Leyeh-leyeh di Hanok

August 11, 2019


Kami ngga kepikiran sama sekali untuk menginap di Hanok —rumah tradisional Korea, karena tujuan kami ke Korea yang penting kuliner dan melihat bunga sakura. Lagipula, apa gunanya sebuah penginapan saat melancong selain hanya sebagai tempat numpang tidur saja? 


Eh nggak dong, khusus untuk Jepang saya harus ngerasain tinggal di rumah tradisional nya seperti yang ada di serial drama. Seperti saat di Kyoto, saya menginap di Apato —apartemen dua lantai dengan kamar tidur menggunakan tatami. Saya sengaja memilih Apato karena secara budget lebih murah sedangkan rumah tradisional nya di Jepang yaitu Sukiya-zukuri atau Ryokan saya belum berkesempatan mencoba. Nah, saat mau ke Korea, kami nggak kepikiran menginap di Hanok (saya lebih ngefan sama drama Jepang dibanding Korea) hingga suatu saat ...

Dari timeline Instagram Hana ada yang memposting foto Hanok di Gyeongju, nama penginapannya Dorandoran Guest House. Cute banget Hanok nya. Terus iseng deh kami cek di Booking.com dan ternyata lumayan juga harga sewanya per malam (hampir satu juta untuk double bed) mungkin karena saat itu puncak musim semi (pertengahan April 2019). Saya pun mencoba mencari alternatif lain di AirBnb dan menemukan satu Guesthouse yang harganya lebih murah dan lokasinya lebih strategis yaitu di antara terminal Bus dan pusat turis cukup dengan berjalan kaki. Kami pun memutuskan untuk mengubah haluan dari tujuan destinasi kami ke Hwagae jadi ke Gyeongju.

Munganchae atau pintu gerbang depan Hwangnam Hanok Stay
Saat tiba di Gyeongju, kami betul-betul nggak tahu latar belakang kota ini sama sekali, yang sebetulnya adalah kota bersejarah yang dulunya menjadi ibu kota Dinasti Silla, sebelum Dinasti Joseon. Oalah makanya di Gyeongju banyak disewakan penginapan bertema tradisional. Penginapan yang kami pesan berada di daerah Hwangnam, namanya Hwangnam Hanok Stay. Lokasinya 700m dari Terminal Bus, cukup berjalan kaki sambil menggeret koper.

Masuk gerbang disambut sama anjing lucu namanya Kami :")
Baru masuk udah amazed sama suasana hanok nya
Kamar kami yang paling kanan, yang pintu nya udah kebuka
Saat kami tiba di penginapan, kami nggak ketemu sama si host nya tapi sama Imo (panggilan sopan untuk bibi) yang nggak bisa bahasa Inggris sama sekali. Sempat bingung dan agak missed komunikasi. Saya menunjuk-nunjuk tiga jari dengan maksud menginap 3 malam, tapi ternyata Imo mengira kami mau menginap bertiga. Hehe drama nya nggak lama karena Imo langsung menelepon si host.

Kami melepas sepatu dan langsung memasukkan koper ke dalam kamar. Tanpa babibu saya bergegas meletakkan gorilla pod di depan kamar dan mengajak Hana untuk berswafoto menggunakan remot dari hp. Pas sekali dengan waktu senja yang berwarna jingga, warna foto nya jadi lebih asik. 

Tanpa sadar kami sudah berswafoto sebanyak hampir 50 kali jepret!
Dan yang terakhir foto di depan kamar orang
Kami menemukan kasur lipat seperti futon di Jepang yang sudah tertumpuk rapi di ujung depan kamar mandi. Makin kerasa tradisional nya a.k.a. lebih hemat secara budget karena pakai kasur lipat. 

Penampakan dalam kamar Hanok
Sendok sebagai kunci kamar
Hari pertama di Gyeongju kami nggak kemana-mana, hanya keluar sebentar mencari Bibimbap —nasi campur Korea yang berisi nasi putih dan lauk pauk yang diaduk dengan saus gochujang. Oiya sebelum keluar kami sempat bingung karena kami nggak dikasih kunci kamar sama sekali. Setelah konfirmasi dengan si host, dia bilang cukup ditutup saja pintu nya pake sendok, karena di sana aman. 

Dari rumah makan Sukyeong Sikdang, kami menyebrang jalan ke toko Hwangnam Bread, mampir sebentar makan sebiji roti isi kacang merah dan langsung kembali ke penginapan. Udara dingin 8 derajat celcius membuat kami malas keluar dan lebih memilih untuk gegoleran di lantai. Karena ternyata pusat penghangat ruangan ada di lantai!

Jaljayooo..!

Awalnya kami tertidur nyenyak hingga saya terbangun tengah malam karena kegerahan. Sudah berkali-kali saya ubah posisi tapi tetap saja rasanya seperti tidur di atas teflon yang dipanggang. Berbeda dengan Hana, dia justru kedinginan. Ternyata titik pemanasnya berada tepat di bawah kasur saya. Malam berikutnya kami mengubah posisi dari kasur yang sejajar dengan pintu menjadi melintang. Sistem penghangat ruangan ini bernama Ondol, yang biasanya digunakan selama musim dingin untuk menghangatkan lantai rumah.


Esok pagi nya kami bergegas menyewa sepeda dan kemudian jalan-jalan naik bus ke Danau Bomun. Lho sepedanya kemana? Berhubung Danau Bomun lumayan jauh, jadi sepeda nya kami parkir dekat halte bus dan kami naik bus. Hehe. Sepedanya nanti kami pakai di sore hari untuk keliling pekuburan besar keturunan raja dinasti Silla. Jadi kota Gyeongju ini kecil dan bus nya lumayan jarang lewat, jadi alternatif tercepat untuk keliling kota adalah dengan berjalan kaki, naik taksi atau gowes.

Pohon sakura di Danau Bomun dan Taman bunga Rape Flowers
Kami piknik dan menikmati hujan sakura (bunga nya berguguran) di Danau Bomun. Sekitar pukul satu siang kami kembali lagi ke penginapan untuk sholat dan makan siang. Lumayan lama kami beristirahat (gegoleran lagi di kamar) hingga akhirnya langit pun mendung. Duh makin malas keluar lagi kan. Sekitar pukul 5 sore kami baru keluar lagi sambil sepedahan di bawah rintik-rintik hujan. Nggak jadi keliling kuburan tapi nongkrong di dalam ruang studio kecil di Dongbu History Complex sambil nonton video bersejarah. Sekalian menghangatkan badan dan menunggu hujan reda. Kemudian sejenak kami keliling taman bunga Rape Flowers. Sebelum langit gelap kami mampir ke Starbucks dan kembali penginapan sembari mengembalikan sepeda. 

Anyeong.. Dari pintu kamar
Karena cuaca yang tidak bersahabat, kami memutuskan untuk makan malam di penginapan dengan membeli nasi instan di Sevel dengan lauk bawa dari Indonesia. Alhamdulillah malam kedua di Gyeongju saya bisa tidur lebih pulas sampai pagi. Sarapan pagi berikutnya di endorse lagi sama Sevel.

Samgak Joomukbab atau Onigiri kalau di Jepang featuring dua butir telur rebus,
kerupuk rumput laut dan susu pisang 
Gyochon village dan Wolseong Bridge
Hari ketiga di Gyeongju kami keliling Desa Gyochon yang letaknya tidak terlalu jauh dan masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Baru setengah berkeliling area desa, hujan tiba-tiba turun deras lalu kami berteduh di Wolseong Bridge. Hana memutuskan untuk kembali penginapan dan mampir ke cafe di daerah sekitar penginapan. Saya melanjutkan berkeliling Gyochon dan berkunjung ke Donggung Palace dan Wolji Pond. 

Hari sudah sore, saat keluar dari Wolji Pond saya bertemu kembali dengan teman asal Kanada yang kebetulan satu bus sebelumnya saat perjalanan dari Seoul ke Gyeongju. Saya yang tadinya mau langsung naik bus kembali ke penginapan akhirnya jalan kaki sembari ngobrol mutar-mutar kota tanpa sadar sampai McD samping terminal. Makan malam sama nugget karena McD di Gyeongju nggak jual model ayam krispi kayak di Indonesia. Duh, ngebayangin krenyes nya kulit ayam di sore yang dingin jadi ngidam gorengan.

Cerah banget hari terakhir di Gyeongju, setelah dua hari hujan terus
Setelah tiga malam menginap di Hanok, keesokan hari nya kami lebih santai karena memang tak ada jadwal kemana-mana. Bus kami kembali ke Seoul pukul setengah satu siang. Jadi kami punya waktu panjang sampai jadwal checkout. Menjemur handuk dan kaos kaki, sarapan pagi, makan kimchi dan menikmati pagi sambil duduk di beranda depan kamar. Mengekplorasi dapur dan ruang makan yang terbuka di penginapan.

Menjemur handuk sebentar mumpung cerah
(Bukan) endorse Decathlon
Sekalian juga kaos kakinya
Penginapan yang kami tinggali ternyata dihuni juga oleh si empunya rumah, orang tua dari si host. Mereka tinggal di rumah induk yang terletak di tengah. Mumpung tinggal bareng sama mereka, kami pun berinisiatif untuk mencoba kimchi original dengan meminta langsung sama Imo. 


Nah berhubung Hana lagi mampir ke Sevel dan saya nggak bisa bahasa korea sama sekali kecuali aigoo, sambil menggunakan piring kecil dan sumpit "Imo, kimchi juseyo.. kimchi juseyo." Dan saya dibawakan sepanci kimchi. Karena hanya mengambil sepiring kecil, saya bermaksud mau mengembalikan si panci besar tapi yang ada saya malah diberi ramyun satu kotak. Hahaha.. mungkin dikiranya saya mau sarapan ramen pagi-pagi sama kimchi. Aigoo... aigoo.. 

Dapur dan ruang makan terbuka
Minta tambah kimchi
Kami berdua mencoba kimchi original ini dan ternyata rasanya enak banget sis. Amis nya lebih berasa meskipun agak kerasa bau kulkas mungkin karena sudah tersimpan lama. Dan ternyata kurang dong jadi kami minta lagi sekalian bungkus. Hahaha..

Sekumpulan onggi
Ada pemandangan unik di belakang rumah, berupa gentong-gentong berukuran besar yang sering muncul di serial drama Korea. Diambil dari postingan Instagram mastakimchiOnggi adalah jenis tempayan yang terbuat dari tembikar yang digunakan untuk keperluan sehari-hari di Korea. Orang Korea biasa memanfaatkan Onggi sebagai tempat penyimpanan bagi makanan tradisional seperti kimchi, kecap asin, Gochujang dan sebagainya. 


Kelar sarapan, saya mengitari rumah, melihat sudut-sudut Hanok. Hanok adalah sebutan untuk rumah tradisional Korea. Rumah ini dibangun dengan bahan dasar alami seperti kayu, tanah, batu, jerami dan kertas.




Kalau hujan, sepatu atau sandal tinggal masukin aja ke bawah beranda
Anyway, waktu lagi duduk-duduk santai di beranda depan kamar,
smartphone ku yang belum genap sebulan jatuh menatap batu di depan ku hingga retak layarnya :(
Sebetulnya saya agak sebal karena selama menginap tiga malam di Gyeongju, kami didera hujan. Hari pertama kami tiba dan saat kami mau meninggalkan kota ini, justru cuaca cerah merona dihiasi warna langit yang biru. Tak bisa menyalahkan semesta, karena pada akhirnya bagaimana cara kita menikmati setiap keadaan membuat setiap perjalanan jadi lebih bermakna. Meskipun cuma leyeh-leyeh saja di kamar sambil video-call an sama suami. 

_______

Bonus Review Hwangnam Hanok Stay
  • Friendly host, komunikasi dengan host baik
  • Harga permalam lebih murah
  • Dihuni oleh warga lokal
  • Dekat dengan terminal utama Gyeongju
  • Dekat dengan Daereungwon
  • Dekat tempat sewa sepeda dan hanbok
  • Berada di kawasan Hwangnam, yang banyak dikelilingi kafe yang lucu-lucu dan antique local shops yang instagrammable
Minusnya
  • Dinding antar kamar terlalu tipis, no privacy
  • Dapur dan ruang makan terbuka dan berantakan
  • Alat makan kebanyakan kotor karena debu
  • Tidak ada sarapan, kecuali minta sendiri
Biaya menginap di Hwangnam Hanok Stay per malam nggak sampai 500 ribu rupiah berdua, setelah dapat potongan diskon member baru sebesar 25 SGD di AirBnb, silakan yang mau bisa menggunakan referral code dari aku. 

You Might Also Like

0 comments