Zaanse Schans

August 31, 2016


Rasanya menjadi suatu wajib ke Belanda untuk mampir ke Zaanse Schans, desa kecil yang lokasi nya sekitar satu jam dari Amsterdam menggunakan transportasi umum. Desa yang nampakin ke-Belanda-an ini punya semua yang jadi khas Belanda. Ada kincir angin, sungai-sungai kecil, sepatu bakiak, dan keju (yang ngga ada Red Light District). Untuk ngelilingin desa ini kita ngga dipungut biaya, masuk ke rumah keju nya aja free, kita bebas nyobain testernya. Kecuali untuk masuk ke museum-museum nya baru kena biaya. Dan juga toilet umum ke charge rata-rata toilet €0.5 - 1, duh lumayan banget kan sekali pipis kena 8 ribu! Di sini air gratis (tap water di mana pun bisa diminum), tapi pipis bayar. Hahaha. 

Pagi kedua di Amsterdam, kami mengunjungi sign IAMSTERDAM yang dilanjut dengan sarapan roti yang kami beli di Albert Heijn (AH), salah satu supermarket idola di Belanda. Menunggu AH buka, kami nongkrong cantik di bus stop sambil menikmati matahari terbit. Setelah sarapan secukupnya, kami langsung bertolak ke Zaanse Schans menggunakan bus langsung dari depan AH. Oiya, selama di Amsterdam dan Utrecht kami ngga pake tourist card, karena cukup pake OV chip card kita udah bisa kemana-mana. Itu juga karena tujuan kami ngga banyak masuk museum.

Maafkan kenarsisan saya ya, masih euforia Eropa banget.
Kami naik bus dulu ke Amsterdam Sloterdijk, lalu dilanjut dengan naik kereta NS Sprinter ke Koog-zaandijk. Jangan lupa kalo naik bus/tram, saldo OV chip card minimal harus ada €4, dan kalo naik NS Sprinter minimal harus ada €10. Sampai di stasiun Koog-zaandik, kami bengong dulu nyari toilet yang ternyata masih tutup. Langsung deh jalan kaki ke Zaanse Schans melewati komplek perumahan yang adem anyem bau coklat. Ternyata kita lewat juga pabrik coklat (sampe lupa kalo lagi kebelet). Jadi kangen kan, dulu waktu masih ngekos di Dayeuh Kolot, tiap sore kebauan coklat. Romantis ah~

Untuk menuju Zaanse Schans, ada alternatif sewa sepeda dan bike taxi. Tapi setelah nekat jalan kaki, ternyata enakan jalan kaki karena melanglang di Eropa itu artinya siapkan kaki untuk melangkah ratusan kilometer. Sangat menghemat biaya transport, dan tentunya mata lebih dimanjakan dengan arsitektur Eropa yang cantik. Karena memang rata-rata sehari kami berjalan kaki 5-10 kilometer. 

Kalau foto sebelumnya dengan latar depan sungai, yang ini kincir anginnya membelakangi ladang
Akhirnya nemu juga toilet yang buka di Zaanse Schans. Ini pertama kalinya nih kami pake toilet yang untuk melewati pintu masuk nya musti masukin koin euro ke mesin otomatis. Biar ngga rugi jadi sekalian deh cuci muka, refill air minum, dan mandi #eh.

Mengelilingi Zaanse Schans ngga cukup hanya memandangi kincir anginnya yang gede itu aja, kita bisa masuk ke masing-masung kincir angin. Melihat langsung cara kerja kincir angin. Anyway, karena kami bukan penikmat kincir angin, jadi kami cuma foto-foto lucu pake latar belakang kincir angin dan sungai Zaan. Nama Zaanse Schans sendiri diambil dari nama sungai yang ada di depannya.

Mbak nya ramah ya, keju di sebelah kanan dari susu sapi

Setelah kincir angin, kami pun berjalan tak tentu arah karena gerimis mulai turun dan tak sengaja berteduh di tempat oleh-oleh yang isinya serba kejuuuu! Selain oleh-oleh (dimana mereka nyediain tester untuk setiap jenis keju) mereka juga memajang proses pembuatan keju dan juga menyediakan cafe. Ngga usah malu-malu untuk nyobain semua jenis kejunya, mau diabisin juga ngga apa karena si mbaknya dengan senang hati menambah lagi testernya. Keju di sini kayaknya kebanyakan dibuat dari susu domba. Soalnya banyak banget domba bertebaran di samping dan belakang toko, berikut juga ayam dan kambing yang dibuat jadi satu kandang. 

Mas nya lagi meragain pembuatan sepatu bakiak
Selanjutnya setelah hujan berhenti dan perut yang cukup kenyang (sama keju) kami bergerak lagi dan terdampar di museum dan toko sepatu bakiak. Masih free entrance, jadi kami pede banget lah masuk dan pas sekali lagi ada workshop pembuatan sepatu bakiak. Di aba-abakan dengan bahasa Inggris jadi kami lumayan ngerti lah. Jadi sepatu bakiak ini asalnya dari kayu ....................... sudah cukup bisa dibaca di wiki ya! Ada banyak ukuran dan corak gambar. Berikut Bre dengan setengah dipaksa aku suruh pake. 


Cape muter-muter dan mampir ke toko souvenir (harganya lebih murah dari pada di Amsterdam), kami duduk sambil meluruskan kaki di taman rindang depan kali, kebiasaan bilang kali di Jakarta dibawa sampai ke sini. Awalnya ada beberapa bebek lucu berenang ke sana kemari. Lalu saat kami makan bekal roti, itu bebek semua pada naik ke darat. Ngapain? Ternyata mereka minta! Duh jadi dikerubutin bebek kan. 


Belanda dingin siang itu, meskipun masih summer, rasanya ngga bisa ngelepas jaket kalau lagi diluar. Ngobrol ngalur ngidul sambil makan siang bekal roti dari AH, membuat kami akhirnya beranjak untuk kembali ke kota. Lalu saya kepikiran satu hal lagi. Bunga tulip! Ngga sempat lihat bunga tulip beneran di Belanda, jadi aku foto-foto unyu saja sama tulip artifisial nya. Dan semakin malam semakin membuat mataku redup. Jam sebelas malam, setelah 8 jam perjalanan dari Cesky Krumlov ke Bratislava yang melelahkan. Tapi teringat banyak sekali tulisan yang jika tidak segera ditulis, akan terlupakan. Kelar satu tulisan dan waktunya tidur. Dobrú noc!

Bratislava, August 30 '2016



You Might Also Like

6 comments