3 Hari Motoran Keliling Nusa Penida

Aug 12, 2022


Setelah melanglang selama 3 hari di Nusa Ceningan, kami melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida, pulau yang letaknya tepat di sebelah tenggara Nusa Ceningan. Jadi dari Ceningan kita tinggal menyebrang menggunakan speed boat

9 Juni 2022

Sebelum menyebrang, kami menghabiskan pagi di Sea Breeze sembari menunggu jam check out penginapan. Kemudian berpamitan dengan host kami, Mbak Ryan dan ibunya. Pukul 12 siang kami menuju Yellow Bridge di mana pelabuhan penyebrangan ke Penida berada. Sampai di sana kami langsung memesan tiket. Untuk harga tiketnya lumayan mengalami kenaikan. Setau saya harganya hanya 20 ribu rupiah, ternyata naik jadi 50 ribu rupiah untuk wisatawan, sedangkan harga 20 ribu rupiah sekarang hanya untuk warga lokal. Saya tadinya mau menyamar jadi warga lokal karena kata Bre logat saya sudah seperti orang Bali. 

Setelah membeli tiket saya janjian dengan Pak Adi untuk mengembalikan motor di Yellow Bridge. Tidak lama kemudian kami dipanggil karena kapalnya akan berangkat. Saat itu saya mulai panik karena Pak Adi tidak juga kelihatan batang hidungnya. Tiba-tiba ada orang menghampiri saya dan bilang akan membawa motor yang saya sewa ini. "Motornya sewa di Lembongan kan? Itu kapalnya mau berangkat kak, ini motornya saya bawa saja sekalian saya balikin." Saya bingung dan tidak bisa memutuskan karena semua penumpang sudah naik ke kapal kecuali kami. Lalu dia ngomong lagi. "Saya difoto aja kak, terus kirim saja ke yang punya motor." 

Foto kiri: Bapak-bapak yang tiba-tiba meminta kunci motor lalu pose minta foto
Foto kanan: Ada penumpang lain ikut nyebrang ke Penida

Saya pun teringat cerita Pak Made kalau di dua pulau ini tidak ada maling. Meninggalkan motor beserta kuncinya yang masih terpasang di pinggir jalan tidak masalah. Sama seperti yang saya alami ketika tinggal 4 hari di Pulau Karimun Jawa, motor dibiarkan di pingir jalan beserta dengan kuncinya yang masih terpasang sudah biasa. Saya pun pasrah menyerahkan kunci motor ke bapak tadi lalu langsung berlari ke arah pelabuhan. Tadinya kami merasa tidak enak dengan penumpang lain karena ditunggu, namun masih ada satu penumpang lagi yang ternyata datang telat, yaitu motor! Menyebrang dengan speed boat dari Ceningan ke Penida hanya memakan waktu 10 menit, deket banget sampai tidak berasa.



Kira Cottage a.k.a. Kira Homestay

Kami baru memesan penginapan di Nusa Penida pagi tadi, sembari menikmati matahari terbit. Memang dari awal saya tidak membuat itinerary untuk trip ini, jadi ya semua serba go-show kecuali tiket dari Sanur ke Lembongan. Begitu pun tiket menyebrang ke Penida saya beli setengah jam sebelum kapal berangkat. Sewa motor di Penida juga saya lakukan secara random di sekitar pelabuhan Toya Pakeh.  Alhamdulillah semua lancar, meskipun pas sewa motor ini saya kena calo. Sedikit ada drama sih nanti pas hari terakhir.

Kami langsung menuju penginapan yang lokasinya sekitar 3,5 kilometer dari pelabuhan. Jalan menuju ke sana ternyata naik terus dan lumayan berliuk-liuk. Bre yang tadinya tidak membawa helm akhirnya terpaksa kembali lagi untuk meminta helm. Kami lumayan kesulitan mencari penginapan karena ternyata namanya di Google Map bukan Kira Cottage seperti yang ada di website Agoda di mana saya memesan penginapan. Gang masuknya juga berbeda dengan yang ada di Google Map. Saya agak shock waktu melihat plang bertuliskan Kompor Mayat tepat di samping gang. Istilah yang sangat baru, karena yang saya tahu biasanya namanya krematorium. Cukup bikin merinding. Oke, akhirnya kami bisa check in di Kira Homestay, bertemu langsung dengan Bu Ketut yang merupakan pemiliknya.

Selain AC, kettle dan jemuran baju ini benda wajib yang jadi poin plus untuk hostel

Kamar yang kami sewa letaknya di paling ujung. Wah ini kayaknya kita bakal bisa bangun sebelum subuh karena berdasarkan ulasan Agoda, tepat di samping tembok ada ayam-ayam tetangga yang cukup berisik. Saya sejujurnya tidak terganggu sih karena sudah terbiasa tinggal di rumah nenek saat mudik. Tapi sayangnya banyak turis yang memberikan rating buruk karena ulah si ayam pejantan ini saat fajar menyingsing.

Selama tinggal 2 malam di penginapan ini, kami sama sekali tidak menyalakan AC saat malam hari. Saya malah kedinginan dan menyangka dingin yang saya rasakan berasal dari kamar sebelah yang terlalu dingin menyalakan AC dan dinding pemisah kamar hanya berlapiskan anyaman bambu. Tapi setelah saya perhatikan, jarak antar kamar terpisah jauh. Jadi dinginnya memang benar dari suhu di sini. Mungkin karena kami tinggal di daerah tinggi. Saya tidak menyangka, tinggal di pulau tropis kecil ternyata enggak bikin gerah sama sekali. 


Pantai Kelingking

Sekitar pukul 3 sore kami baru keluar penginapan. Ngobrol sebentar dengan penjaga hostel, dia bilang kita bisa eksplor bagian barat Nusa Penida. Kita bisa ke Crystal Bay karena jaraknya cukup dekat, lalu ke Broken Beach dan menghabiskan sunset di pantai Kelingking. Wow banyak sekali spotnya padahal ini kan sudah sore. Saya dan Bre memutuskan untuk ke pantai Kelingking saja. 

Jarak dari penginapan ke Pantai Kelingking sekitar 12 kilometer atau sekitar 40 menit menggunakan motor. Jalan yang dilalui tidak begitu lebar, khas jalur masuk pantai seperti di Gunung Kidul. Kita harus mengurangi laju kendaraan saat ada 2 mobil berpapasan. Kanan-kiri jalan hutan dan alang-alang, sesekali ada rumah warga tapi tidak banyak. Penunjuk arah menuju pantai ada di beberapa titik jadi dijamin kita tidak akan nyasar. 


Kami memarkir motor di tempat yang sudah disediakan, lumayan ramai sore itu. Perasaan tadi di jalanan sepi banget. Kita hanya kena parkir 5 ribu rupiah di sini, tidak ada biaya masuk pantai. Dari parkiran kita tinggal jalan kaki menurun ke arah tebing pantai. Banyak warung berjejar di kanan-kiri jalan. Makin ke ujung jalannya makin menyempit seperti di gang. 

 Saya sudah menahan takut karena berdiri di gang sempit ini.
Tapi semua hasil fotonya mengecewakan, wajah saya ngeblur karena enggak fokus.

Saya tertegun melihat pemandangan bukit yang bentuknya mirip dengan dinosaurus ini. Selama ini hanya melihat di postingan Instagram teman-teman. Sesekali saya menengok ke bawah ke arah pantainya, dengkul rasanya mau lepas karena saya takut ketinggian.

Pantai Kelingking dengan warna pasir krem beradu kontras
dengan putih buih ombak dan warna air laut biru toska.

Kami memperhatikan dengan seksama, ternyata di bawah sana ada orang. Saya mulai khawatir kalau Bre tiba-tiba mengajak saya turun ke pantai itu. Enggak deh, baru 2 bulan kaki saya pasca operasi pasang pen. Kalau nanti patah lagi kan enggak lucu. 


Foto kiri: Mengabadikan momen seumur hidup
Foto kanan: Rata-rata tinggi anak tangga sekitar 45-50 cm

Tapi saya juga penasaran, seperti apa treknya. Kami pun turun melewati tangga yang tinggi anak tangganya sangat tidak manusiawi. Saya ukur tinggi anak tangga ini lebih panjang dari jarak antar telapak kaki hingga dengkul saya. Kami pun berpapasan dengan pasangan yang sedang sesi foto prewedding. Niat banget mas dan mbak ini, bela-belain dari Vietnam foto di sini. Gue pasti tipes duluan sebelum acara resepsi kalau gini. 

Beberapa kali kami juga berpapasan dengan turis yang naik dari bawah. Wajah mereka aneh, nafas tersengal-sengal, dan badan penuh dengan peluh keringat. Beberapa orang berjalan kaki tanpa alas karena sandalnya putus. Dengan nurani hati yang penuh dengan pengertian, saya menyapa dan menyemangati mereka. "It's not too far. Sebentar lagi sampai. Keep going, fighting!" Wajah mereka yang tadinya muram pun berubah jadi lebih ceria. Ya, saya tau perasaan itu karena pernah naik gunung.

Dari situ kami hanya turun sekitar 20 anak tangga lalu kembali lagi ke atas.

"It's not a good idea." Sebagian besar dari mereka bilang sebaiknya kami tidak usah turun. Setelah sepertiga anak tangga ini, nanti akan ada jalan berbatu yang tidak rata, lalu berlanjut dengan jalanan terjal yang sangat miring sehingga kita harus turun sambil merangkak. Kami sempat ngobrol dengan pasangan muda-mudi dari Bekasi yang sepertinya sedang honeymoon. Saya menawarkan diri untuk mengabadikan momen mereka berdua karena kasihan dari tadi mereka foto gantian terus seperti saya dan Bre. Lalu kami juga diminta untuk berpose, waduh saya ikhlas kok bukan karena pengen minta gantian foto. Hehe, tapi akhirnya kami mau juga. Setelah itu kami hanya duduk di tangga sambil menikmati semilir angin dan pemandangan yang tidak setiap hari bisa kami lihat dari balkon rumah.

Nggak tahu warung ini halal apa engga, kami baru ngeh setelah selesai makan karena
di menu sate cuminya ada sosis. Tapi ayam geprek di sini enak banget!

Hari pun mulai gelap dan sepi. Kami duduk di warung nongkrong sambil minum air kelapa muda, menunggu makanan kami dihidangkan dalam waktu yang cukup lama, hampir satu jam. Untung saja makanannya enak, ludes kurang dari 15 menit. Kami menuju parkiran dan di sana tinggal motor kami. Ternyata kami wisatawan terakhir. Perjalanan kembali ke penginapan sungguh sangat menyeramkan. Kami betul-betul hanya berdua, jalanan gelap gulita karena tidak ada lampu jalan. Tak henti-hentinya saya berdoa, semoga ada kendaraan yang papasan biar enggak sepi-sepi banget. Sesekali saya lega saat melewati rumah warga. Duh, enggak lagi deh lewat magrib masih nongki di pantai. 


10 Juni 2022

Saya minta penjaga hostel untuk mengantar sarapan pukul 7 pagi agar sejam kemudian bisa langsung ciao untuk mengeksplor Penida bagian timur. Kami berangkat lebih pagi karena jarak menuju pantai-pantai di Nusa Penida itu jauh. Saya cek di map ada dua jalur dari kostan. Jalur pertama melewati jalan yang sama seperti ke Pantai Kelingking yaitu hutan dan alas, dan yang satunya lagi melewati pesisir pantai. Saya pun meminta saran penjaga hostel. Jalur pertama lebih dekat dan bisa melewati padang savana teletubies, sedangkan jalur kedua lebih jauh tapi lebih lebar lajurnya. Kami pun memilih alternatif kedua karena agak trauma setelah perjalanan tadi malam. Keputusan yang sangat bijak, karena sepanjang jalan kami jadi tidak bosan melihat laut di sepanjang 25 kilometer perjalanan. Kalau lewat hutan terus pasti jadinya ngantuk karena ngebosenin.



Pantai Diamond

Kami menggunakan motor Honda Vario 125cc selama di Penida, padahal kalau mau roadtrip jauh naik motor paling enak pakai motor matic besar seperti Honda PCX atau Yamaha NMax dengan mesin di atas 150cc. Seperti saat kami turing ke Bromo menggunakan Honda PCX, perjalanan 100 kilometer tak membuat pantat saya kebas duduk di belakang. Perjalanan dari kostan ke Pantai Diamond berjarak sekitar 32 kilometer tapi cukup membuat pegal, sampai kami harus meregangkan badan dulu setelah tiba di parkiran. Tiket masuk ke pantai 10 ribu rupiah dan parkir motor 5 ribu rupiah. Setelah membeli tiket, tanpa sengaja kami bertemu dengan Mbak Ryan, host kami di Ceningan. Enggak nyangka sih karena baru kemarin kita mengucapkan salam perpisahaan semoga bisa bertemu lagi. Eh ketemunya di sini.

Foto kiri atas: Jalan menuju Pantai Atuh yang akan bercabang juga ke Diamond.
Foto kanan atas: Pantai Atuh dari atas.
Foto bawah: Jalan menuju pantai Diamond

Sebelum trekking, kami mengganti sandal jepit dengan sandal gunung. Yup, setelah menonton sekilas di YouTube, jalur ke Pantai Diamond masih manusiawi jadi kami putuskan untuk turun sampai bibir pantai. Saya membawa perbekalan secukupnya termasuk juga baju renang untuk Bre. Saya enggak ada niat renang karena di bawah tidak ada toilet apalagi kamar bilas. Pokoknya ribet kalau pakai jilbab, kalau pakai bikini sih enak ya. Emang nyebur yang paling enak di Bali hanya di Pantai Melasti

Anak tangga yang dipahat dari dinding tebing.
Tingginya cukup ergonomis sehingga tidak menyiksa dengkul.

Bagian paling menegangkan saat turun.

Sepanjang jalur turun ke pantai saya hanya memegang kamera pocket yang saya gantung di leher. Saya tidak berani memegang ponsel karena selalu ada perasaan takut jatuh. Kaki saya saja gemetaran kalau turun sambil melihat ke bawah. Ada beberapa bagian anak tangga yang tidak ada teralisnya, bagian ini yang membuat adrenalin saya terpacu. Sesekali saya turun sambil ngesot karena takut tergelincir. Ada satu turis yang batal turun padahal tinggal sedikit lagi (bagian yang menggunakan tali saja seperti foto di atas). Saya hampir terbujuk namun akhirnya tetap nekat. 

Bre dan geng F4 nya main ombak begitu riang

Saya menggelar tikar dan membongkar snack yang kami bawa. Sayang sekali kami hanya bawa satu botol minum, yang satu lagi tertinggal di motor. Setelah nyemil Bre langsung lari ke pantai. Tadinya saya kasihan melihat dia sendirian, namun tak lama ada turis asing yang ikutan main. Seru sekali melihat mereka teriak-teriak saat ombak datang. Saya dan mas-mas bule di sebelah saya ikut tertawa melihat salah seorang dari mereka ada yang celananya melorot sampai kelihatan crack nya. Saya sudah mengingatkan Bre berkali-kali untuk mengikat kencang celananya. Mungkin karena sudah tidak tahan melihat godaaan debur ombak dan air laut yang begitu biru, dia jadi terburu-buru.

Pas naik nyoba nyempetin foto selfi pake pose love.

Kami main di pantai ini cukup lama, sampai perut saya kelaparan baru kami beberes sambil menyiapkan tenaga untuk naik. Botol minum tadi sudah habis isinya. Saya hampir tergoda untuk membeli air mineral 600ml seharga 25 ribu rupiah yang ada di satu-satunya warung yang ada di sini. Tapi enggak deh, naiknya enggak separah tebing pantai Kelingking.




Raja Lima dan Rumah Pohon Molenteng

Kami makan siang di warung makan di parkiran Pantai Diamond. Sambil makan kami ngobrol dengan para supir yang membawa tamu. Memang sebagian besar wisata di Nusa Penida menggunakan roda empat. Saya sendiri kaget waktu tahu di Penida bisa pakai mobil. Dalam bayangan saya waktu itu Nusa Penida sama seperti Gili Trawangan. Padahal pulau Nusa Ceningan, yang ukurannya seperempat puluh luas Penida saja bisa ada mobil. Setelah ke Pantai Diamond saya baru tahu kalau Nusa Penida ini lebih luas dari Bandung malah. Pantesan, pantat saya kebas naik motor keliling pulau ini.

Lanjut obrolan dengan para supir tadi, kami diberitahu kalau dekat sini ada tempat wisata yang mirip dengan Raja Ampat di Papua, namanya Raja Lima. "Ah Bli bisa aja, enggak sekalian nanti dibikin Raja Enam." Saya tersenyum menanggapi candaannya si bli. Bli adalah sebutan untuk kakak atau mas di Bali. "Loh saya enggak bercanda, memang betul namanya Raja Lima. Kalau Raja Enam bolehlah nanti kalau ada lagi yang mirip." Ternyata betulan, saya cek di Google Maps memang ada Raja Lima, lokasinya masih satu area dengan Rumah Pohon Molenteng. Saya memastikan ke Bli Wayan apakah di sana harus turun tangga lagi. Dia bilang ada 180 anak tangga. Membayangkannya membuat kami mulas lagi.

View point Raja Lima dari bawah.

Sampai di parkiran Rumah Pohon Molenteng kami diberikan saran oleh bapak parkir. Kalau mau ke bawah nggak perlu ke Rumah Pohon, mahal kalau foto di sana. Nanti jalan terus saja sampai ada pura kecil, di situ pemandangannya lebih bagus. Kami pun mengikuti sarannya, dan memang betul tidak jauh dari rumah pohon ada lokasi view point yang lebih luas. Kalau mau foto di rumah pohon ada charge 75 ribu rupiah untuk 2 menit. Itupun harus mengantri. Berhubung saya bukan selebgram, jadi tidak perlu. Di beberapa titik jalur ada spot-spot yang gratis kok. 

Pemandangan dari atas tanpa turun ke Rumah Pohon Molenteng

Sebetulnya tanpa turun, dari atas pemandangan Raja Lima sudah bagus. Hanya saja saya penasaran apakah betul jumlah anak tangganya ada 180. Ternyata bli tadi tidak bohong, mungkin karena bosan mengantar tamu, dia sampai betulan menghitung jumlah anak tangganya. Harusnya tadi saya tanya juga berapa jumlah anak tangga di Pantai Diamond dan Pantai Kelingking.

Dari Raja Lima kami sudah tidak ada rencana kemana-mana lagi karena perjalanan kembali ke penginapan masih lumayan jauh. Di parkiran Pantai Diamond kami juga sempat ketemu lagi dengan pasangan dari Bekasi yang kemarin, namun mereka tidak turun ke pantainya karena masih mau lanjut ke Pantai Tembeling. Saya iseng cek di Google, treknya tidak jauh beda dengan pantai-pantai lain di pulau ini. Enggak deh kalau naik turun tangga lagi, mending balik nyari jajanan di pasar terus leyeh-leyeh netflix-an di kasur. 

11 Juni 2022

Rencana hari terakhir di Penida kami mau eksplor sebelah barat, yang letaknya lebih dekat dari penginapan. Semalam saya cari info tentang Angel's Billabong dan Broken Beach. Di sana bukan pantai untuk main air, hanya lanskap saja. Jadi perlengkapan renang saya letakkan di jok motor. Kami tetap bawa sih jika seandainya nanti jadi main ke Crystal Bay. Awalnya kami ingin langsung berangkat saja dan meninggalkan barang-barang di kamar, tapi saat sarapan saya kepikiran untuk langsung packing dan check out biar nanti tidak perlu buru-buru balik ke penginapan. Tas-tas besar kami titipkan ke penjaga hostel. Saya juga janjian dengan Mbak Sri, yang menyewakan motor ke kami. Apakah waktu mengembalikan motornya harus sama saat kami bawa (pukul 12:30), jika sampai sore apakah ada charge? Dia bilang tidak ada karena itu saya memesan tiket kapal ke Sanur pukul 16:30. Jadi kami pol-in saja lah sampai jam boarding kapal.



Broken Beach

Ini adalah kali kedua kami ke Broken Beach. Lho kok bisa? Jadi kami sebetulnya sudah ke sini saat snorkeling bersama manta ray. Lokasinya tepat di depan pintu goa (bolongan) yang ada di foto atas.  Kali ini kami jalan-jalan santai saja memutari Broken Beach. Panas begitu terik membuat saya membuka si payung kuning. 


Jalan menuju Broken Beach. Ada yang ngambek karena saya suruh balik
ke parkiran untuk mengganti sandal jepit dengan sandal gunung.

Broken beach memiliki bibir pantai di bawah, tapi sepertinya tidak ada akses menuju ke sana dari atas tebing. Di sepanjang jalan banyak warung berjejer, melihat banyak eskrim dijajakan kami jadi ngiler. Dari Broken beach kami ke Angel's Billabong. Dua tempat wisata ini masih dalam satu area jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. Jangan pakai sandal jepit ya, karena batuan karst di sini lumayan tajam. 

Kapal-kapal yang membawa wisatawan untuk snorkeling



Angel's Billabong

Main ke pantai tanpa berenang itu seperti makan telor dadar tanpa garam. Rasanya hambar. Begitu kata Bre. Pertama kali kami tahu tentang Angel's Billabong dari YouTube dan di sana bisa berenang, sungguh kami senang sekali. Namun ternyata kami harus mengurungkan niat itu karena sekarang berenang di sana sudah dilarang. Mungkin pernah ada kejadian wisatawan yang tersapu ombak saat berenang. Kata salah satu pemandu lokal, jika sedang pasang, air laut bisa sampai mendekati warung-warung yang berjejer di atas. 

Spot foto yang bikin mengantri.
Saya dan Bre duduk santai di belakang mas-mas pakai celana merah

Ekspektasi vs Realita

Semakin siang semakin ramai. Sebetulnya saat sampai parkiran motor tadi pagi, jarak dari parkiran ke Angel's Billabong lebih dekat, namun matahari masih berada di samping sehingga spot ini masih tertutup bayangan tebing di sebelahnya. 

Padahal tadi pagi masih sangat sepi hanya saya dan Bre dan satu orang turis. Jadi kami ke Broken Beach dulu, tapi ternyata setelah kembali ke Angel's Billabong suasananya sudah seperti pasar. Ramai, sampai harus mengantri jika ingin berfoto. Kami berdua ikutan turun ke tapi hanya duduk-duduk saja sambil mengamati orang wara-wiri. Ada saja hal yang unik. Mulai dari beberapa keluarga yang datang dengan kostum kompak. Ada anak-anak yang sebal karena disuruh foto terus. Ada orang yang sepatunya basah karena terlalu fokus berpose sampai enggak sadar ada ombak menerjang.Lalu ada pasangan yang minta difoto tapi nunggu ombak dulu. Euh, itu kalau ada ombak ya Angel's Billabongnya enggak kelihatan atuh. Saya jadi julid. Hahaha.

"Fotoin yang bagus dong biar bisa upload Instagram." Kata mas-mas ini.
Akhirnya diupload tapi yang ngelikes cuma 17. Wkwkwk.

Memang rasanya kurang mantap kalau tidak nyebur. Tidak ada experience nya. Hanya foto-foto. Tapi ya mau gimana lagi. Kalau kami maksa berenang, selain membahayakan nyawa, kami pasti sudah jadi objek photo bombing para wisatawan. 



Crystal Bay

Masih pukul setengah satu siang, kayaknya kita masih bisa lanjut ke Crystal Bay. Jarak dari Crystal Bay ke penginapan hanya 4,5 kilometer, cuma 10 menit. Kami sebetulnya juga sudah ke sini karena Crystal Bay jadi salah satu spot snorkeling. Kami berenang juga cukup dekat dari bibir pantai. Bre sepertinya belum puas kalau hari itu dia tidak berenang. Masuk ke pantai ini tidak ada biayanya sama seperti di Broken Beach, hanya biaya parkir motor saja.

Banyak sekali pohon kelapa di Crystal Bay

Di sini pantainya menurut saya biasa saja. Pasirnya tidak putih murni tapi bercampur dengan pasir hitam. Kata Bre, pas dia berenang ada ikan kecil-kecil. Sayangnya kami lupa membawa alat snorkeling, hanya membawa kaca mata renang saja jadi dia tidak berani berenang jauh-jauh. 

Ritual orang meninggal adat Bali

Saya enggak ikut berenang, tapi asik menulis di buku catatan perjalanan saya. Tak lama kemudian ada prosesi yang saya lihat seperti Ngaben, upacara kematian adat Bali tepat di depan pantai. Cukup ramai karena ada suara gaungan gong.





Enak nih ada dermaganya jadi naik kapalnya enggak perlu nyebur sedengkul.

Pelabuhan Toya Pakeh

Dari Crystal Bay kami kembali ke penginapan untuk mengambil barang bawaan kami. Masih jam 3, ada waktu lagi kalau kepingin nongkrong di kafe di area pelabuhan. Tapi feeling saya berkata lain, mending kita langsung ke pelabuhan aja deh. Takutnya ada apa-apa. Sampai di pelabuhan saya mengirim pesan melalui WhatApp ke Mbak Sri untuk ketemu satu jam lebih cepat dari waktu kita janjian. Tiba-tiba saya dihampiri oleh bapak-bapak yang mengaku memiliki motor yang kami sewa. Oalah ternyata kita beneran dicaloin. Bapak tadi meminta tambahan charge uang karena kita mengembalikan motornya sore. Lho kata Mbak Sri enggak ada charge, lagi pula dia bilang motor ini bensinnya full tank, tapi nyatanya hanya terisi sepertiga saja. Untungnya bapaknya baik jadi kami dilepas, enggak diajak debat. Hehe. 

Setelah itu kami menurunkan barang dari motor, saya baru sadar kalau salah satu tas fins saya tidak ada. Waduh masa ketinggalan, atau mungkin jatuh di jalan. Saya pun mulai panik. Lalu tiba-tiba ada bapak-bapak lain yang menghampiri kami, membawakan tas fins saya yang hilang tadi. "Tadi jatuh mbak, saya sudah klakson tapi cepet banget bawa motornya." Si bapak ini ternyata pemilik Kira Homestay. Sama seperti kejadian waktu kami dihampiri bapak-bapak yang meminta kunci motor saat di Lembongan, wajah saya seperti setengah ketakutan karena panik. "Tenang saja mbak, orang sini baik-baik kok. " Senyum sayapun langsung merekah. Rasa cemas langsung hilang. "Pak, kalau mau ke Maruti Express lewat mana ya?"


Ruang tunggu Maruti Express

Ternyata dari tempat parkir motor ke dek kapal Maruti Express lumayan jauh. Sampai sana kami langsung memesan tiket dan dapat jadwal kapal pukul 4 sore. Bagus ini agen kapalnya, kita disediakan free refill air mineral, kopi dan teh. Ada toilet juga dan ruang tunggu yang cukup luas. Berhubung hari itu saya sedang tidak sholat, Bre sendirian mencari masjid terdekat. Tiba-tiba nama saya dan Bre dipanggil untuk masuk ke kapal. Petugas memang memanggil nama penumpang satu per satu. Lalu giliran nama saya dan Bre dipanggil, Bre tidak kunjung kembali. Saya bolak-balik menelepon namun tidak diangkat. Setelah hampir semua penumpang naik akhirnya dia muncul juga. Sudah mau pulang pakai drama lagi.

Seru sekali keliling Nusa Penida selama tiga hari ini, tapi kalau bisa putar waktu saya maunya naik mobil atau ganti naik Honda PCX saja yang sewanya 150 ribu per hari. Selain itu waktu tinggal di sini seharusnya lebih panjang, mungkin 5 hari sampai seminggu. Masih banyak spot-spot yang kami lewati karena dari satu spot ke spot lainnya cukup jauh. Mungkin kalau kaki saya tidak cidera, kita berdua bisa sampai ke bibir Pantai Kelingking. Buat Bre yang paling berkesan adalah saat berenang di Pantai Diamond, ombaknya besar sekali dan betul-betul membuatnya puas. Bagi saya yang paling berkesan tentu saja perjalanan malam setelah dari Pantai Kelingking. Rasanya saya mau tukar tempat saat naik motor, lebih baik saya saja yang nyetir. Perasaan takut tiba-tiba ada yang nemplok di belakang membuat saya merinding sepanjang jalan. Hehe enggak ding.


Bagi saya yang paling seru adalah saat perjalanan turun ke Pantai Diamond, tiap melangkahkan kaki menuruni anak tangga, detak jantung saya berdebar kencang. Ini kalau gempa gimana ya?

No comments

Post a Comment