Tuesday, August 25, 2015

Keranjingan Foto di Museum Angkut


Ceritanya nemenin adek ikut ujian mandiri di Universitas Brawijaya (yang akhirnya membuahkan hasil keterima, Alhamdulillah). Sekalian mudik ke rumah orang tua doi sekalian juga nemenin si adek jalan-jalan di Malang. Jujur aja udah puas banget hampir dua minggu di Malang, dari naik gunung, turun gunung ke kota, sampai ke pantai. Dari cwie mie, baso mercon, susu murni sampai roti maryam. Karena di hari-hari terakhir tinggal berdua sama si adek, setelah jam ujian kelar, tercetuslah ke Museum Angkut yang lokasinya tidak begitu jauh dari kampus Unibraw. 

Memori kamera cuma dua giga, udah sengaja dikosongin karena dari info Tante nya si doi yang emang hobi jalan-jalan kalau ke Museum Angkut siapin kamera sama memori gede. Di postingan ini saya bakal ekspos foto-foto selfie untuk menghibur diri saat baca-baca lagi tulisan dan foto-foto sendiri. Lebih tepatnya bakalan lebih banyak foto dari pada tulisan sih. Hahahaha.. Sebagai pembuka foto berikut adalah hasil kelelahan dari pagi kena macet dan kepenatan si adek setelah enam bulan intensif belajar dan kurang piknik.

"Tolong mbak kepala nya jangan miring." Kata petugas kelurahan.

Setelah kekenyangan makan di Bakso Damas, kami langsung bergegas menuju Batu. Jam menunjukan pukul 1 siang, matahari sedang begitu cerahnya. Menggunakan sepeda motor kira-kira setengah jam lewat jalur alternatif belakang kampus UMM. Meski terik, namun tidak begitu terasa karena udara sejuk Malang, salah satu yang bikin si adek pengen banget kuliah di sana. Untuk lokasi parkir, dari manajemen Museum Angkut sudah menyediakan parkir resmi yang tarifnya hanya dua ribu rupiah saja. Dari sana, kami langsung di suguhi banyak warung-warung makan yang ada diatas air!

Gerbang Pasar Apung, lebih kece dibanding bagian depan Museum Angkutnya sendiri

Pasar apung adalah salah satu objek di Museum Angkut yang biaya masuknya gratis. Dari lokasi parkir, pasar apung menjadi lintas masuk menuju Museum Angkut. 

Cuma di Pasar Apung si adek nggak mau narsis, katanya phobia air warna hijau

Si bro lagi di Jakarta, jadi fotonya sendiri ajah!

Dari Pasar Apung, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket. Berhubung weekday jadi kami tidak perlu mengantri panjang. Setelah itu, kami tidak bisa berkata-kata lagi. Jeprat-jepret gaya ini gaya itu.. Tralalalala.. 

Udah cucok lah jd model foto

 Ahaai, sampe jogja bisa berubah jadi betis tukang becak

Foto-foto preweding di sini asik juga kali

Setelah merasa aneh dengan poster mbak-mbak dan mas-mas di pojok kanan,
baru ngeh pas diliat difoto kayak beneran di kantor pos

Watch out! Satenya gosong!

Capek motoin si Adek, foto di kaca yuk

"HELP MEEEE!"
Jalanan di Amerika jaman dulu
Asik ih kayak di manaaa gitu..

Abis dari Amerika belok Eropa!

Haa haa haa .. *Capek bikin caption

Mbak, mbak.. Kalau ngga beli jangan duduk situ.
Tempat ini sebenernya beneran cafe di dalam Museum Angkut

Aduh adeknya aja cantik gimana kakaknya
Gedubrak praaang brak!

Di beberapa spot dibuat ala Universal Studio, tiap bagian dari objek Museum Angkut merepresentasinkan beberapa belahan dunia seperti Eropa, Amerika, Inggris, China Town, Batavia dan Las Vegas. Tiap objek memiliki keunikan tersendiri, begitu juga dengan spot makan yang di design seperti di luar negeri. Ada yang indoor dan outdoor. Meskipun outdoor, karena lokasi Museum Angkut berada diatas gunung, jadi tetaplah adem. Ngga bikin keringetan dan makin keranjingan foto.

Dan ini foto terakhir sebagai perwujudan bukti nyata kelelahan si adek setelah berbulan-bulan gak kemana-mana, dan sempat sendirian di rumah ditinggal mudik sekeluarga selama seminggu. Kasian!

Melepas lelah di pangkuan Ibu Ratu Elizabeth. Kapan lagi coba?

For your information
Tarif tiket masuk per orang : Rp 60.000 (Weekday) Rp 75.000 (Weekend)
Tarif kamera (SLR/gopro/pocket) : Rp 30.000

Thursday, August 13, 2015

#25 Ungapan

First time left footprints in his hometown beach
Ungapan Beach, Malang, East Java Indonesia | July 25th 2015

Thursday, July 23, 2015

Omah Kayu, Not Just TreeHouse

Setelah puas menikmati terbang tandem di atas Kota Batu, waktu sore kami habiskan di pepohonan rindang tepat di sebelah kiri dari lokasi paralayang. Omah Kayu, salah satu objek wisata yang kini mulai diramaikan oleh para turis lokal. Para sepupu ipar udah ngga sabar menuju ke sana, karena dari awal niat mereka memang ke Omah Kayu, bukan paralayang yang ngelihatnya aja bikin merinding. Katanya sih pengen foto-foto mumpung langit masih terang, lalu sambil menunggu senja sampai gelap sehingga Kota Batu terlihat seperti hamparan bintang-bintang di langit.

Salah satu spot di Omah Kayu yang hanya berupa gazebo

Lagi-lagi karena hari itu masih dalam masa liburan panjang lebaran, semua objek wisata jadi penuh. Setelah masuk melalui lorong kecil untuk membayar tiket yang di design unik dengan kayu-kayu, kami berjalan ke bawah menuju pepohonan pinus yang sudah ramai. Sulit sekali kami untuk bisa masuk ke salah satu pondokan, karena semua penuh dan sudah banyak yang mengantri.



Omah Kayu pada awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dirancang dengan konsep back to nature. Tiap kamar merupakan satu pondokan kecil yang dibangun di setiap pohon yang tumbuh dekat tebing. Sehingga hanya diperlukan jembatan kecil atau anak tangga untuk menghubungkan jalan setapak dengan pondokan. Setiap pondokan dilengkapi dengan area balkon yang luasnya lebih lebar dibandingkan kamar tidurnya sendiri. Untuk kamar mandi hanya ada di satu spot di tengah-tengah area dan jumlahnya hanya ada 2. Letak pondokan berbeda-beda level ketinggiannya sehingga privasinya lebih terasa. Satu lagi yang bikin beda dengan rumah-rumah kayu biasa adalah, lokasinya yang berada di tebing tinggi sehingga view dari setiap pondokan adalah lanskap Kota Batu yang bikin mata segerrr..


Tampak samping jalan setapak, pepohonan dan pondokan

Saat ini Omah Kayu fungsinya sudah berubah menjadi tempat umum yang bisa saja dikunjungi oleh siapa saja. Hal itu dikarenakan sepinya pengunjung penginapan yang menganggap tarif per pondokan mahal. Jadi lah Omah Kayu jadi tempat wisata yang umumnya digunakan para turis lokal untuk berfoto-foto di depan rumah dan balkon kayu dengan atau dengan latar Kota Batu.

(Kiri - kanan)
Wulan, Ayu dan Fatin yang ngga bs lepas dari smartphone, tapi selalu siap kalo di foto
Gambar tepat di depan kamar yg berbentuk seperti tenda

Bre, anggap aja foto prewed kita di sini

Untuk bisa menikmati leha-leha di balkon Omah Kayu, sebaiknya datang bukan disaat liburan atau akhir pekan. Kalau pun terpaksa datang di akhir pekan, sebaiknya datang pada pagi hari sekitar pukul 8-9 pagi jadi kita tidak perlu rebutan dan mengantri untuk bisa bersantai di pondokan. Celah untuk bisa masuk ke Omah Kayu tanpa membayar tiket adalah di atas pukul 5 sore, karena penjaganya sudah tidak ada yang melakukan pengecekan, hehe.. Jika sudah mulai gelap, bisa kembali ke lokasi di depan warung-warung makan untuk melihat pemandangan lampu-lampu Kota Batu. Sayangnya kami tidak jadi menghabiskan malam di Gunung Banyak karena perubahan rencana untuk menikmati dingin malam dengan makan roti maryam panas-panas di Alun-alun Kota Batu. 

Ferris wheel yang menjadi ikon di Alun-alun Batu

For your information:
Lokasi: Kawasan wisata Gunung Banyak, Batu
Jam buka: sampai dengan pukul 17:00
Tarif masuk kawasan wisata: Rp 5000/ orang
Tarif masuk Omah Kayu: Rp 5000/ orang
Jumlah maksimal per pondokan: 4-5 orang
Tiket Ferris wheel Alun-alun Batu: Rp 3000/orang



Wednesday, July 22, 2015

I’m flying.. Like a bird!

Begitu teriak si abang Nicholas Saputra waktu landing skydiving di Thailand dalam iklan “Journey to overcome the fear” dari salah satu produk shaver yang dipakai sehari-hari sama suami. Hahaha.. paralayang menjadi suatu wajib buat langkah pertama sebelum benar-benar impian buat skydiving terwujud (Amiin!). Dari beberapa kali wacana, kemarin akhirnya jadi juga.


Brew saat terbang tandem, melihat pemandangan kota Batu di bawah langit biru yang cerah

Rencana awal menyisir pantai-pantai di Malang yang batal karena beberapa hal, membuat Mas Nug berinisiatif mengajak kami paralayang. Wah, pas sekali karena saya dan Brew memang benar-benar udah ngebet dari awal tahun. Dengan lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah Brew, kami berangkat berenam bersama dengan sepupu-sepupu ipar yang memang doyan jalan. Menggunakan sepeda roda dua, kalau menggunakan roda empat di libur panjang lebaran gini, bisa-bisa 4 jam baru sampai daerah Batu karena kondisi lalu lintas menuju Wisata kota Batu dan Puncak Bogor tidaklah jauh berbeda.

Lokasi Paralayang Batu terletak di Wisata Gunung Banyak. Petunjuk jalan menuju kesana lumayan banyak, jadi kita tidak perlu kesulitan untuk menuju kesana karena ternyata banyak sekali warga lokal yang berkunjung ke sana. Cari saja petunjuk bertuliskan “Paralayang”. Tidak hanya bagi para penggemar olahraga ekstrim, namun lokasi take off paralayang ini menjadi favorit bagi para turis lokal karena view nya yang amazing selain objek wisata Omah Kayu (akan saya tulis setelah ini).

Banyak turis lokal mengabadikan diri dengan latar kota Batu

Untuk mengalahkan rasa takut sama ketinggian, olahraga paralayang ini bisa jadi pilihan dengan biaya yang lumayan terjangkau. Saat sampai di lokasi, kami pun langsung menuju booth pendaftaran paralayang yang ternyata sudah ramai. Untuk mendaftar sangatlah mudah, cukup menuliskan nama dan berat badan, kami memperoleh nomor urut. Oleh team yang ada di booth, kami diperbolehkan untuk makan dan jalan-jalan dulu, atau menuju lokasi take off dengan mengantri. Kami pun mampir dulu ke warung Bakso Paralayang yang tidak jauh dari lokasi take off. Menikmati semilir angin gunung sambil menikmati semangkuk bakso panas. 


Syereeem..

Awalnya kami berniat terjun sesaat sebelum matahari tenggelam, agar warna langitnya sedikit kekuningan. Namun ternyata, kondisi angin agak mulai buruk karena di balik bukit ada banyak awan mendung. Jadilah pukul setengah 3 siang kami bersiap-siap di lokasi take off. Kami dipinjamkan monopod a.k.a. tongsis yang bisa dipergunakan dengan smartphone. Saya pun menolak karena dari awal saya hanya membawa kamera SLR untuk dokumentasi sebelum terbang saja, dan untuk smartphone saya juga tidak terbiasa selfie menggunakan tongsis, yang ada nanti saya malah tidak menikmati sensasi terbangnya. Saya pun dipaksa oleh si Mas Tandem, "Ntar nyesel lho." Begitu katanya. Mas Nug pun meminjamkan smartphone nya plus dengan bluetooth remote nya. Ia mengajari saya sebentar, karena beberapa kali saya sudah dipanggil oleh team yg sudah ready di ujung landasan pacu. Makin dag dig dug serr lah karena saya giliran pertama sebelum Brew.

Persiapan sebelum take off

Brew saat take off dibantu salah satu club team

Sebelum tiba di landasan, dibawa muter di atas rumah-rumah

Waktu terbang tandem berkisar antara 10-15 menit, mungkin tergantung angin atau mood tandem nya kali ya. Karena jujur aja, kayaknya kami ngga sampe 10 menit terbang. Cepat saja waktu berlalu tahu-tahu sudah landas. Posisi saat akan landas adalah kaki diangkat ke atas. Setelah landas, kami berkumpul di lahan parkir menunggu ojek yang akan mengantarkan kami kembali ke lokasi wisata Gunung Banyak. Oiya, selain gift certificate, tongsis dan pilot tandem, satu paket paralayang tandem seharga 350 ribu ini sudah termasuk pengantaran kembali ke lokasi take off yang jaraknya kira-kira 5 kilometer dari lokasi landasan yang berada di Songgoriti. Karena liburan panjang, antrian ojek pun menjadi rebutan antara pilot tandem dan peserta. Saya pun menyempatkan diri mengobrol sejenak dengan para senior pilot yang pengalaman terbangnya sudah tak terhitung lagi. Untuk bisa terbang tandem, seorang pilot harus sudah 1000 kali terbang dengan 120 kali terbang dengan teman pilot. Mas Taufik, salah seorang pilot pun menawarkan saya sekolah paralayang agar bisa terbang sendiri. Waduh mas, terbang bukan passion saya sih kecuali kalo ada yang mau bayarin hehe. Sekarang target supaya bisa berani skydiving, karena jujur saja saya takut ketinggian. Yang penting sekarang udah berani terbaaaaang ... 

Ini saya, "Woohoooo..!"
Sambil teriak begitu, lalu Mas Ryan mencoba manuver, "Ayo teriak lagi." Begitu katanya. Hahaha..


For your information
Lokasi take off: Kawasan Wisata Gunung Banyak, Batu
Lokasi landing: Jalan Arumdalu 20 Songgoriti, Batu
Harga per orang: Rp 350.000
Berat badan maksimal: 90Kg
Jam buka: sampai dengan pukul 17:30
Untuk book bisa langsung menuju booth pendaftaran

Saturday, June 13, 2015

Menjejaki Canopy Trail di Cibodas

Wisata canopy trail yang sedang kekinian

Dari obrolan iseng di sebuah warung kopi tengah kota Jakarta, teman lama kami yang baru kembali dari perjalanan panjangnya ke timur mengusulkan sebuah trip murah meriah. Mungkin udah keabisan ongkos kali ya, hehehe.. Udah hampir dua bulan juga saya ga "keluar rumah". Saya pun mengajak teman lama kami, Bang Roy, untuk mencarikan temannya yang bisa jadi driver. (Tips: salah satu cara mengirit trip jalan-jalan adalah menggunakan kendaraan pribadi, dan patungan bensin)

Dua minggu kemudian (13/06), di Sabtu pagi yang cerah, kami berenam, saya, Brew, Chintya, Nisa, Roy dan Franky bertemu sapa di bawah pohon rindang di Taman Topi, Bogor. Kondisi sebenarnya, saya dan Brew telat sejam setelah janji kumpul jam tujuh pagi di Stasiun Bogor. Jadilah kami dihujani kecemasan karena siapa sih yang tidak tahu kalau jalur Puncak di akhir pekan menggunakan sistem buka tutup, jadi mau ngga mau kami bakal ngalamin namanya macet tanpa gerak! Betul sekali, baru sampai di pertigaan Ciawi, macet berkepanjangan, sejam lebih kami terjebak di sana. Setelah berhasil melewati pertigaan yang super seperti neraka itu, jalanan yang kami lalui semakin mulus (waktunya sistem buka untuk jalur yang menuju puncak). Sialnya diantara kita berenam ngga ada yang tahu jalan! Mau berbekal GPS, ada yang trauma sampai kesasar. Akhirnya kami pun berbekal plang hijau petunjuk jalan dan blog Ejie.

Emm.. Canopy Trial?

Kami sampai di Taman Wisata Cibodas sekitar setengah dua belas siang. Soto ayam depan kantor TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) memuaskan rasa lapar yang melanda. Setelah itu, dari info petugas di kantor TNGGP, kami diberi tahu kalau ingin Canopy Trail bisa langsung menuju pos atas, jadi tidak perlu masuk ke taman wisata Cibodas. Tempatnya sama dengan pada saat kita pengecekan logistik untuk mendaki gunung GGP. 

Kami mendaftar lalu untuk Canopy Trail kami diharuskan ditemani oleh guide. Kalau menurut website resmi TNGGP, jadwal trek ke Canopy Trail adalah setiap dua jam, pukul 9 pagi, lalu pukul 11, 13 dan 15. Namun pada kenyataannya, kami bisa menuju kesana kapan saja. Lalu juga soal biaya tiket masuk, di website dan kondisi lapangan pun berbeda. Para petugas TNGGP memberi tahu kami bahwa mereka belum meng-update konten website, sejak 1 April 2015 biaya tiket masuk sudah berubah. Awal mulanya total 31 ribu rupiah dengan perincian 25 ribu tiket Canopy Trail, 5 ribu tiket masuk dan seribu tiket asuransi. Sekarang untuk tiket Canopy Trail saja kami dikenai 40 ribu per orang dan untuk guide sebesar 50 ribu rupiah per group. "Waduh, tau gitu mending kita ke The Jungle!"

We were here.

Setelah briefing sebentar (yaelah udah kayak mau naik gunung aja) kami sepakat untuk melakukan penawaran harga tiket. Waduh kalau soal ini ngga bisa saya ceritakan di blog, karena akan mengancam nama baik salah seorang di antara kami yang memang jago nawar apa aja. Hahaha.. Lalu perjalanan trekking dimulai dengan penuh semangat dan eng ing eng ...  Ternyata lokasi jembatan gantungnya cuma lima menit jauhnya, meskipun jalannya agak menanjak, ternyata cuma setarikan nafas dan ngga bikin ngos-ngosan. Kami pun melepas tawa. Kalau kayak begini mah ngapain harus pake guide. Jalan yang dilewati tepat di belakang pos, melewati jalan samping. Setelah ketemu pertigaan lalu ambil kanan. Ketemu perempatan, ambil lurus. Mungkin alasan kenapa pakai guide karena kita bisa saja nyasar karena jujur saja, ngga ada sama sekali plang petunjuk arah jika kita bertemu dengan persimpangan jalan. 

Goyang-goyang, tapi sempetin senyum.

Panjang jembatan 130 meter, dengan ketinggian 45 meter dari bawah. Jembatan Ciwalen (saya menyebutnya karena merupakan jalan pintas menuju air terjun Ciwalen) ini disopang oleh dua pohon besar di masing-masing ujungnya. Selain itu tidak banyak informasi yang kami peroleh tentang Canopy Trail ini, dari guide kami, Bang Ramdan pun tidak banyak menjelaskan. Ketika saya bertanya pun, jawabannya sangat tidak meyakinkan. Lucunya, ketika saya bertanya ke guide grup yang lain, jawabannya sama. Malah saya ditanya balik ketika bertanya, "Kenapa namanya canopy bang, kenapa ga jembatan aja gitu?" Di lokasi Canopy Trail pun, pos nya kosong dan di kunci. Tidak ada petugas yang berjaga-jaga jika saja terjadi kelalaian para pengunjung. Mungkin itu tujuan lain adanya guide sehingga kita tidak bisa sembarangan melewati jembatan lebih dari 5 orang (total berat 300 Kg).

Jauh-jauh kesini, ngga boleh keabisan gaya

Setelah puas banget nikmatin ni jembatan, kami diajak Bang Ramdan ke Curug Ciwalen. Dari pernah baca-baca di Google sih, katanya kalau mandi di curug itu kita bisa awet muda. Berhubung kami masih muda-muda jadi kayaknya air terjun ini dikhususkan buat aki-aki kali yah. Hahaha.. Kami pun ngga berlama-lama di sana lalu kembali lagi ke Canopy Trail buat foto-foto. Jujur ya, saya takut sekali ketinggian. Tapi setelah sekali melewati jembatan ini, ketakutan saya berkurang. Kaki yang gemetaran pun sudah agak tenang. Begini katanya mau paralayang! 

Curug Ciwalen

Dari Cibodas kami berencana mampir ke Cimory Riverside, namun beruntungnya jalur baru saja dibuka. Jadi kami mengurungkan niat kenapa dari pada harus terjebak macet lagi. Sampai di Bogor, kami mampir ke jalan Bangbarung yang katanya pusat Kuliner di Bogor. Menikmati Sop Buah Pak Ewo tepat di samping Rumah Kopi Ranin. Mengabiskan malam minggu dengan pacar dan teman-teman yang menyenangkan.

Mungkin kalau dipikir-pikir, dateng jauh-jauh cuma demi ngelewatin jembatan yang panjangnya tidak lebih dari 130 meter. Trekking cuma 5 menit. Air terjun yang tidak jauh dari jembatan juga ngga keren-keren amat. Biaya ongkos masuk yang terbilang mahal pasti juga membuat orang malas kesana. Tetapi yang namanya perjalanan, destinasi bagi kami bukanlah tujuan utama. Justru kebersamaan dan keceriaan dalam perjalanan menuju kesana itu lah yang sebenarnya. Atau seperti pepatah Chintya bilang, "Gue itu jalan-jalan buat tidur di jalan. Jadi kalau gue tidur ya gue nikmatinnya disitu." 

Berasa lagi trekking ke tengah hutan di Jepang. Anggap saja begitu.