Sudah lama tidak update lagi tentang berburu kafe nih. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang salah satu kafe di sudut Selatan Jakarta. Setelah pulang dari Bali, terakhir saya ngafe di Twin House Cipete sekitar bulan September tahun kemarin. Tapi bukan kafe ini yang akan saya bahas di sini. Tepatnya seminggu yang lalu saya dan Bre mampir ke coffee shop yang juga berada di daerah Cipete (yes, Cipete adalah area kafe yang paling menjamur di Jaksel). Namanya Dipuri, mengambil namanya dari nama jalan di mana letak kafe ini berada, Jalan Puri Mutiara Raya, Cipete Selatan.
Rasanya nggak lengkap kalau selama sebulan tinggal di Bali nggak eksplorasi kafe-kafe di pulau dewata ini. Jadi gimana nih rasanya Work From Bali? Kalau hanya di kosan ya tetap saja jenuh, nggak ada bedanya dengan di rumah. Jadi kami menyempatkan nongkrong di kafe yang kopinya lumayan enak dan vibesnya asik.
Prolog: Penghuni-penghuni baru di rumah
Selama pandemi kami jarang pelesir tapi entah kenapa kami jadi lebih boros. Tentu saja faktor utama nya adalah karena sebagian besar waktu kami habiskan di rumah. Renovasi sana-sini, upgrade barang ini-itu. Kalau ditotal sama saja dengan biaya jalan-jalan, bedanya kalau buat pelesir nggak banyak mikir ngeluarinnya. Di tahun 2020, mesin air kerendem dan terpaksa musti dibenerin dan pindah posisi. Lalu renovasi sebagian atap samping yang bocor. Setelah itu tiba-tiba saya jadi punya treadmill, alasan beli supaya Bre mau olah raga.
Saya pun kepikiran cita-cita yang sejak lama terpendam yaitu punya mesin espresso dan robot vakum. Alhamdulillah tahun 2021 dua-duanya terwujud. Untuk mengurangi rasa bersalah karena terlalu banyak mengumpulkan alat brewing kopi, semua perintilan kopi saya jual, lumayanlah dapat hampir 500 ribu buat beli grinder rumahan wkwk. Lalu saat Harbolnas (hari belanja online nasional) saya membeli robot vakum atau roomba merk Ecovacs tipe Ozmo 920 dengan potongan harga yang lumayan fantastis (thanks 11.11!).
Pertengahan tahun 2021 ini saya dan Bre ke Malang lagi. Niatnya sih mudik pas lebaran, tapi untuk menghindari keramaian akhirnya kami memilih untuk berangkat pada akhir bulan Juni. Ini adalah perjalanan darat pertama kali kami ke Malang menggunakan kendaraan pribadi. Biasanya untuk menghemat tiket pesawat kami naik kereta. Kali ini kami bersama Pikachu, si cabe rawit merah bertenaga 1250cc, yang melaju selama 3 hari dari Jakarta sampai Malang. Loh kok lama banget sampai 3 hari? Soalnya kami mampir dulu ke Dieng dan Temanggung. Cerita trip ke Dieng dan Temanggung akan saya tulis di part khusus karena pengalaman di sana sungguh memorable.
Selain suhu dingin Malang, salah satu yang membuat saya betah tinggal di sana adalah harga perkopian nya yang murah. Dibandingkan kafe-kafe di Jakarta, harganya bisa lebih murah sekitar 10-20 ribu rupiah. Banyak sekali kafe yang bisa ditemukan di tiap sudut Kota Malang. Selama dua bulan tinggal di rumah mertua, saya beberapa kali mampir ke kafe, menemani Bre yang kadang jenuh kerja dari rumah.
Berikut beberapa kafe yang sempat saya kunjungi saat di Malang. Dari foto-foto nanti terlihat kafe yang kelihatan sepi. Memang kami sengaja memanfaatkan waktu paling pagi kafe buka, mengingat kondisi pandemi saat ini yang bikin insecure kalau terlalu lama bersama orang asing dalam satu ruang. Seperti yang sudah saya tulis dalam postingan sebelumnya, kafe-kafe di Malang lebih ramai dipadati saat menjelang sore hingga malam hari. 3 dari 6 kafe yang ada di sini juga sudah saya tulis di postingan tersebut.
Sudah dua minggu kami WFH (Work From Home —kerja dari rumah) di Malang, dan rasanya mulai jenuh lagi. Salah satu cara buat bikin suasana baru ya kerja di kafe atau di working space. Sebelum memutuskan mau nongkrong di mana, kami nanya-nanya dulu ke Ayy, adik sepupu ku yang sering melakukan pemotretan di kafe dan sudah menjamah hampir ke semua kafe di Malang. Dua kafe rekomendasi dari dia untuk main (kerja) adalah Nara Coffee dan Ten Thirty.







