Wander around in Austria's Capital City

Saturday, June 10, 2017


Dari Budapest, kami sampai di Terminal Bus U2 Stadion Vienna (07/09/2016) sekitar sore hari setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam (dengan transit Bratislava). Kami muter-muter dulu di dalam terminal mencari informasi. Blank banget. Jetlag lagi. Yang pasti hal pertama kami lakukan adalah membeli tiket transport, karena lokasi terminal dengan penginapan AirBnB yang sudah saya booking agak jauh. Awalnya agak linglung, penyakit yang biasa terjadi saat baru tiba di suatu kota. Di tempat asing dan mesin tiket baru. Ketemu deh sama mbak-mbak yang ternyata orang Indonesia dan seneng gitu kayaknya ketemu kita. Terus tiba-tiba ngajakin ngobrol pake bahasa Jawa. Wong Malang toh. 

Paling mewah

Setelah menimbang semua jenis tiket yang ada dan karena kami berencana tinggal selama 5 hari di ibu kota Austria ini, kami memutuskan untuk membeli tiket Weekly Travel Pass seharga €16.50 yang berlaku dari hari Senin sampai Minggu (bukan 7 hari dari hari pembelian). Kami menyadari bahwa tiket pass cocok buat kami yang suka nyasar. Dari tram stop Haberglasse, kami berjalan kaki di sekeliling kompleks perumahan mencari alamat. Kami bertemu Armin, host kami selama di Vienna. Sungguh "welcoming" paling hangat. Beer or Juice? Di meja ada Manner wafer dan apel, lumayan buat nyemil sebelum makan malam. Kami juga disediakan handuk dan slippers. Berasa di hotel ini mah. Kami ngobrol sebentar, aku bilang Indonesia indah loh, dan dia membalas Austria juga indah kok (ngga mau kalah). Kesombongan yang akhirnya nanti ku sadari saat dalam perjalanan ke Innsbruck. Mbak Niken kurang jalan-jalan sih. Hehe. 

Apa bedanya 72-hour ticket dan Weekly travel pass?
Menjelang malam hari kami berbelanja ke Bilna, salah satu supermarket andalan selain Lidl. Lokasinya dekat jadi tinggal jalan kaki. Rata-rata supermarket buka cuma sampai jam 7 malam di hari biasa, jam 6 sore di hari Sabtu dan pasti tutup pada hari Minggu dan hari libur. Kami menjelajah kota Vienna selama 3 hari penuh, ke beberapa tempat dalam list "things to do in Vienna", lokasi film Before Sunrise, nonton orkestra, belanja ke pasar lokal, ke taman ria, nongkrong di pinggir danau, lalu ke tempat-tempat tak terduga seperti Hundertwasser village.

Mozart

See the treble clef?
Patung Mozart dan beberapa bangku yang diletakan mengitari taman.

Siapa yang tidak kenal Mozart? Ringtone di hp jadul kita yang berjudul Turkish March sudah sering kita dengar, atau lagu Twinkle twinkle little stars yang menjadi lagu pengantar tidur. Karya-karya nya yang indah dan melegenda. Walaupun kami tidak sempat main ke Mozarthaus (Mozart Museum) atau ke Cafe Mozart, kami menyempatkan untuk main ke taman di mana berdiri patung Mozart yang ada di Heldenplatz. 

Berfoto ala-ala composer
Mozart's instruments

Albertinaplatz

Tangga menuju Museum Albertina. Si adek lagi dapet tugas menggambar
Albertinaplatz adalah sebuah plaza kecil yang berada di jantung kota Vienna. Di sekelilingnya berdiri Museum Albertina, Tourist Information Center, Cafe Mozart dan beberapa toko souvenir. Kami mampir sebentar ke Museum Albertina, bersandar di balkon depan museum melihat plaza dari atas.

The view from the balcony


"Before Sunrise" Tour

This is the place where Celine and Jesse share their first kiss. Ouch!
Kami menjejaki lokasi film Before Sunrise, sebuah film tentang pertemuan dua orang asing dalam perjalanan dari Budapest ke Paris. Film ini berlatar kota Vienna. Beberapa tempat yang kami singgahi adalah Jembatan Zollamtssteg, Stasiun Westbahnhof, Kleines Cafe, dan Wiener Riesenrad. Cerita lengkap sudah aku tulis di sini.

Brunnenmarkt


Kami blusukan ke beberapa pasar di kota-kota yang kami kunjungi selama di Eropa. Salah satunya adalah Brunnenmarkt, yang lokasi nya tidak jauh dari penginapan. Sebetulnya pasar lokal yang paling eksis di Vienna adalah Naschmarkt, hanya saja lokasinya di pusat kota. Setelah tanya-tanya ke si host, doi rekomendasi Brunnenmarkt karena kisaran harganya lebih murah dan lokasinya juga dekat, satu pemberhentian halte, atau sekitar 800 meter dengan berjalan kaki dari rumahnya. 

Prater Amusement Park


Prater Amusement Park berada di distrik Leopoldstadt. Taman ria umum yang berukuran cukup besar ini adalah salah satu taman ria paling tua di dunia. Tidak ada biaya masuk kesini kecuali jika ingin menaiki wahana-wahana yang ada. Cara mudah untuk menuju ke sini adalah menggunakan metro subway dan berhenti di stasiun Praterstern. Tinggal jalan kaki saja, sudah terlihat dari depan stasiun. Kami main di sini sejak sore hingga malam hari. Naik ferriswheel dan makan malam di Riesenradplatz.

Hundertwasser Village


Bela-belain dua kali ke sini, karena memang area nya yang luas dan bangunan-bangunan yang eye-catching memanjakan mata. Hundertwasser village adalah bangunan yang didalamnya berjejer toko-toko souvenir dan ditengahnya terdapat cafe. Kami tahu spot genic di Vienna ini ngga sengaja waktu lagi jalan-jalan di sekitaran Albertina Platz, kami nemu kartu pos yang fotonya genic banget. Langsung deh besoknya kami berangkat pagi-pagi. Bangunan-bangunan lain karya Friedensreich Hundertwasser ini juga ada di beberapa negara Eropa, Jepang dan Amerika, dan paling banyak tersebar di Austria. 

Stephenplatz


Plaza ini adalah yang paling ramai, engga siang ngga malam. Waktu pertama kali kesini langsung amazed sama bangunan St. Stephen Catedralnya yang megah banget. Even my camera couldn't capture how great it is. Katedral ini terlihat dikejauhan saat kami naik ferriswheel di Prater Amusement park. Beberapa plaza lain yang ada di Vienna yang juga jadi pusat turis adalah Heldenplatz, Maria Theresian platz, dan Rathausplatz.

St Stephen Cathedral from Wiener Riesenrad


Karlsplatz



Kami dua kali kesini, pertama untuk membeli tiket orkestra dan yang kedua esoknya untuk menonton orkestra di Karlskirche. Kebetulan saat kedua kali kami ke Karlsplatz, di sana sedang ada festival. Ruame banget. Kami datang dua jam sebelum dan sempat menonton beberapa pertunjukan seni yang ada di area plaza. Banyak warga lokal terutama muda-mudi yang nongkrong di pinggir kolam sambil makan dan berkumpul. Banyak juga stal-stal makanan yang dijajakan di sana. 

Karlskirche dan area kolam didepannya

Vienna Islamic Centre

Masjid dan menaranya. Di samping nya tidak jauh berdiri Donauturm (Danube Tower).
Taken by Bre abis jumatan.
Melihat banyaknya pedagang yang berjualan dengan berlabel halal di pasar, menandakan banyak muslim di Vienna. Dan betul saja saat saya googling masjid di Vienna, banyak sekali masjid bertebaran, dan salah satunya yang terdekat adalah Islamic Center of Vienna. Karena hari itu adalah Jum'at, Bre berangkat Jum'atan sendiri dan saya nunggu di rumah sembari masak untuk makan siang. Vienna Islamic Centre ini berada di tepi Sungai Danube dan bersebelahan dengan Donaturm (Danube Tower). 

Vienna City Hall

Hello, Tourist!
Ups sorry, sebenarnya banyak foto-foto yang ngga bombing kok hahaha
Kami numpang foto aja sih di sini, karena sesungguhnya kami cuma numpang berteduh (dari matahari) dan leyeh-leyeh di taman yang ada di sebelahnya. Di depan gedung ini adalah Rathausplatz.

Menonton Orkestra di Karlskirche


Salah satu bucket list ku adalah menonton orkestra di Eropa (at least once in a lifetime). Meskipun bukan penikmat musik klasik sejati, saya suka beberapa karya komposer, seperti Pomp and Circumstance by Edward Elgar yang tiap dengerin bikin happy. Juga karena ngefans banget sama series Nodame Cantabile (entah sudah berapa kali nonton), saya jadi tahu beberapa karya musik klasik. Dan kali itu, setelah galau beberapa kali ngga jadi nonton di Prague atau Budapest, akhirnya kami memutuskan untuk nonton di Vienna. Memang di ketiga kota itu, konser musik klasik tidak sulit untuk ditemukan. Tinggal cari info di google atau sambil jalan-jalan di Tourist Information. 

Kami nonton yang brosur hitam yang kami dapat Tourist Information center di Albertinaplatz.
Setelah menonton Vivaldi "Four Seasons", saya jadi ngefans banget sama Winter nya. Rasanya begitu memanjakan telinga dengan menonton musik klasik. Selain nonton orkestra kami juga beberapa kali melihat performansi musik jalanan. Kota Vienna menjadi rumah bagi para komposer legenda di era musik klasik. 


Yang paling saya ingat selama di Vienna adalah hari Minggu dan hari libur toko-toko pada tutup. Saya baru menyadari hal ini saat meninggalkan Vienna di akhir pekan. Hiks, jadi lah kelaparan sepanjang pagi hari menunggu bus di terminal. Traffic lights di Vienna juga unik, karena Austria mendukup LGBT, jadi sebagian besar traffic lights menampilkan pasangan sesama jenis. 

Di kota Vienna banyak muslim, jadi udah ngga aneh kalo tiap naik tram ketemu wanita berhijab. Di sini kami nemu sosis asli yang halal, dan enak banget! Masih keinget waktu lagi manggang sosisnya, ada lemak-lemak dagingnya yang meleleh dari dalam dan mengeluarkan aroma sedap luar biasa. Kayaknya tinggal di sini asik ya. Pengalaman lain saat di Vienna adalah malam-malam jam dua belas ada cewe nangis-nangis mencet bel rumah berkali-kali, ngga dibukain sama si host akhirnya Bre yang bukain. Kayaknya doi pacarnya si host sih, soalnya besokannya mereka berdua ciao ke Slovenia (jalan-jalan mungkin) Hehehe.

Di salah satu sudut kota Vienna


You Might Also Like

0 comments

Subscribe