Senang banget kalau udah ngutak-ngatik tampilan blog. Memoles cantik biar sedap dipandang mata. Padahal mah cuma diper-simple aja dengan ganti template dan main sedikit warna. Tujuannya biar pas ngeblog jadi lebih bersemangat. Jadi mood booster. Tapi sayangnya ganti template gratisan ini suka banyak minus nya, masih bertebaran bug yang kadang ngeselin buat dibenerinnya. Salah satunya padalah Twitter card dan Facebook Open Graph yang sering kita gunakan untuk sharing link. Kalau hanya ganti-ganti warna, jenis hurus, padding size, dan pengaturan lainnya yang tidak ada di bagian Customize sih kita tinggal klik kanan > inspect page, terus mainin deh css nya (*too much leisure time).


Pelancongan kami di Innsbruck tidak masuk dalam daftar itinerary, jadi saat baru tiba kami benar-benar blank tak tentu arah. Bekal nya hanya dari "pernah baca" postingan salah satu anggota grup Backpacker Dunia, lalu saya mencoba mengontaknya lewat pesan di facebook saat dalam perjalanan dari Munich. Karena tidak ada jawaban, yaudah deh kita pasrah saja besok mau gimana. 


Saya baru saja mengadopsi berbagai macam jenis tanaman manja dari Diny, seorang pecinta hutan sejati yang ku kenal. Berhubung doi sekarang udah terbang ke Arizona, maka berbagai tanaman hias koleksinya terpaksa harus dijual agar terus terawat. Dan sisanya beberapa tanaman favoritnya jatuh ke rumahku. Katanya ini bukan titipan, tapi hadiah agar saya bisa mengadopsi dan merawatnya, dan jikalau sudah beranak pinak kan bisa dibagi-bagi lagi. Hehe.


Nyasar di kota ini adalah hal yang wajar. Bahkan pakai GPS pun menurut saya ngga akan ngebantu. Mau nanya orang juga susah karena petunjuk jalannya ngga akan membuat kita mengerti. Muter-muter di kota ini selama tiga hari udah cukup membuat ketek kita basah dan kaki bengkak-bengkak. Memang, nyasar adalah salah satu seni dalam traveling, tapi yang satu ini sepertinya ngga bikin kita mau balik lagi ke kota yang katanya bentar lagi akan tenggelam ini, karena faktor tempatnya yang terlalu crowded. Tapi secara keseluruhan, Venice the romatic city of water, kota ini cukup asik buat dijelajahi terutama bagi para pecinta kota dan bangunan tua. 

Kami meninggalkan Vienna dan melanjutkan perjalanan ke Innsbruck (11/09/2016). Ini adalah perjalanan dadakan, karena rencana awal seharusnya kami langsung ke Venice. Dua minggu sebelum berangkat ke Innsbruck, waktu itu kami masih di Ceko, tiba-tiba saya kepikiran kepingin melihat pegunungan Alpen. Namun, karena Swiss tidak masuk dalam jajaran itinerary, saya putuskan untuk ke Innsbruck, melihat The Austria's Alpen. Beruntung sekali, mungkin sekitar setahun sebelumnya saya pernah membaca postingan di grup Facebook Backpacker Dunia tentang kota ini. Jadilah trip ke Venice selama 5 malam saya coret menjadi tiga malam pertama kami habiskan di kota Innsbruck. And that's really worth!


Dapat kado ulang tahun berupa cookies handmade di bulan Februari kemarin, rasanya begitu bahagia karena cookiesnya memang enak. Hehe, setelah beberapa kali bikin kue bolu selalu bantet, si adek kesayangan yang kuliah di ilmu gizi dan hobi bikin berbagai jenis kue kini berhasil bikin cookies yang ludes ngga ada hitungan jam. Jadi rasa-rasanya, saya jadi kepingin bikin sendiri karena selama ini beli di supermarket ngga ada yang bikin jadi favorit. Mumpung lagi momen mau dekat lebaran, cookies ini bisa jadi pilihan selain kue nastar, putri salju atau sagon keju yang udah biasa. 

Special gift from Hani, my little sista!


Dari kartu pos yang saya beli di Albertina Platz, kami mencari info bagaimana cara menuju ke tempat yang ada dalam foto dan besoknya langsung kita samperin. As simple as that. Kami berangkat naik tram, pagi itu masih sepi. 


Kalau lagi ke pengen banget makan somay, mau ngga mau harus bikin sendiri karena susah banget nyari yang enak di Jakarta. Beda kalo jaman nya di Bandung dulu, somay mamang-mamang aja enak. Kalau kepingin banget beli, bela-belain ke Jalan Ternate, Bandung demi makan somay favorit yang cuma buka di jam kerja. Nah lagi momen nya bulan Ramadhan kan, saya mau posting tentang cara buat somay ini yang menurutku mudah sih.


Dari Budapest, kami sampai di Terminal Bus U2 Stadion Vienna (07/09/2016) sekitar sore hari setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam (dengan transit Bratislava). Kami muter-muter dulu di dalam terminal mencari informasi. Blank banget. Jetlag lagi. Yang pasti hal pertama kami lakukan adalah membeli tiket transport, karena lokasi terminal dengan penginapan AirBnB yang sudah saya booking agak jauh. Awalnya agak linglung, penyakit yang biasa terjadi saat baru tiba di suatu kota. Di tempat asing dan mesin tiket baru. Ketemu deh sama mbak-mbak yang ternyata orang Indonesia dan seneng gitu kayaknya ketemu kita. Terus tiba-tiba ngajakin ngobrol pake bahasa Jawa. Wong Malang toh.