Some people asked me why did I never bored having a vacation to Kepulauan Seribu?
In one month I could go there for three times. Hehehe..
It's just because the destination isn't my goal.
"Our togetherness, laugh and make new friends are."
Pulau Kayu Angin Melintang. Kep Seribu, DKI Jakarta |  13-14 April 2013

Maaf ya ganteng, gak fokus. Motret kamu bikin deg-deg an.
Setelah tiga hari terombang-ambing di laut, lalu pagi, siang dan sore nyemplung, saatnya berwisata safari. Horee..! Kalau anak-anak akan riang diajak bermain ke kebun binatang Ragunan, maka kami para young traveler memilih kebun binatang yang lebih eksotis dari kebun binatang di mana pun. Karena kami akan berjumpa dan bercengkerama dengan naga terakhir di bumi, Komodo. 


Pulau Komodo dan Pulau Rinca adalah salah satu destinasi utama di Flores Barat. Setelah menikmati matahari terbit di hari ke empat sailing trip (18/11/2012), kami sarapan pagi bersama di atas kapal dengan menu pancake sederhana dengan selai nanas dan stroberi. Setelahnya, pelayaran dilanjutkan ke Pulau Komodo. Kami pun sempat melihat dari kejauhan desa di Pulau Komodo yang terletak di tepi pantai. 


Desa di Pulau Komodo yang bermayoritas Islam.
Dermaga di P. Komodo yang baru setengah jadi
Pulau Komodo, dikenal juga sebagai Loh Liang atau tempat pusat wisata dimana para wisatawan dapat melihat langsung satwa reptil terbesar di Pulau Komodo. Beberapa saat lalu di tahun 2011-2012 sempat terjadi gempar tentang new seven wonders untuk satwa ini yang saya sendiri tidak terlalu ambil pusing. Mungkin setelah kejadian itu, ada baiknya karena beberapa tahun terakhir, pulau ini mengalami perkembangan yang maju. Ya tentu harus bagus dong! Karena wisatawan dari seluruh dunia akan datang kemari melihat satwa naga terakhir di bumi yang satu-satunya hanya ada di negara kita ini. Tetapi dibalik itu ada "gerutu" dari beberapa teman saya tentang biaya masuk untuk Kamera DSLR dan pocket kamera sebesar lima puluh ribu rupiah. Hahaha.. 

50 ribu buat foto di sini! Cincay, berpikir positif aja lah buat kemajuan taman nasional ini :)
Kalau nggak mau bayar yaudah motret pake kamera ponsel saja.


Medium Trek, salah satu jalur trekking yang kita pilih. Kami ditemani Alvin, sang Ranger yang bahasa Inggrisnya jago uy! Beberapa kali kami melihat si Ganteng ini berkeliaran. Namun, semakin kamu mendaki justru tak satupun si Ganteng ini menampakkan wajahnya. Pendakian kami pun terhenti sebentar di Sulfurea Hills. Lanskap laut flores terlihat dari atas sana.

Yeah Tom, we didn't take a bath for 4 days yet!
Setelah turun dari Sulfurea Hills, kamu justru menjumpai banyak Komodo yang sedang berleyeh-leyeh di bawah rumah panggung yang kata Alvin adalah dapur. Kami pun berkumpul mengelilinginya, sambil menahan bau menyengat yang katanya bau kotoran Komodo. Saya pun sempat mendekati si Ganteng untuk merekam kedip matanya. Baru dua langkah maju, si Ganteng ini tiba-tiba menoleh ke saya dan... Hup! semuanya kaget lalu saya mundur dengan sigap. Fyuuh. my life shorten by 10 years..

Ngadem ya bang?
Terdapat sebuah cafe kecil di pulau ini yang dirancang untuk para wisatawan yang setelah lelah trekking dapat menikmati minuman dingin yang dijual. Sebenarnya jalur trekking medium tidak begitu panjang. Namun, panasnya matahari dan jarang sekali adanya pohon berwarna hijau membuat saya gerah dan ingin sekali meneguk teh botol dingin. Selain itu, ada beberapa penginapan yang berbentuk rumah panggung (tentu dibuat begitu biar si komodo nya ga sembarangan bisa masuk) yang bisa kita sewa jika ingin mengadakan penelitian di taman nasional ini. Sebelum meninggalkan pulau ini, jalur keluar menuju dermaga pun dirancang sehingga ada pasar kecil yang menjual souvenir si Ganteng.

Dari pulau Komodo, kami langsung ciao ke Pulau Rinca atau Loh Buaya. Tidak terlalu jauh dari Loh Liang. Kata Bang Adi, guide kami, Komodo di Loh Buaya jumlahnya lebih banyak di banding yang ada di Loh Liang. Hoho, apakah lebih ganteng? Kayaknya sama aja sih. Sama-sama menakutkan, takut di caplok tiba-tiba. 

Siap-siap buat trekking lagi. (12 pm. Panasnya gilaa!)
Saya, di sebelah kiri.
Kami memilih jalur medium lagi, karena tak mau berlama-lama dan ingin segera nyebur lagi ke Pantai Merah (-lagi, karena kemarin tak puas berenang di sana). Entah faktor beruntung atau tidak, justru di Loh Buaya kami tidak menjumpai banyak komodo. Dari ranger (saya lupa namanya), kami mendapat cerita neneknya beberapa bulan lalu pernah digigit komodo. Cerita lengkapnya saya lupa lagi, sudah hampir 6 bulan lalu sih, nyesel kan ngga langsung ditulis. Intinya sih dari perjalanan wisata safari demi ketemu si Ganteng ini membuat saya jadi benar-benar keling (hitam legam) dan bangga kalau udah ketemu Komodo. Hmm.. Kapan lagi? Keburu punah kan?

I couldn't be closer anymore!

Tak penting kemana kita menuju.
Tapi apa yang kita ceritakan di tua nanti.

Anak pulau ini cuma butuh google buat nyemplung.

credit to Edy











saat membuka mata
matahari menyapa
embun berjatuhan
rumput-rumput bersenandung

Dan tentunya cerita yang kita bagi.
Bandung, 14 Maret 2013

Rasa itu kau rindu
dan kau inginkan tuk segera tiba
dan kembali bermimpi
hanyut dalam hangatnya pelukan
cahaya, mentari..

dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu

tuk mengingatnya di saat dia tak ada.
esok, pasti jumpa..
(Banda neira - kau keluhkan)


Jumpa mentari pagi saat berlayar dari Lombok ke Sumbawa
Saat keluh tiada guna, ingatlah masih ada hari esok :)

"Salam senja.. Pantai pertamaku di tahun ini."
Pulau Melinjo. Kepulauan Seribu, DKI Jakarta | 2 Maret 2013

Sekarang sudah 2013, memasuki bulan kedua pula. Sudah lewat hampir tiga bulan lalu, catatan perjalanan saya ke Flores terhenti di pulau Sumbawa. Tentu saja sebelum benar-benar basi atau jadi lupa. Hehe.. Sailing trip adalah pilihan paling tepat untuk saya, karena saya ingin lebih dekat dengan laut, beromansa, bersetubuh dan merasakan setiap lekuk dan aromanya. Selama empat hari, makan dan tidur di kapal, menikmati terik mentari, timbul dan tenggelam, fajar dan senja dari kapal. Untuk menuju Flores saya memilih berlayar dari Lombok selama empat hari.

Selamat pagi!


Flores menyambut ku pagi itu(17/11). Apa kamu ingat? pertama kali kamu bilang tanpa berpikir panjang, saat sedang minum kopi flores di warung kopi depan kampus. Ah simpan biji kopinya di dompet, siapa tau bisa sampe sana. Pagi ini yang menyapamu adalah mentari bulat-bulat dari laut timur. Bukan mimpi, ini nyata. Saat awak kapal dan teman-teman seperjalanan masih puas tertidur setelah delapan belas jam pelayaran dari laut Sumba, saya sudah terbangun dan duduk di dek depan menunggu mentari. Saat paling intim dengan merasakan angin laut timur dan menikmati suara debur ombak yang menabrak dinding kapal.

Sedikit pose ala "saya seorang pelaut"
Bintang-bintang yang berkedip di malam sebelumnya menandakan bahwa esoknya, hari ketiga dalam perjalanan sailing trip ini akan cerah. Benar saja, biru langit meneduhkan sepanjang pelayaran kami untuk mengeksplor bagian barat pulau Flores. Kalau pulau-pulau lain terlihat hijau dari kejauhan, maka pulau di Flores terlihat lebih mentereng dengan dominasi warna coklat atau kemerahan. Ini lah yang menjadi ciri khas pulau-pulau di Flores. 

Saat di pulau Jawa sudah memasuki musim hujan, pertengahan November di Flores ternyata masih kering. Meski sempat hujan di malam pertama sebelum memasuki Sumbawa, di Flores saya tidak menemui hujan serintik pun. Matahari menjadi kawan setia selama 3 hari terakhir saya di kepulauan paling barat dari Nusa Tenggara Timur ini.

Can't stop looking at you..
Setelah tiba di laut Flores, kami menuju perbukitan tinggi Gili Laba untuk melihat view Flores dari atas.  Membutuhkan sedikit trekking untuk mencapai puncaknya. Sendal jepit saya pun semakin longgar karena beberapa kali harus menahan beban di kemiringan dan menabrak batu-batu. Beberapa teman saya yang pakai flip-flop pun akhirnya nyeker berpanas-panas ria. Nggak masalah kali buat bule yak, trekking aja pake bikini. Hahahay..

Kepulauan barat Flores dari atas.
So, what are you doing here, Niken? 
I feel like in another world..
"How many days did you need when climb Mt Rinjani?" He said 3 days. Gilaaak.. Keren abis lah orang-orang dari negeri barat ini, karena orang Indonesia butuh 5 sampai 6 hari untuk naik turun gunung Rinjani. Saya pun mempercepat langkah kaki untuk menuju puncak. Sambil terengah-engah kepanasan, apalagi beberapa spot ada yang terbakar membuat keringat mengalir di kening. 

Matahari mulai terik menuju ubun-ubun. Rasanya berlama-lama di sini saya masih betah.
Tapi lebih baik nyebur, warna biru lautnya menggoda!
Dan tripod yang sengaja dibawa sampe atas pun akhirnya berguna juga buat foto bareng. Say cheeseee!! 


Setelah berpanasan di Gili Laba, saatnya nyebur! Lokasi snorkeling yang sudah ditunggu-tunggu, Pantai Merah atau terkenal dengan nama Pink beach. Di kapal saya selalu stand bye menggunakan drysuit. Kalau tiba-tiba kepengen nyebur kan tinggal nyebur, enggak repot-repot ganti baju, hehe. Pantai merah di sini arusnya besar. Kapal besar dilarang bersandar di tepi pantai, sehingga berenang menuju pantainya butuh tenaga ekstra. Baru kali itu saya berenang tanpa pengaman atau penanda(torpedo marker, bukan life jacket), karena beberapa kali sempat kelibet-libet sama talinya makanya saya malas. Saya pun berenang, snorkeling dan sesekali mencoba freediving sendirian. Yang alhasil membuat beberapa teman saya khawatir. Hahaha..

Pantai Merah dari kejauhan
Dinamakan pantai merah, karena memang pasirnya mengandung batuan berwarna merah. kalau diamati dari dekat tampak sekali pasir-pasir halus berwarna merah. Saat menyelam pun bisa terlihat batuan merahnya. Alam bawah laut pantai merah ini sudah tak diragukan lagi. Ketinggian satu meter saja segala jenis ikan dan koral berwarna warni bisa ditemui. Mengikuti saran teman saya yang sudah duluan sampe di isni pun akhirnya selama trip saya dua kali ke pantai merah! Daftar snorkeling di pulau Kelor pun dicoret. Hehe..

Mawar laut
Segala jenis ikan saya hanya sempat merekamnya dengan video.
Tunggu ya!
Sepertinya saya harus berlatih memotret di dalam air. Beberapa hasil rekaman video underwater saja banyak yang shake (wishlist 2013: punya gopro). Yasudahlah, saya memang ditakdirkan harus menikmatinya saja, tak perlu repot-repot merekamnya. Walaupun jelek, tapi masih bisa masuk proses editing, kok. Jadi tunggu ya videonya, saat menulis ini videonya masih digodok, belum matang. Hehehe.. Pun cerita petualangan saya di Flores masih panjang. Masih berlanjut di episode berikutnya. Seperti takkan habis untuk diceritakan. Bisa berenang bebas di laut Flores adalah impian saya yang kesekian yang sudah terwujud. Ah.. Thanks dreams! Because of you, I had many wonderful journeys!