(29 Februari) Kami berangkat dari Delhi pukul sepuluh malam, menunggu di titik jemput bus Holiday Appeal di depan Stasiun Metro Vidhan Sabha exit 3. Bus ini baru saya pesan sejam sebelum take off dari Bandara Soekarno Hatta. Semudah itu memesan bus di India menggunakan aplikasi RedBus, berbanding terbalik dengan pemesanan kereta yang sungguh makan waktu. 



Sebuah kolaborasi catatan perjalanan musim semi yang saya abadikan dan 
dinarasikan oleh teman seperjalanan saya, Hana.


1. Salah pilih tanggal perjalanan

Kenapa pilihan liburan nya ke India? Pertanyaan yang sama dari sanak famili dan teman-teman dekat saya. Sejujurnya saya kepingin balik lagi ke Jepang di musim semi. Tapi September 2019 kemarin ternyata Air Asia (nggak kapok-kapok pakai maskapai ini) nggak buka promo ke Jepang, yang ada Cathay dan Ana tapi hanya sampai Desember 2019. Esok hari nya, Nisa iseng mengirimi saya promo Jakarta - Delhi PP 3 juta. Emm, nggak promo banget sih tapi lumayan. Langsung lah tanpa babibu kami beli tiket untuk awal Maret 2020. Jadilah kami berlima, waktu itu sedikit ada drama juga karena ada teman kami yang mau nambah lagi tapi kita tolak karena udah terlalu rame. Asik nih bisa lihat salju ke Kashmir. Tanggal yang dipilih 28 Februari - 9 Maret, supaya nggak spring banget dan salju nya masih fresh.


Dari awal tahun 2018, saya dan Genk Wacana sudah mulai merencanakan trip bersama ke Nepal. Ketika itu inspirasinya gara-gara salah satu film yang kita tonton bareng saat open house di rumah saya. Filmnya Bollywood, judulnya rahasia (a.k.a. lupa, nanti saya tanyakan di grup), yang pasti sepanjang nonton scene gunung nya bikin nganga. Saking seriusnya kami sampai memesan tiket Jakarta - Kathmandu PP lewat Rama, salah satu anggota genk yang pekerjaan sampingan nya memang travel agent. Jadi tiket bisa dipesan dan bisa di bayar dalam waktu seminggu. Sudah lewat seminggu namun tiket belum dibayar juga, yasudah nanti pesan lain kali lagi hingga akhir tahun tidak ada kabar dan saya langsung beli tiket ke Korea Selatan untuk April 2019.


Jumat pagi kemarin aku bangun lebih siang dari biasanya. Hari itu aku sedang malas membuat sarapan. Setelah minum air putih dan memanaskan air di kettle, aku bergegas keluar rumah menuju warung nasi uduk sambil membawa kantong belanja dan kotak makan. Setelah membuka kunci pintu rumah paling depan, aku kaget melihat pintu gerbang rumah terbuka. Langsung ku arahkan pandangan ke garasi dan mengecek kendaraan kami yang ternyata masih utuh. Aku langsung jengkel menyangka Bre pagi-pagi kok buka pintu garasi dan lupa menutup lagi, karena pagi itu Bre bangun duluan dari aku. Aku kembali ke kamar sambil ngomel. Bre membantah "Aku belum buka pintu depan sama sekali kok. " Heuuu~ Kami langsung lari ke garasi rumah dan melihat dengan teliti kondisi kunci kontak dan kunci cakram motorku yang ternyata sudah dibobol. "Kita abis kemalingan brooooow!"


Belum sempat nulis, jadi posting foto dulu. Selamat Niken, kamu sudah berhasil melewati suka duka 30 tahun di dunia yang fana ini. Selamat datang di umur 31. Apa cita-citamu yang belum terwujud?

(Sumber Foto: Situ Gunung Suspension Bridge)
Naik kereta api Tut..tut..tut. 2 jam perjalanan menggunakan Kereta Api Pangrango dari Stasiun Paledang Bogor menuju Stasiun Sukabumi. Kenapa Sukabumi?

Saya mencoba menulis rincian perjalanan ini mumpung masih berada di tahun yang sama, April 2019 kemarin selama 11 hari kami keliling negeri gingseng ini saat musim semi. 


Bangun tidur kami disapa embun pagi setelah semalaman Jakarta ditempa hujan deras. Adem banget rasanya. Dan Alhamdulillah hari ini tepat 5 tahun kami bersama. Terima kasih sudah berbagi suka dan sama-sama melewati duka.