Bira. Maka akhirnya saya sempatkan juga menulis jurnal ini di blog. Perjalanan ini saya lakukan mandiri berdua dengan teman kuliah saya, di bulan November tahun 2013. Udah lama juga ya ternyata, satu setengah tahun, mudah-mudahan ingatan saya masih tajam. 

Spot yang menjadi ikon Pantai Tanjung Bira

Setelah berburu tiket promo beberapa bulan sebelumnya, saya dapat tiket 350 ribu PP Jakarta - Makassar. Ketika itu Air Asia masih punya rute CGK - UPG. Berangkatlah kami sore itu (14/11/2013), berbarengan dengan macetnya Jakarta menuju bandara Soetta. Sampai di bandara Hasanuddin jam 1 dini hari, dan menumpang tidur di masjid bandara. Menunggu pagi, menunggu damri yang ternyata tak kunjung tiba hingga pukul 7 pagi. Karena khawatir akan ketinggalan trayek yang menuju Tanjung Bira, terpaksa  deh kami naik taksi untuk menuju terminal Malengkeri. Hampir semua taksi sistemnya nembak! Setelah setengah jam menunggu kami dapat yang pake argo. Tapi ternyata mau pake argo atau nggak sama aja tarifnya, malah tanpa argo tarifnya jadi lebih mahal. Berkali-kali liat argo jalan cuma nyesekin dada, blom setengah jam jalan udah kena 100 ribu. Jangan-jangan argonya dimainin juga. Begitu pikir kami. Akhirnya kami minta turun di tengah jalan, keluar tol yg terdekat. Apes deh, tau gitu mending nembak. Hahaha.. Dan perjalanan pun kami lanjutkan dengan menumpang pete-pete (angkutan umum di Makassar) ke terminal Malengkeri.

Untuk menuju Tanjung Bira, ada dua alternatif angkutan umum yang bisa digunakan. Pertama adalah bus antar kota yang menuju Bulukumba. Seingat saya cuma ada satu sih. Kedua adalah Kijang, sebutan untuk mobil sekelas toyota kijang atau xenia yang digunakan sebagai angkutan umum sampai ke Tanjung Bira. Kendaraan ini jumlahnya lebih banyak, ada yang ngetem di luar terminal dan ada yang di dalam. Nah, kami menggunakan alternatif kedua di mana nanti si supir akan mengumpulkan penumpang sampai penuh, baru berangkat. Biasanya mereka berangkat kalau sudah penuh, atau hari sudah siang. Karena perjalanan menuju Tanjung Bira membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam.


Dari kijang, perjalanan menuju ujung pulau Sulawesi


Meskipun menunggu agak lama, kijang yang kami naiki berangkat pukul setengah 10 pagi. Karena masih lelah setelah tidur ngga jelas di langgar bandara, sebagian besar waktu kami di mobil adalah tidur. Beberapa kali terbangun saat melewati tepi laut. Di tengah perjalanan, kami juga sempat berhenti di warung makan. Uniknya disana adalah, minuman yang disuguhkan selalu air bercampur es. Lalu perjalanan dilanjutkan kembali ke Bulukumba. Ternyata kijang yang kami naiki hanya sampai Bulukumba. Seorang bapak paruh baya yang duduk di sebelah saya menawarkan mengantar kami sampai Tanjung Bira. Ia bilang hanya perlu menempuh satu jam untuk sampai kesana. Kami diajaknya ke Pasar Bulukumba untuk menunggunya mengambil mobil dari rumah nya. Agak aneh sih, "Kenapa kita ngga diajak kerumah nya aja ya sekalian?" Begitu pikir kami. Tapi yasudah lah, siapa juga yang mau nolak gratisan. Hehehe ..


Pantai Kaluku, tempat pembuatan kapal pinisi

Sebelum sampai di pantai Tanjung Bira, si Bapak memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Kami diberinya kesempatan untuk menikmati nyiur dan angin laut di atas tebing pantai Kaluku. Cerah sekali sore itu. Kemudian kami di drop di kompleks penginapan Tanjung Bira. Di sana kami berpamitan dan mulai mencari penginapan yang sudah saya googling sebelum berangkat.



Terima kasih, Bapak!

Penginapan itu namanya Sunshine Guest House, yang miliki oleh seorang perempuan Bugis asli, Nini kami memanggilnya dengan suaminya Gav yang berdarah bule. Lokasinya berada di kiri jalan ke arah pantai. Untuk menuju kesana, dari plang yang bertulisan nama penginapan, kita masuk melalui gang kecil sampai mentok. Posisinya lebih tinggi dari penginapan-penginapan yang sebelumnya kami lewati. Jadi perlu sedikit usaha ekstra untuk sampai ke Sunshine. Setelah sampai, kita menunggu lobi yang terbuka luas. Pemandangan laut bisa langsung dilihat dari sana. Setelah ngobrol sebentar dengan Nini, kami diantar ke kamar yang ada di lantai 2. Untuk permalamnya kami di charge 150 ribu/kamar. Sudah termasuk sarapan pagi.



Penginapan yang kami tinggali selama tiga hari dua malam di Tanjung Bira
(Pagar masuk, plang penginapan, dan balkon depan)

Karena hari mulai senja, kami pun bergegas menuju Pantai Kaluku untuk melihat proses pembuatan Pinisi sekaligus mengejar matahari tenggelam. Lumayan jauh untuk berjalan kaki sampai kesana. Kami pun mendapat tumpangan "gratis" dari abang-abang yang memaksa kami menggunakan jasa speedboatnya untuk hopping island ke Pulau Kambing esok harinya. Karena udah dipaksa banget, dan males diikutin yaudah deh akhirnya kami nurut aja. Di pantai Kaluku kami menghabiskan waktu hingga langit tertutup awan gelap. Kami tidak bisa melihat senja sore itu, langit mendung mengharuskan kami kembali ke penginapan. 


2 tiang 7 layar
Demi ini kami berdua kabur dari hiruk pikuknya kota metropolitan.

Kami kembali penginapan saat hari sudah gelap. Malamnya kami makan menu seafood di warung makan bambu persis di depan gang masuk ke rumah Nini. Banyak turis mancanegara sedang berkumpul. Setelah makan malam kami kembali ke penginapan dan melanjutkan istirahat panjang, mengumpulkan tenaga untuk snorkeling dan hopping island esok hari.


Kami sudah janjian dengan si abang-abang yang kemarin ngikutin kami. Di pagi hari yang cerah itu, kami sempat terlibat sedikit cekcok karena adanya salah paham antara Nini dan si abang. Sehingga kami berangkat terlalu siang. Jadilah kami memesan private boat seharga 450 ribu karena ketinggalan rombongan yang menggunakan jasa paketan. Itu sudah termasuk alat snorkeling, ke pulau Kambing, pulau Liukang Loe, dan pantai Bara, sampai sore! Walaupun awalnya sempat ragu soal harga, namun di akhir trip kamu justru bersyukur ditemukan dengan abang ini.


Snorkeling di sini!

Surga dunia, ah~
(courtesy photo by danceuu)

Spot pertama adalah snorkeling di pulau Kambing. Pulau ini letaknya lumayan jauh dan tidak semua trip menyediakan paket ke sana. Biasanya hanya ke pulau Liukang Loe saja. Berhubung kami ke Tanjung Bira tanpa bawa dokumentasi underwater, jadi cuma ada foto di atas permukaan saja ya. Sebetulnya, underwater pulau Kambing tuh kece abis. Saya hampir dua jam di sana nggak mentas-mentas. Struktur karangnya vertikal, jadi kalo diving pasti lebih keliatan. Selain snorkeling, kami main ke dalam goa tepat di bawah pulau Kambing. Untuk menuju ke goa ya kami harus berenang! Hati-hati ya karena banyak ular laut yang bersembunyi di bebatuan kata si abang.



Goa yang terlihat dari luar (atas), dan dari dalam (bawah)

Dari pulau Kambing, kami lanjut hopping island ke pulau Liukang Loe. Di sana kami leyeh-leyeh juga sampai menjelang sore. Memesan indomie goreng (kayaknya tiap ngetrip ngga bisa lepas dari ini) dan makan di kursi malas menghadap laut.



Abis kekenyangan mie goreng
(courtesy photo by danceuu)

Karena kami punya banyak waktu bebas, kami pun mencoba eksplor pulau Liukang Loe. Berjalan menyusuri sepanjang garis pantai. Bertemu dengan bapak nelayan yang sedang menyulam jaring ikan. Bermain dengan anak-anak pulau hingga ke dermaga.


Mereka sangat narsis dan lucu. Beberapa kali nyebur karena pengen difoto.

Dermaga di pulau Liukang Loe

Setelah puas leyeh-leyeh dan main dengan anak-anak pulau, perjalanan kami berlanjut ke Pantai Bara (langsung dari jalur laut, tanpa jalan kaki melalui pantai Bira). Oiya, saya juga dapat kesempatan belajar mengemudikan speedboat (learning by doing!). Asik banget lah sama si abang ini, kami benar-benar puas dengan service nya. Dia juga nyantai banget, ngikutin keinginan kita. Jadi tiap spot kami ngga perlu buru, pokoknya sampe kami bosen baru pindah spot. Dan spot terakhir adalah pantai Bara. Nggak sampai sunset sih, tapi kita udah puas bisa lihat nyiur dengan latar belakang pantai dan langit yang biru. 

Pantai Bara dari boat


Nyiur



Nyiur

Dari pantai Bara kami kembali ke pantai Tanjung Bira menggunakan boat si abang. Sebenarnya bisa saja kami berjalan menyisir garis pantai hingga ke Bira, namun karena sudah lelah si abang masih setia menemani kita sampai kembali ke Bira. Lalu kami kembali ke rumah Nini untuk bilas badan yang udah lengket sejak dari pulau Kambing. Kami habiskan sore di balkon rumah nini hingga senja menyapa. Beruntung sekali hari itu, warna jingga matahari menemani sore kami sambil duduk di kursi malas.


Dari balkon rumah


Lupakan penat

Pagi hari esoknya, kami masih malas untuk bangun. Mobil yang menjemput kami baru datang jam 10 pagi. Oiya, untuk kembali ke Makassar bisa reservasi lewat Nini. Karena kendaraan menuju Makassar terbatas. Setelah baru benar-benar terbangun pukul 7 pagi, saya packing dan bergegas ke pantai Tanjung Bira. 



View kayak gini yang bikin males pulang ke Jakarta

Jarak dari rumah Nini ke pantai Bira tidak terlalu jauh. Sebelum sampai di pantai Bira, di sebelah kanan terdapat toko oleh-oleh yang berjejer.



Dapet sarung pantai. Meskipun saya nggak pernah beli oleh-oleh,
setidaknya tiap ke pantai saya beli sarung untuk saya sendiri karena fungsional sekali

Kami memang belum sempat eksplor pantai Tanjung Bira, terutama di spot yang jadi ikon pantai ini. Rumah kayu yang berjejer di tebing, lalu dibawahnya terbentang laut dengan warna yang biru. Oleh karenanya, sebelum meninggalkan Bira, saya sempatkan ke sana meski sendirian meninggalkan danceu yang masih nyenyak di tidurnya.


Aduh pengen loncat!


For your information
Total pengeluaran selama 4 hari 3 malam di Tanjung Bira dan Makassar kira-kira 700-800 ribu. Itu udah termasuk akomodasi, transportasi, makan, keliling pulau, snorkeling dan sarung yang saya beli. Termasuk juga pas nongkrong-nongkrong malam senin di pantai Losari. Untuk tiket pesawat untung-untungan berhubung Air Asia dan Tiger Air rute CGK-UPG sekarang udah di tutup. 

Dan saat nya berjumpa dengan laut!


Walaupun hari sebelumnya kami sempat mampir ke pantai Patong, destinasi utama kami adalah Kepulauan Similan. Ini yang bikin saya gatel, pengen nyebur ke laut. Setelah hujan-hujanan malam sebelumnya, membuat Brew makin ngga fit  dan meriang karena dia udah radang dari hari pertama sampai di Phuket. Tapi hal itu ngga membuatnya urung untuk ikutan saya nyebur. Setelah packing (karena kami berniat untuk drop di Phuket Town), berangkatlah kami pagi-pagi dijemput dan kemudian bergabung dengan rombongan trip Kep Similan lainnya yang semuanya bule. So, we're the only asians there.

Sambil nunggu, pamer kaos Ghost Stories

Perjalanan menuju pelabuhan Tapla Mu, tempat kami transit dan berkumpul dengan semua rombongan, lumayan jauh. Tur yang dipegang oleh Andaman Tour & Travel ini lumayan keren. Kami diberikan rubber wristband warna-warni, di mana satu kelompok dengan warna yang sama. Sarapan yang disediakan juga lumayan enak dan variatif. Kemudian kami diperbolehkan mengambil fins yang sesuai dengan ukuran. Untuk snorkel kami ngga pinjem karena bawa sendiri dari Jakarta. Berhubung bawa barang, kami menitipkan carrier di kantor administrasinya. Gratis kok. Lalu perjalanan sungguhan pun dimulai dengan speed boat. 

Speedboat yang digunakan menampung sampai 20 orang
Saya duduk di dek luar yang difasilitasi dengan kursi semi sofa yang empuk

Sumber: Google
Kalau pulau PhiPhi berada di sebelah tenggara dari Phuket, maka Kepulauan Similan berada di barat laut dari Phuket, Sebetulnya jarak dari pelabuhan Tapla Mu ke Kepulauan Similan lebih jauh, dibanding dari Phuket ke pulau PhiPhi. Namun dengan speedboat dapat ditempuh selama 1,5 jam. Kami ngobrol dengan seorang dosen dari Australia, yang katanya iri karena ngeliat kami berdua. Kami cuma senyum-senyum, ya namanya juga lagi honeymoon. Bapak kapan nyusul? Hahaha tawa kami berhamburan mengalahkan suara ombak.


Itinerary pertama adalah nyempung! A.k.a snorkeling dan nyelem-nyelem asik di spot yang katanya keren itu. Sejujurnya saya agak lupa-lupa ingat itinerary trip Kep Similans. Karena semua sudah diatur oleh agen tour nya. Lagi pula sepanjang tour, kami benar-benar menikmati laut, matahari dan birunya langit. Sampai kejadian kamera olympus tough gen 2 milik Brew jatuh kelaut saja, kami ngga begitu memusingkan hal itu. Mungkin saking asiknya, jadi yasudahlah. Kamera yang dipake nyemplung, tapi lupa ditutup system baterry lock underwater nya. Baru kerasa sedih pas udah sampai di Jakarta. Jadi postingan trip ini saya ngga masukin foto-foto underwater. Kalau harus buat kesimpulan, pastinya underwater Indonesia jauh lebih keren! Saya bandingkan dengan kepulauan seribu saja, masih lebih kece di pulau seribu. Selanjutnya, kami di drop di Pulau No. 9 (Pulau Similan). Waktunya mendaki bukit bebatuan untuk melihat laut Andaman!

Stairways to heaven

Bukit yang kami daki tidak terlalu tinggi, di beberapa blok sudah disediakan tangga yang sangat memudahkan turis. Jalan yang dilalui berupa hutan dan goa bebatuan. Kemudian kami disuguhkan pemandangan laut yang luarrrr biasa! Mungkin view underwater nya kalah, tapi view dari atas ternyata awesome! Pokoknya pas diatas, kita males banget turun sampe jadwal makan siang kita pepetin karena ngga rela ninggalin tempat itu. Begitulah ngga enaknya kalau ikutan tour, musti ikutin jadwal padahal pengen leyeh-leyeh sampe sore.

Spot yang menghadap ke pantai


Katanya mirip sama belitung ya?
Belum pernah ke sana sih, next time saya masukin ke list.

Udah segitu viewnya? Masih adalagi lah, karena bukit bebatuan nya bisa kita puterin. Dan sepanjang pemandangan yang dilihat ya laut, laut dan laut!

Laut Andaman yang terbentang luas
Itu yang dikanan mejeng pengen banget di foto.

Segitu saja fotonya pas diatas, karena waktu sebagian besar kami nikmati sambil bercerita. Bercerita tentang gimana bersyukurnya doi ketemu saya. Aiiih~ ngegombal. Dia sudah lupa sepertinya, kameranya kan abis saya jatuhin ke laut. Hahaha. Karena jam makan siang yang mepet, akhirnya kami kembali berkumpul dengan rombongan lain. Menikmati eskrim kacang hijau yang dibawa spesial oleh agen tour kami (tour yang lain sempat ngiri sama genk kita dan pengen minta). 

Makan eskrim di pinggir laut itu sesuatu...
*nyari kelapa muda ngga nemu

Lalu kami menyantap sajian makan siang ala asian dan western. Sup tomyam dan spagetti! Setelah makan siang, ternyata masih ada waktu sekitar setengah jam. Kami pun mencoba eksplor pantai yang ada di belakang bukit. Tidak jauh, cukup berjalan kaki sekitar 5 menit melewati hutan. Brew di sini menggelar flysheet dan tidur dengan asoy nya. Saya duduk di ayunan tepat disebelahnya sambil menikmati deru angin laut. Kalau ngga ikut tour, pasti kami udah bangun tenda di sini. Begitu pikir saya. 

Ngga afdhol rasanya kalo ngga foto di sini

Setelah itu kami melanjutkan itinerary trip, kalau tidak salah ingat kami snorkeling lagi dan kemudian kembali ke pelabuhan Tapla Mu. Kami di antar kembali langsung ke Phuket Town. Perjalanan selama lebih dari tiga jam membuat kami tertidur pulas di mobil. Kami di drop persis di depan Casa blanca Boutique Hotel. Kamar yang kami pesan sudah didesign untuk penganten baru. Luculah, banyak bunga-bunga bertebaran di atas kasur. Di meja pun disuguhkan minuman dan buah-buahan tropis. Karena kami belum makan malam, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar malam Talad Kaset, di mana banyak berjejeran warung makan kaki lima. Kami pesan sate, nasi goreng dan mie kuah. Entahlah disana namanya apa, yang pasti full seafood!

Petualangan yang seru dan melelahkan di hari ketiga kami
ditutup dengan hidangan seafood di pasar malam!


Sebuah perjalanan panjang 5 hari dengan teman perjalanan sejati. Perjalanan tanpa rencana, yang menjadi awal dari segalanya. 


A true travelmate.

Tiga hari sebelum keberangkatan, di situ saya mulai sibuk mencari tiket pulang pergi. Kata kunci Wakatobi, Sumba Barat, Alor, sampai Tanjung Puting saya cari. Saya berinisiatif untuk trip domestik, karena ke tiga destinasi itu lah impian dari dulu sampai hari ini belum kesampaian. Tapi keputusan ada pada si penyumbang dana utama. Perjalanan kita terputuskan Jakarta - Phuket - Krabi - Jakarta. "Harga tiket pulang perginya sama aja kan? Yaudah kasian kan paspor gue masih kosong halamannya. " Katanya sambil tertawa-tawa. Memang delapan bulan sebelumnya saya pernah memaksanya untuk bikin paspor biar kalau tiba-tiba mendadak keluar negri ngga perlu repot-repot bikin sama calo.

Setelah tiket di tangan, ternyata ada kesalahan nama yang baru bisa diberesin selama satu hari. Bolak balik kontak maskapai penerbangan, akhirnya bisa diperbaiki. Ya ampun, mentang-mentang baru seminggu kawin, ngetik nama aja masih salah. Grogi kali. Hahahaha. Sisa satu hari, kami siap in buat packing. Itinerary hanya tinggal kenangan, tidur ngga bisa tidur, kami jadi bangun kesiangan. Penerbangan jam 9 pagi pun kami kebut naik taksi langsung ke Bandara. Yang penting berangkat, urusan di sana ngapain dan gimana, lihat saja nanti. Begitulah pikir kami sambil ketawa-ketiwi saat sudah duduk di dek pesawat. "Hampir telat."

Matahari pagi menyambut kami!
Kami sampai di Bandara Changi tepat waktu. Lho, kenapa pesawatnya turun di Singapur? Jadi si doi katanya pengen banget makan eskrim di Orchard Road. Karena doi belum pernah ke Singapur, saya pun akhirnya sok-sok an jadi guide, bicara soal maju dan rapihnya negara ini, sambil nunjukin ini itu. Seru banget, karena kami harus lari-larian buat ngejar jadwal pesawat ke Phuket (kami cuma punya waktu 4 jam di Sing). Kami cuma duduk manis sebentar di cafe depan patung Merlion, foto lima kali jepret trus balik lagi ke Changi. 

Kesampaian juga meski pun bukan di Orchard Road

Kami sampai di bandara Phuket pukul 9 malam. Oya, selama perjalanan di Thailand, saya hanya booking satu penginapan. Tentu nya yang dekat dari bandara, namanya Cozy Coco Apartment dekat dengan pantai Nai Yang. Untuk sampai kesana dari bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena sudah malam, hanya ada taksi yang bisa mengantar kami sampai kesana. Semuanya nembak 300 baht. Fiuh. Setelah check-in, kami ke 7-11 yang tidak jauh dari penginapan. Karena kebanyakan warung makan sudah tutup. Di sini kami temui, 7-11 yang berbeda dengan yang ada di Jakarta. Tidak ada meja kursi yang bisa digunakan untuk makan. Akhirnya kami bawa balik ke penginapan, dan makan di atas kasur. Hari pertama yang melelahkan, dan disambut cerah pagi yang memudarkan rasa letih.

Selamat pagi! (Dari jendela kamar)

Karena kami benar-benar ngga bikin itinerary, maka setelah bangun tidur, Jemmy dan Mink adalah orang yang pertama kali saya cari. Mereka pasangan suami istri pemilik Cozy Coco, yang dengan senang hati membantu kebutuhan kami. Karena tau kami belum menentukan tujuan wisata, Mink menunjukan beberapa brosur pulau-pulau eksotis di dekat Phuket. Ia ternyata suka bertualang, yang ditunjukan bukan destinasi terkenal seperti phiphi island atau pun maya bay. Ia pun bercerita, ia baru saja kembali dari perjalanan ke Koh Racha, spot diving yang keren di sana. Dari beberapa destinasi turis, kami pun memilih Koh Similan, setelah mengitung budget yang paling cukup. Tanpa diminta, Mink membantu kami untuk reservasi paket trip Koh Similan untuk hari ke tiga kami di Phuket. "Lalu, hari ini kita mau ngapain, Brew?" Lirik saya ke doi, sambil nyengir. 

Kami pun keluar penginapan untuk cari sarapan. "Mending kita mikirnya sambil makan, siapa tau ada ide hari ini mau ngapain." Di dekat penginapan ternyata ada warung makan dimsum yang lumayan ramai. 

Ini ceritanya mampir ke warung nyobain makanan kecil asli sana, yang mirip-mirip sama lepet.

Thai tea. Pokoknya selama perjalanan disana kita selalu pesan ini. Suka!

Berhubung kami ngga nyiapin apapun, kami membeli kartu sim Dtac yang berlaku seminggu. Waktu itu sih kami beli dengan harga 199B. Berguna banget buat browsing sama ngakses gps, jadi sambil makan saya coba browsing kira-kira hari kedua perjalanan kami bakal dihabisin buat ngapain. Ternyata, Phuket Town ngga jauh dari bandara. Sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan roda dua. Maka saat kembali ke penginapan, kami mencari info penyewaan motor. Mink kaget, karena kami berencana pergi ke Phuket Town hari itu juga dan kembali lagi ke penginapan sorenya. Kamipun tertawa, kalau satu setengah jam sih di Jakarta itu biasa aja, mbak. Mink juga heran, karena biasanya tamu yang menginap di Cozy Coco hanya semalam. Tidak ada turis yang sengaja menginap lebih dari sehari di dekat bandara. Tentu saja, kami terjebak karena ngga bikin itinerary!

Ternyata tempat sewa motornya ngga dekat. Seorang ibu paruh baya yang sedang berhenti di pertigaan jalan pun saya tanyai, dengan bahasa tubuh yang acak kadul, karena warga disana tidak terlalu fasih berbahasa inggris. Ia pun mengerti, lalu menawarkan saya untuk memboncengnya. Saya pun diantarnya ke penyewaan motor. Baik sekali si ibu. Di penyewaan motor, ternyata kami ngga bisa nego! Untuk 12 jam, kami dikenai 300B. Langsung lah kami berangkat ke Phuket Town, dengan modal gps dan motor sewaan. 

Jalan yang kami lalui adalah jalan lintas kota, jalan lurus dimana kanan dan kiri banyak pertokoan dan kompleks rumah warga. kami mencari masjid lalu sampailah ke sebuah gang kecil yang warganya bermayoritas muslim, untuk menunaikan sholat Jumat. Saya duduk di warung kecil yang beratapkan dedauan pohon tepat di samping masjid. Memesan makanan, entah apa namanya, penampakannya seperti lumpia yang digoreng trus dipotong-potong dan diberi bumbu kacang. Ibu Sakina, si empunya warung, menyapa saya dan memulai percakapan kami dengan bahasa Malaysia campur aduk bahasa Inggris. Obrolan kami panjang sekali, saya sampai lupa kalau kami baru saja bertemu, namun sudah seperti saudara. 



Ibu Sakina, yang suka tersipu malu saat ingin bertanya sesuatu dalam bahasa inggris, namun ia bingung bagaimana mengungkapkannya.

Langsung berburu food stall pinggir jalan, pas jam 12 teng kami sampai di Phuket Town

Perjalanan kami lanjutkan. Sesampaikan di Phuket Town, yang terlihat seperti kompleks terkotak-kotak yang rapih. Kami parkir motor di sembarang tempat di sisi jalan yang sudah ditandai marka parkir. Sebenarnya, selama di Phuket belum nemu tukang parkir. Jadi aman-aman saja sepertinya parkir di mana pun. Muter-muter lah kita berjalan kaki di bawah terik matahari. Sambil bercerita, dan tertawa ria. Sesekali berhenti di satu toko, memanjakan mata dengan souvenir-souvenir lucu dari negeri gajah. 

Ngadem bentar

Kami mampir ke Casa Blanca Boutique Hotel untuk reservasi besok malamnya di Phuket. Di arah perjalanan kembali ke Cozy Coco, terdapat banyak sekali pantai-pantai sepanjang Phuket bagian barat. Kami pun mampir ke Patong Beach. Saat menuju kesana, kami takjub dengan suasana jalanan yang meliuk-liuk dan turun yang penuh dengan hostel-hostel, toko-toko, benar-benar kawasan turis. Berbeda sekali dengan yang ada di dekat bandara. Dalam hati pun menyesal, kenapa ngga nginep di Patong Beach aja. Banyak yang bisa di eksplor, dan banyak tempat makan seafood yang bisa dicobain. Ya sudahlah, di mana pun kan yang penting sama kamu. Hahaha, dan senja pun kami nikmati di atas bebatuan pantai yang memanjang mengikuti garis pantai. Sambil nyemil jajanan pantai yang dijual juga di sepanjang trotoar.


"Lupakan kolesterol, kapan lagi menikmati seafood semurah dan se-fresh ini!"


Setelah senja pergi, kami menikmati malam dengan memesan seafood yang dijual di sepanjang jalan. Di bawah lampu jalanan yang agak remang dan suara ombak yang dikalahkan oleh ramainya pengunjung. Ah, tapi kami tak bisa lama di sana karena harus kembali ke Cozy Coco dan awan di ujung sana mulai gelap pertanda hujan. Kami menyusuri jalan pulang dari Patong beach ke penginapan dengan jalur yang berbeda saat kami ke Phuket Town. Dari Patong beach, jalanan yang kami lalui adalah jalan perbukitan yang meliuk-liuk naik turun. Sebelah kanan hutan dan sebelah kiri menghadap laut. Banyak hotel dan resto mewah yang berjejer sepanjang jalan. 


"Our" first beach.
Patong Beach, Phuket Thailand | 28 November 2014

Lima belas menit sebelum sampai ke Nai Yang, hujan pun turun dengan deras. Membuat saya sedikit ketakutan, karena jalan yang kami lalui sangat lah sepi. Mana gelap dan banyak sekali petir. Sampai di tempat penyewaan motor, kami kembali ke penginapan dengan berjalan kaki. Hujan sudah sedikit reda meski rintik, menyisakan dingin menusuk kulit. Berdua kami di bawah payung, sesekali saling melemparkan senyum. Malam pun menjadi hangat. Bau hujan dan rumput.


Bersambung ..




"Our" first beach
Patong Beach, Phuket Thailand | 28 November 2014





"Sudah sering, nikmatin aja."


Begitu kamu bilang, waktu saya mengajakmu untuk foto bareng dengan latar pantai Dolphin. Mendirikan tenda serambi menikmati senja. Mengajarimu berenang bebas tanpa rasa takut. Bercerita di atas kapal mengalahkan suara mesin. 


Di malam yang terang dengan bayang-bayang pepohonan oleh cahaya bulan, kamu bilang, "Aku mulai suka sama laut." Sambil nyengir, karena selama ini yang saya tahu kamu hanya suka naik gunung, ke pantai tuh panas dan gerah. Hahaha, you've been trapped!

Belum ke Malang kalau belum nyobain bakso bakar.

Dikutip di majalah aneka yess, kira-kira saya masih SMP waktu itu. Budhe Nik yang asalnya memang dari Malang melirik majalah yang sedang saya baca, lalu menjanjikan saya bakso bakar jika saya mau main ke Malang. Dua kali ke Malang, tapi janji itu tak juga ditepatinya, mungkin karena beliau sibuk mengurus anak-anak nya yang masih kecil. Kesempatan itu akhirnya saya dapat bersama Brew saat main lagi ke kota Malang. 





Swimming here, don't wanna leave this place..
Pulau Kambing, Sulawesi, Indonesia | November 18th 2013