Saya menggunakan atasan baju lapis dua, sweater dan jaket polar. Untuk bawahan celana semi jeans dengan sebelumnya saya lapisi celana triatlhon yang menempel di kulit. Tak lupa kaos kaki dan sarung tangan polar. Semua itu tetap saja tak mampu menahan dinginnya bandara Keflavik di tengah malam. Yap, kami menginap di bandara setelah kembali dari 14-hours tur ke South Coast dan Jokulsarlon.



aku pergi jauh
melepaskan mimpi-mimpi
melumpuhkan ketakutan 
menapaki jalanan
tersesat dalam labirin-labirin sempit
terjebak rumit kehidupan
lalu berhenti sesaat lelah
dan kembali menapaki jalanan
semakin jauh,
semakin aku sadar aku tak tahu apa-apa


Waktu yang kami habiskan di Utrecht lebih banyak di rumah Marije, host kami selama di Utrecht. Hujan yang sejak kemarin belum berhenti bikin kita males keluar rumah. Jadi kami di rumah nyuci baju, ngejemur dan masak-masak. Ngirit banget lah pokoknya selama di Utrecht. Dari empat hari di sana, kami ke pusat kota hanya dua kali, itu pun setengah hari. Suasana perumahan tempat kami nginep pun sepi dan tenang banget. Marije, yang suka yoga ini bercerita, kadang kala saat dia nginep di rumah pacar nya di Amsterdam dia suka kangen sama Utrecht, rasanya damai di sini. Kalau alasan saya kenapa milih kota ini sih sepertinya random banget. Pernah baca di majalah (lupa apa majalahnya) kota ini kota pelajar, jadi ngga terlalu rame dan bising. Dan berikut tempat-tempat yang kami kunjungi setelah secara random memilih Utrect sebagai kota persinggahan kedua kami di Eropa.


Rasanya menjadi suatu wajib ke Belanda untuk mampir ke Zaanse Schans, desa kecil yang lokasi nya sekitar satu jam dari Amsterdam menggunakan transportasi umum. Desa yang nampakin ke-Belanda-an ini punya semua yang jadi khas Belanda. Ada kincir angin, sungai-sungai kecil, sepatu bakiak, dan keju (yang ngga ada Red Light District). Untuk ngelilingin desa ini kita ngga dipungut biaya, masuk ke rumah keju nya aja free, kita bebas nyobain testernya. Kecuali untuk masuk ke museum-museum nya baru kena biaya. Dan juga toilet umum ke charge rata-rata toilet €0.5 - 1, duh lumayan banget kan sekali pipis kena 8 ribu! Di sini air gratis (tap water di mana pun bisa diminum), tapi pipis bayar. Hahaha.


Kalau malam sebelumnya Bre mengajak saya mengintip Red Light District yang sangat ramai dan penuh sesak, pagi ini saya memilih untuk menikmati suasana pagi di kompleks para seniman dan studio seni di Jordaan District. Cukup berjalan kaki dari hostel, karena memang hostel kami berada di pinggiran Central Amsterdam.

Belanda itu sepeda, sungai, jembatan, kincir angin, sepatu bakiak, dan keju.


Pertama kali (2016/08/09) kami menginjakkan kaki di Eropa adalah Belanda, yang dulu nya pernah ngejajah negeri kita tercinta ini lama banget lho. Makanya sebagian bahasa nya mirip-mirip kayak korting, gratis, keran (kraan), apotek (apotheek), kassa, dan lain-lainnya yang bisa dijumpai di beberapa tempat. Kalau kenapa kami memilih Belanda sebagai pintu masuk pertama adalah karena aplikasi visanya mudah. Lewat imigrasi Belanda di Schipol Airport kami juga ga lama-lama, hanya dicek paspor saja.


8 Agustus 2016. Pagi yang sendu karena hujan, kami diantar ke Bandara Soekarno Hatta. Baru kali ini Mama dan Bapak meminta untuk mengantar kami, karena biasanya solo traveling pun saya selalu berangkat sendiri tak ada yang mengantar. Mungkin karena perjalanan ini bukan sehari dua hari, bukan seminggu dua minggu. Seperti mau pergi jauh, kali ini saya dan bapak berpelukan erat. Begitu dengan mama, peluk dan cium. "Mah, impian kakak terwujud. Makasih ya mah udah mendukung sampai saat ini." 

Bersama full time-travel mate di Terminal KLIA Malaysia, menunggu penerbangan ke Doha. 


Malang, kota tercinta. Tempat Bre dilahirkan dan dibesarkan hingga merantau ke Jakarta. Kota yang sekarang menjadi kota yang selalu bikin kangen karena sejuknya dan hangatnya keluarga. Sudah hampir satu tahun kami tidak pulang. Bre yang sudah jadi anak perantauan kembali pulang melepas kangen. Saya pun jadi ikutan kangen juga dengan Bromo.

Selain banyaknya mall yang tersebar di setiap sudut jalan, variasi kuliner dan wahana bermain yang ada di Jakarta, kita ngga akan pernah kehabisan ide untuk menikmati akhir pekan di Jakarta (selama punya duit). Terus kalau misalnya sudah bosan dan kantong lagi kempis, kemana dong? Saya akan jawab berdasarkan pengalaman pribadi menghabiskan tiap akhir pekan dengan anggaran minim namun sarat petualangan yang ngga jauh-jauh dari Jakarta. 

Weekend Escape: Canopy Trail Gunung Gede



Kepingin ngeliat yang hijau-hijau dan menghirup udara yang segar? Ngga perlu harus naik gunung. Cukup ketemuan sama teman-teman di Stasiun Bogor, paksa salah seorang buat minjemin mobil dan ajak temen yang jago nyupir, lalu meluncur lah ke Cibodas. Kalau mau piknik bisa masuk ke taman, kalau mau lebih kece dan lagi mainstream cobain canopy trail. Cerita lengkap dan foto bisa diintip di sini.