Mastakimchi Goes to Korea

August 14, 2019


Kalau udah bawa-bawa nama Mastakimchi berarti postinganku kali ini harus berbau makanan.
__

Mastakimchi adalah proyek iseng saya bersama Hana —sahabat dan teman seperjalanan saya ke Korea, yang ditujukan untuk mengeksplorasi makanan khas Korea. Masta bisa berarti master, tapi penggunaan nama Masta berasal dari kata masshisoyo yang artinya "enak". Di drama Korea, lafal masshisoyo lebih terdengar di telingaku masta. Berawal dari  produksi kimchi homemade, hingga akhirnya kami jualan berbagai makanan produk Korea. Bertamasya ke Korea menjadi tujuan kami setelah Alhamdulillah mendapati keuntungan jadi juragan kecil-kecilan di Tokopedia dan Shopee. Belum gede sih tapi lumayan bisa bawa kita terbang ke negeri gingseng ini. Makan-makan di sana sekaligus mencari inspirasi, kira-kira ada prospek lain nggak ya, seperti jastip mungkin. Hehe.. 

Menikmati Sajian Kuliner Resto di Korea

Bibimbap / Nasi Campur


Nama Restoran: Suk Young Sikdang
Alamat: 60 Gyerim-ro, Hwangnam-dong, Gyeongju, Gyeongsangbuk-do
Harga: 10.000

Yang bikin beda dengan Bibimbap di restoran lain adalah nasi nya yang menggunakan beras jali atau Barley Rice. Banchan (makanan pendamping) nya di sini banyak banget, kalau pun mau nambah banchan itu gratis tinggal bilang aja sama Imo. Di sini kimchi nya jenis yang berair (watery kimchi), kurang sesuai dengan selera kami. Oiya, ada sayur kuah nya juga, namanya Soybean paste soup yang dihidangkan menggunakan Dolsot atau mangkuk tanah liat panas.


Awalnya kami sempat nyasar waktu mencari restoran ini, karena Sikdang itu artinya restoran, dan supir taksi kita betulan mengantar kami ke restoran tapi bukan restoran ini, lumayan agak muter-muter sih tapi berhubung Gyeongju ini kota kecil jadi tarif taksi nya ngga terlalu ngefek banget. Hehe. Bibimbap di restoran ini tanpa daging, karena restoran ini adalah restoran vegetarian. Agak sulit untuk mencari restoran halal di Gyeongju, jadi kami cari aman nya saja. Biarpun begitu bagi saya Bibimbap di sini cukup enak dan ikan goreng nya membuat saya nagih.

Samgyetang / Sup Gingseng


Nama Restoran: Eid Halal
Alamat: 67 Usadan-ro 10-gil, Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul
Harga: 12.000

Kalau hawa lagi dingin-dinginnya gini di musim semi, maka makanan yang paling mengundang selera adalah makanan berkuah. Eh karena restoran yang mau kita datangi ada di daerah yang jalan nya menanjak, jadi lah sampai di atas kami sudah keburu capek dan kegerahan. Tapi terbayar kok, Samgyetang ini konon dapat memulihkan stamina karena mengandung gingseng.


Berhubung belum pernah makan sup ini selama di Indonesia jadi aku sendiri nggak bisa bandingin bagaimana rasanya. Kalau kata Hana, rasanya so-so, karena justru menu yang enak di restoran ini adalah Bulgogi nya. Untuk gingseng nya sendiri rasanya betulan pahit (iya lah!). Samgyetang dihidangkan menggunakan Dolsot, yang langsung dipanaskan di atas kompor. Jadi saat sampai di meja, asap kuah nya langsung mengebul.

Dari sini, pencapaian tertinggi ku adalah makan ayam hanya dengan menggunakan sumpit, tanpa muluk (makan tanpa menggunakan sendok garpu). Saking lunak ayam nya hingga sangat mudah mempreteli daging nya. 

Bulgogi / Daging Panggang


Nama Restoran: Eid Halal
Alamat: 67 Usadan-ro 10-gil, Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul
Harga: 10.000

Waktu sampai di meja, bulgogi nya mengebul, karena piring yang digunakan juga sejenis Dolsot. Satu set nya sudah termasuk nasi dan sup rumput laut, karena porsinya yang tidak terlalu banyak maka memang cocok nya dimakan bersama nasi putih hangat. Daging nya meleleh di mulut dan bumbunya pas. Definitely will come back for this deliciously Bulgogi!


Banchan yang disediakan di restoran ini hanya ada 3 macam, ikan teri yang dibumbu bawang putih dan terasa manis, tumis irisan kue ikan dan yang paling harus ada, kimchi. Kimchi nya di sini enak banget, sudah tak terhitung berapa kali kami minta tambah kimchi. Heran deh, dari semua yang makan di sini, kita doang yang heboh minta tambah kimchi. Antara malu, tapi yaudah lah ya. Hehe.


Lokasi restoran ini berada di Itaewon, yang merupakan kawasan yang banyak dikunjungi turis karena banyak restoran dari berbagai mancanegara. Salah satu nya adalah banyaknya restoran halal dan terdapat masjid pertama yang dibangun di Korea dan menjadi pusat Islam di Seoul.  Baru selesai makan, ternyata di luar sudah ada antrian yang panjang. Beruntungnya kami makan saat para lelaki sedang sholat Jumat. Selesai makan, kami mampir sekaligus sholat di masjid ini dan meneruskan perjalanan ke Namsan Tower.

Jjukkumi / Gurita Pedas


Nama RestoranNa Jeong-sun Halmae 
Alamat: 144 Muhak -ro, Yongdu-dong, Dongdaemun-gu, Seoul
Harga: 12.000

Orang korea teryata banyak pecinta pedas, makanya mereka memproduksi Samyang. Mie pedas yang membuat lidah bergoyang dan sudah populer di kalangan mana saja di Indonesia. Nah, yang nggak kalah pedas yang dapat kami temukan di restoran di Korea adalah Jjukkumi (lidahku lebih mudah melafal nya cumi). Berkat rekomendasi teman Hana, kami mencoba mencari Jjukkumi yang halal dan berhasil mendapat informasi yang meyakinkan dari blog ini. Karena restoran ini hanya menghidangkan Jjukkumi, tidak ada menu yang lain. Langsung lah kami cus di siang hari bolong setelah lelah naik turun bukit di Bukchon Hanok Village.


Makan Jjukkumi di sini ala BBQ. Satu mangkok gurita mentah yang sudah dibumbui langsung dituang diatas teflon hitam panas yang ada ditengah meja. Kita boleh memakannya setengah matang atau sambil diaduk hingga matang. Karena porsi nya yang besar, kami hanya memesan satu mangkuk nasi dan beberapa kali minta tambah kimchi which is free. Sama seperti di SukYoung Sikdang, kami juga dihidangkan Soybean paste soup yang lumayan bisa mengurangi efek pedas Jjukkumi. Saking pedas nya, saya sampai kembung minum air dingin.



Lokasi restoran ini berada di kawasan Jjukkumi Alley, satu area yang banyak terdapat restoran yang menjual olahan gurita. Baru tahu ternyata antara bulan Maret sampai Mei adalah musim panen gurita, jadi saat terbaik makan gurita adalah musim semi. Rasa bumbu gurita di restoran ini cocok banget sama lidah Indonesia. Kalau ngajak Bre ke sini pasti doi seneng banget. Sebagai pecinta cumi-cumi dan Samyang, di mana perpaduan kedua nya ada di Jjukkumi.


Makan jajanan Korea pinggir jalan

Odeng / Omuk / Kue Ikan


Jajanan pinggir jalan yang wajib dicoba, insha Allah halal karena hanya terbuat dari ikan-ikanan. Harganya rata-rata 1.000, yang kalau di Myeongdong bisa lebih mahal. Odeng paling enak yang kami temukan ada di satu kios di Stasiun Subway Gasan Digital Complex di Seoul, namanya Hello. 


Jangan dulu terlena dengan Odeng yang ada di Myeongdong, karena di sana tak ada yang saus nya semerah dan sekental yang ada di kios Hello. Anyway, di rumah saya berhasil bikin saus yang mirip dengan yang kami makan di Korea ini lho. Resepnya? Rahasia!

Roasted cheese rice cake dan Grilled Octopus 



Odeng dan Topokki yang ada di Myeongdong nggak ada yang tampilannya menarik, jadilah random saja kami beli Roasted cheese rice cake atau topokki panggang yang di tengahnya diberi keju mozarella dan dilaburi susu kental manis. Lalu gurita panggang yang dilaburi saus pedas manis dan serutan ikan cakalang. Untuk harganya lumayan mahal ₩4.000 masing-masing hanya dapat 1 tusuk gitu. Padahal untuk makan siang standar di Korea paling hanya sekitar ₩5.000 - ₩7.000.

Jajanan Minimarket




Bisa bokek kalau jajan nya di pinggir jalan terus, jadi kami melipir ke minimarket setiap kali balik ke hostel. Minimarket yang ada di sini antara lain GS25, Family Mart (Kalau di Korea namanya CU) dan 7Eleven.

Jajanan yang paling sering saya beli adalah Samgak Gimbap atau nasi kepal berbentuk segitiga dan telur rebus (pengennya yang ngenyangin). Sedangkan teman seperjalanan saya suka banget jajan Samyang, kimchi, dan soda Chilsung. Tapi kami berdua sama-sama paling sering beli Bingrae Banana Milk atau susu pisang yang lagi nge-hits di Korea. Selain itu sudah nyoba juga rasa lainnya seperti coffee, coklat dan stroberi.


Jajanan lain yang saya coba ada Bibigo Crispy Seaweed, Eskrim Melon dan Milkis soda gembira. Minum soda kalau di suhu dingin itu bikin perut rasanya jadi lebih hangat.


Cara bertahan hidup (makan ngirit) di Korea

Sepertinya ini berlaku secara umum di semua negara. Bagi kita si perut yang wajib makan nasi, yang penting itu bawa lauk dari Indonesia seperti abon, teri dibumbu cabe, dendeng atau yang paling wajib, Indomie Goreng. Kecuali misalnya kita tinggal lama di luar negri, boleh lah bawa mini rice cooker/ magic com. Eh tapi kan repot ya bo! Untungnya di Korea banyak dijual nasi instan yang tinggal kita hangatkan saja di microwave. Tadaaa~ langsung bisa di makan.

Manfaatkan sarapan yang disediakan oleh Hostel.
Meskipun seadanya tapi lumayan bisa menghemat biar jajan nya nanti siang bisa lebih puas.
Selain itu, jajan makanan pinggir jalan di Korea termasuk lumayan murah lah dibanding Jepang, asal belinya jangan di Myeongdong ya. Bisa minggir jajan di pasar, di minimarket, di kios yang ada di subway atau patungan jadi bisa nyobain semua. Hehe. Dan sekadar informasi, minum air putih di restoran Korea itu gratis. Mana airnya dingin pula, seger banget. Meskipun suhu 13 derajat celcius di siang hari, tetep aja dikasih nya air dingin. 

Meskipun mengirit untuk makan selama di Korea, tetap lah, makan hidangan otentik khas di setiap negara itu wajib. Setidaknya 1 atau 2 menu saja, biar kesan jalan-jalan nggak hanya memuaskan mata saja, tapi juga memuaskan lidah. Dan bagi saya yang paling bikin kangen Korea adalah makanan nya. Bukan oppa-oppa ya, soalnya nggak nemu satu pun oppa yang mirip Hyun Bin :(

You Might Also Like

0 comments