Saturday, June 13, 2015

Menjejaki Canopy Trail di Cibodas

Wisata canopy trail yang sedang kekinian

Dari obrolan iseng di sebuah warung kopi tengah kota Jakarta, teman lama kami yang baru kembali dari perjalanan panjangnya ke timur mengusulkan sebuah trip murah meriah. Mungkin udah keabisan ongkos kali ya, hehehe.. Udah hampir dua bulan juga saya ga "keluar rumah". Saya pun mengajak teman lama kami, Bang Roy, untuk mencarikan temannya yang bisa jadi driver. (Tips: salah satu cara mengirit trip jalan-jalan adalah menggunakan kendaraan pribadi, dan patungan bensin)

Dua minggu kemudian (13/06), di Sabtu pagi yang cerah, kami berenam, saya, Brew, Chintya, Nisa, Roy dan Franky bertemu sapa di bawah pohon rindang di Taman Topi, Bogor. Kondisi sebenarnya, saya dan Brew telat sejam setelah janji kumpul jam tujuh pagi di Stasiun Bogor. Jadilah kami dihujani kecemasan karena siapa sih yang tidak tahu kalau jalur Puncak di akhir pekan menggunakan sistem buka tutup, jadi mau ngga mau kami bakal ngalamin namanya macet tanpa gerak! Betul sekali, baru sampai di pertigaan Ciawi, macet berkepanjangan, sejam lebih kami terjebak di sana. Setelah berhasil melewati pertigaan yang super seperti neraka itu, jalanan yang kami lalui semakin mulus (waktunya sistem buka untuk jalur yang menuju puncak). Sialnya diantara kita berenam ngga ada yang tahu jalan! Mau berbekal GPS, ada yang trauma sampai kesasar. Akhirnya kami pun berbekal plang hijau petunjuk jalan dan blog Ejie.

Emm.. Canopy Trial?

Kami sampai di Taman Wisata Cibodas sekitar setengah dua belas siang. Soto ayam depan kantor TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) memuaskan rasa lapar yang melanda. Setelah itu, dari info petugas di kantor TNGGP, kami diberi tahu kalau ingin Canopy Trail bisa langsung menuju pos atas, jadi tidak perlu masuk ke taman wisata Cibodas. Tempatnya sama dengan pada saat kita pengecekan logistik untuk mendaki gunung GGP. 

Kami mendaftar lalu untuk Canopy Trail kami diharuskan ditemani oleh guide. Kalau menurut website resmi TNGGP, jadwal trek ke Canopy Trail adalah setiap dua jam, pukul 9 pagi, lalu pukul 11, 13 dan 15. Namun pada kenyataannya, kami bisa menuju kesana kapan saja. Lalu juga soal biaya tiket masuk, di website dan kondisi lapangan pun berbeda. Para petugas TNGGP memberi tahu kami bahwa mereka belum meng-update konten website, sejak 1 April 2015 biaya tiket masuk sudah berubah. Awal mulanya total 31 ribu rupiah dengan perincian 25 ribu tiket Canopy Trail, 5 ribu tiket masuk dan seribu tiket asuransi. Sekarang untuk tiket Canopy Trail saja kami dikenai 40 ribu per orang dan untuk guide sebesar 50 ribu rupiah per group. "Waduh, tau gitu mending kita ke The Jungle!"

We were here.

Setelah briefing sebentar (yaelah udah kayak mau naik gunung aja) kami sepakat untuk melakukan penawaran harga tiket. Waduh kalau soal ini ngga bisa saya ceritakan di blog, karena akan mengancam nama baik salah seorang di antara kami yang memang jago nawar apa aja. Hahaha.. Lalu perjalanan trekking dimulai dengan penuh semangat dan eng ing eng ...  Ternyata lokasi jembatan gantungnya cuma lima menit jauhnya, meskipun jalannya agak menanjak, ternyata cuma setarikan nafas dan ngga bikin ngos-ngosan. Kami pun melepas tawa. Kalau kayak begini mah ngapain harus pake guide. Jalan yang dilewati tepat di belakang pos, melewati jalan samping. Setelah ketemu pertigaan lalu ambil kanan. Ketemu perempatan, ambil lurus. Mungkin alasan kenapa pakai guide karena kita bisa saja nyasar karena jujur saja, ngga ada sama sekali plang petunjuk arah jika kita bertemu dengan persimpangan jalan. 

Goyang-goyang, tapi sempetin senyum.

Panjang jembatan 130 meter, dengan ketinggian 45 meter dari bawah. Jembatan Ciwalen (saya menyebutnya karena merupakan jalan pintas menuju air terjun Ciwalen) ini disopang oleh dua pohon besar di masing-masing ujungnya. Selain itu tidak banyak informasi yang kami peroleh tentang Canopy Trail ini, dari guide kami, Bang Ramdan pun tidak banyak menjelaskan. Ketika saya bertanya pun, jawabannya sangat tidak meyakinkan. Lucunya, ketika saya bertanya ke guide grup yang lain, jawabannya sama. Malah saya ditanya balik ketika bertanya, "Kenapa namanya canopy bang, kenapa ga jembatan aja gitu?" Di lokasi Canopy Trail pun, pos nya kosong dan di kunci. Tidak ada petugas yang berjaga-jaga jika saja terjadi kelalaian para pengunjung. Mungkin itu tujuan lain adanya guide sehingga kita tidak bisa sembarangan melewati jembatan lebih dari 5 orang (total berat 300 Kg).

Jauh-jauh kesini, ngga boleh keabisan gaya

Setelah puas banget nikmatin ni jembatan, kami diajak Bang Ramdan ke Curug Ciwalen. Dari pernah baca-baca di Google sih, katanya kalau mandi di curug itu kita bisa awet muda. Berhubung kami masih muda-muda jadi kayaknya air terjun ini dikhususkan buat aki-aki kali yah. Hahaha.. Kami pun ngga berlama-lama di sana lalu kembali lagi ke Canopy Trail buat foto-foto. Jujur ya, saya takut sekali ketinggian. Tapi setelah sekali melewati jembatan ini, ketakutan saya berkurang. Kaki yang gemetaran pun sudah agak tenang. Begini katanya mau paralayang! 

Curug Ciwalen

Dari Cibodas kami berencana mampir ke Cimory Riverside, namun beruntungnya jalur baru saja dibuka. Jadi kami mengurungkan niat kenapa dari pada harus terjebak macet lagi. Sampai di Bogor, kami mampir ke jalan Bangbarung yang katanya pusat Kuliner di Bogor. Menikmati Sop Buah Pak Ewo tepat di samping Rumah Kopi Ranin. Mengabiskan malam minggu dengan pacar dan teman-teman yang menyenangkan.

Mungkin kalau dipikir-pikir, dateng jauh-jauh cuma demi ngelewatin jembatan yang panjangnya tidak lebih dari 130 meter. Trekking cuma 5 menit. Air terjun yang tidak jauh dari jembatan juga ngga keren-keren amat. Biaya ongkos masuk yang terbilang mahal pasti juga membuat orang malas kesana. Tetapi yang namanya perjalanan, destinasi bagi kami bukanlah tujuan utama. Justru kebersamaan dan keceriaan dalam perjalanan menuju kesana itu lah yang sebenarnya. Atau seperti pepatah Chintya bilang, "Gue itu jalan-jalan buat tidur di jalan. Jadi kalau gue tidur ya gue nikmatinnya disitu." 

Berasa lagi trekking ke tengah hutan di Jepang. Anggap saja begitu.

Monday, May 11, 2015

#24 Pantai Pasir Putih Malikan


Pantai Malikan

Pantai Pasir Putih

We feel the most alive when we're out there. 
Seeking happiness, in a place we've never been 
as we surrender ourselves to the currents of the universe.

Pantai Papuma, Jember, Jawa Timur | 30-31 Mei 2014

Sunday, May 10, 2015

Culinary : Baso Bakar Putra Arema

Kalo baso bakar asli, akan selalu dihidangkan
dengan semangkok kuah campuran bawang goreng dan seledri

Suatu ketika pernah posting soal baso bakar di media, lalu seorang teman memberi komentar kalo di Depok ada juga baso bakar yang rasanya ngga kalah enak. Penasaran lah saya, jadi tadi siang sepulang dari kerjaan lepas di Hotel Bumi Wiyata, saya mengajak doi ke Cilodong yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi hotel yang berada di simpang Depok (pertigaan Juanda). Ini kalau warung bakso nya tutup, jangan ngambek ya. Begitu katanya, sambil menatap matahari yang masih terik dan panasnya terasa menyengat di kulit. 

Baliho nya yang segede gini mudah untuk dicari

Setelah kurang lebih setengah jam, sampai lah kami di warung bakso yang lokasinya strategis banget jadi mudah dicari. Lokasinya persis tidak jauh dari pusat perbelanjaan Giant. Waktu kami sampai, parkiran nya udah penuh, pengunjungnya juga ramai. Wah kayaknya beneran enak nih! Begitu pikir kami, lalu kami memesan dua porsi baso bakar tanpa lontong dan satu porsi baso malang rudal. 

Karena warung penuh, saya ngga bisa nyamperin tempat ngebakar basonya.
Jadi jepret dari luar kaca.

Meskipun pegawainya ngga pakai seragam tapi mereka cepat pelayanannya. Jadi kita ngga perlu nunggu lama meskipun ramai. Harga yang dijual pun menurut saya standar, ngga mahal-mahal amat dan ngga terlalu murah juga. Kalau terlalu murah bisa dicurigain juga kan keaslian dagingnya, hehehe.. Dari rasanya, saya dan Brew ketagihan. Dia bilang, besok-besok harus ke sini lagi. Panas, macet dan gerah yang tadi kita rasakan saat perjalanan ke sana pun hilang.

Kenyang sekenyangnya sampai ngga bisa berdiri

Sebagai arek malang asli yang memang pecinta baso, Baso Bakar Putra Arema ini menurutnya enak banget. Dan porsinya juga lebih banyak dibandingkan yang biasa ada di Malang. Kalau bandingin sama Baso Bakar Pahlawan, masing-masing punya cita rasa sendiri. Kalau Baso Bakar Pahlawan menggunakan bumbu kecap yang sudah dicampur cabai dan bawang mentah serta bawang goreng sehingga ada tingkat pedasnya, di Baso Bakar Putra Arema bumbu baso bakar yang digunakan adalah seperti bumbu sate, yaitu bumbu kacang lengkap dengan acar nya. Jadi di Baso Bakar Putra Arema makan baso bakar dilengkapi dengan lontong. Masing-masing punya keunikan. Yang akan selalu bikin kita kangen buat balik lagi. 

For your information
Lokasinya ada di Jalan Raya Tole Iskandar, Cilodong Depok
Kalau dari Jalan Juanda, tinggal lurus aja terus cari putar balik yang ke arah Cilodong. Terus ikutin jalan aja lurus sampai mentok lalu belok kiri. Dari situ ngga jauh, lokasinya di depan Giant Cilodong agak maju dikit. Untuk harganya, seporsi rata-rata 13 ribu rupiah. Itu seporsi udah bikin kenyang banget. Cuma yang jadi pertimbangan adalah lokasi nya yang jauh dari mana-mana. Hahaha. Tapi rasa mengalahkan segalanya. Selamat mencoba!

Saturday, May 9, 2015

Lima Hari Untuk Selamanya (Part 3)

Selama lima hari perjalanan (27 November - 1 Desember), penginapan di Phuket Town ini lah yang setidaknya paling asik dan kesannya honeymoon banget. Hahaha.. Seumur-umur nginep di hotel ngga pernah keren, karena selalu nyesuaikan budget. Namanya Casa Blanca Boutique Hotel, lokasinya strategis banget terletak pas di perempatan depan gedung tua (aduh lupa namanya). Jadi pas hari kedua kita muter-muter Phuket Town, sekalian lah kita reservasi. Baru inget, ternyata hotel ini sebenernya rekomendasi nya Mink, pemilik Cozy Coco Apartment. Nah pas kita lagi jalan-jalan mau ke taman tengah kota, kita ngelewatin hotel ini.

Brew masuk duluan buat reservasi besok

Setelah pulang dari trip ke Kepulauan Similan, kita ngga punya banyak waktu buat main-main lagi karena kecapean abis berenang seharian. Jadi setelah balik dari pasar malam Talad Kaset, kita hanya duduk-duduk bentar sambil ngobrol di tengah taman kota (menyerupai alun-alun). Menertawai kekonyolan trip kita, setelah kamera kecebur dan jam tangan saya hilang di pantai Patong. Juga, acara wisudaan Brew yang "sengaja" dilupain dan baru keinget pas kita udah di antah berantah. Malam pun berlalu cepat, paginya kita dijemput ke pelabuhan, melanjutkan perjalanan ke Krabi. Untuk pelayaran ke Krabi, saya memesan agent kapal ferry yang supaya kita bisa singgah ke pulau Phi Phi. Ciee, akhirnya ke pulau Phi Phi. Hahaha.. Norak makes our journey's awesome, doesnt it?

Kapal ferry milik Andaman Wave Master ini punya dua jadwal. Nah kita ngambil rute Phuket - Phi Phi - Krabi. Berangkat jam 8 pagi, sampai di Koh Phi Phi jam 11 siang. Kemudian berganti kapal, lanjut ke Krabi berangkat setengah 4 sore. Lalu sampai Krabi sekitar mendekati sunset.

View asik dari kapal

Silaaaau men!

Saat menjelang sampai ke Koh Phi Phi, dari kapal kami disuguhi pulau-pulau berbentuk karang. Di beberapa spot juga terlihat adanya kapal-kapal kecil yang membawa turis berkeliling. Ah sayang sekali, selama di Koh Phi Phi kami ngga ikutan tour Maya Bay. Karena kita cuma punya waktu 4 jam transit selama di sana. Ada kejadian lucu, kapal kami yang transit di pelabuhan Tonsai, Koh Phi Phi ternyata ngga lama parkirnya. Mereka hanya menurunkan penumpang saja. Kami hampir aja kebawa ke pulau lain karena kapalnya langsung menuju ke Koh Lanta. Kejadiannya karena pas nurunin penumpag di Koh Phi Phi saya lagi di kamar mandi. Dan ternyata pas saya keluar, kapalnya udah 10 meteran jalan ninggalin pelabuhan. Jadilah kami teriak-teriak ke awak kapal. Para crew pun langsung ngasi aba-aba buat balikin arah kapal ke pelabuhan Tonsai. Huft! Kami loncat dan langsung dadah-dadah ke kapal.

Dadah-dadah ke kapal. Hampir aja kebawa!

Berhubung kami berdua ngga mau repot bawa-bawa carrier, kami menitipkan tas di kantor administrasi pelabuhan. Cukup bayar 20 Baht aja satu tas. Karena tujuan utama kita ke Phi Phi ya karena mau nanjak sampai ke View Point. Peta udah kita foto, selanjutnya kami jalan menelusuri gang-gang hingga akhirnya kami nyasar!

Jalanan area turis di Koh Phi Phi
Kayaknya asik yah bermalam di sini

Kenapa kami nyasar? 
Karena banyak sekali belokan yang bikin bingung. Sementara plang "View Point" dan jalur yang ada di peta agak sedikit berbeda. Dan doi kekeuh nyari jalan pintas nyesuain sama yang ada di peta. Jadilah kami siang bolong sampai ke perkampungan warga, yang jalannya udah bukan jalan turis lagi. Kanan-kiri banyak kebon dan rumah warga yang sebagian besar memelihara ternak. Pokoknya kami sampai sendirian, udah ngga ada lagi orang yang lewat. Jalanan yang dilalui lumayan lebar, yang sepertinya memang dilalui kendaraan roda empat. Matahari pun semakin terik dan kami semakin lelah. Hingga akhirnya ada mobil pick up yang sedang membawa banyak kardus yang lewat dan saya berhentikan. "Hitching ah sekali-kali biar kayak Ejie." Senyum saya pada nya. Pak supir pun mau mengantar kami sampai ke View Point. Karena bagian belakang sudah agak penuh kami pun berdiri. Ceritanya ... saya simpan ya buat anak cucu kami. Hehehe ..

Kami pun diturunkan pas di depan plang bertuliskan "View Point". Tulisan ini ditulis seadanya dan ditancap tepat di pohon. Pepohoan yang ternyata merupakan jalan masuk ke hutan. Ternyata dari hutan itu, kami masih harus sedikit nanjak lagi. Huaaah, sambil ngelap keringet. Jalan cuma berdua. Disitu saya agak sedikit parno. Sambil jalan kami ngobrol, sampai ketemu bule juga yang baru turun. "Oh ada juga ternyata yang lewat sini." Tapi jarang banget, itu pun mereka semua arah turun. Oya selama melewati hutan, saya ngga berani foto-foto. Setelah satu jam jalan menanjak, akhirnya kami sampai di pos View Point. Bayar tiket lalu kami menaiki tangga lagi.

PeePee or Phi Phi?

Semuanya terbayar saat kami sampai ke puncak! Duileh puncak, cuma nanjak sejam doang. Hehehe.. Dan memang terbayar kok. Sampai di atas, pemandangan yang disajikan bikin mata ngga bisa merem. Sayangnya matahari udah di atas kepala. Langit jadi agak over. Tapi tak apa lah, di akhir November ini kami udah beruntung banget dapat langit yang cerah.

Tadi kita jalan dari ujung sana!
Sambil nunjuk ke pelabuhan Tonsai yang sebesar titik

Sambil minum jus jeruk dan air kelapa muda, kami nikmati siang yang sebentar ini di warung yang memang cuma ada satu di puncak. Tidak banyak turis di sini. Bisa dibilang sepi. Paling ada pun mereka ngga lama-lama, cuma mampir foto terus beli air minum lalu turun lagi. Macam joging aja. Di sini kami duduk-duduk lumayan lama, sampai akhirnya kami kelaparan karena jam makan siang udah lewat. Kami pun mencoba turun melalui jalan yang saya lihat beberapa kali dilewati turis. Ternyata ini jalur yang benar! Disitulah kami menyadari, kalau kami nyasar pas naik tadi. Jalur turis ini lebih rapi dan berbentuk anak-anak tangga. Kanan-kiri juga banyak toko, hostel dan penginapan.

Di jalan kami mampir ke toko pakaian. Seorang bule asal Jerman yang ternyata sudah tinggal 6 tahun di Krabi menyapa kami. Ia bertanya, kenapa ya banyak turis asia yang suka ngabisin duitnya buat beli oleh-oleh, kamu juga? Saya pun menjawab sambil tersenyum, saya beli buat saya sendiri kok. Ngga ada budget buat ngasih orang-orang. Hahaha.. Tawa pun pecah. Saya dapat satu sarung bermotif gajah. Lalu kami jalan bareng dan diantar kan ke pantai Loh Dalum. Kapan-kapan kalau ke Koh Phi Phi lagi, katanya kami dipersilakan menginap di penginapannya. Lalu kami menikmati makan siang di jejeran warung makan di pantai Loh Dalum. 

Setelah makan, kami pun langsung terburu menuju pelabuhan. Di sana ternyata sudah ramai. Sempat terlibat percakapan lama dengan crew kapal karena kami belum sempat check in di stand Ao Nang Princess yang terletak di area pertokoan. Karena waktu keberangkatan yang mepet akhirnya kami diperbolehkan masuk. Sebelum kapal berangkat, saya coba browsing di Agoda hostel murah di Krabi. Karena udah capek nanjak tadi, kami pun tidur di kapal. Hanya dapat satu view ini aja lalu lanjut tidur lagi.

Ayo itu apaan?

Kami sampai di pelabuhan Ao Nang tepat sebelum matahari tenggelam. Lalu kami memperoleh service tumpangan dari Ao Nang Princess untuk ke penginapan masing-masing. Awalnya kami sudah reserve untuk drop di Mini House Ao Nang (rekomendasi Mink). Namun di perjalanan kami melewati Lanna Beach Guest House, penginapan yang belum sempat saya book pas di Koh Phi Phi. Kami pun minta berhenti saat itu juga. Lalu menuju penginapan itu yang tentunya kami pilih karena jauh lebih murah dari penginapan yang direkomendasikan Mink. Memang lebih murah sih, untuk double bed kami hanya kena charge 700 B/room. Tapi ternyata kamarnya ada di lantai paling atas yaitu lantai 4, tanpa pakai lift!

Tuk-tuk yang pertama kami naikin ada di Krabi
Trotoar lebar sepanjang jalan menuju pantai Ao Nang

Habis naro tas di kamar dan sholat, kami bergegas menuju pantai mengejar sunset. Nggak terlalu jauh dari penginapan sih. Karena sudah kelihatan di ujung jalan langit mulai berwarna jingga. Kami habiskan sore terakhir di pantai Ao Nang. Menikmati senja dan matahari yang kembali keperaduannya. 

Takkan pernah bosan. Dengan kamu.

Setelah matahari tenggelam, kami berjalan kaki menyusuri jalan yang sejajar dengan garis pantai.Trotoar yang lebar, memudahkan para turis menikmati sepanjang jalan yang di kanan-kiri nya dipenuhi pertokoan souvenir. Beberapa kali kami disapa dan diberikan brosur cabaret show oleh para ladyboy yang amat heboh dengan dandanan kabaretnya. Malam pun semakin larut, perut meraung waktunya makan malam. Sambil jalan balik ke penginapan, kami mampir ke Lemon Seafood Restaurant yang tidak jauh dari penginapan. Karena harga seafood di sini bisa dibilang lebih murah dibandingkan di Jakarta, di sini kami memuaskan diri sampai nambah-nambah. Kenyang. 

Pagi hari esok nya kami lebih santai, karena penerbangan kembali ke Jakarta agak siang. Kami memesan seat bus mini untuk ke bandara, melalui agen travel yang terletak persis di sebelah penginapan. Lalu kami dijemput, ehm agak molor dari jadwal sih tapi karena kami pesan 2 jam sebelum keberangkatan jadi kami masih punya waktu longgar. Bandara Krabi ini termasuk bandara kecil, dari terminal 1 ke terminal 2 jaraknya tidak terlalu jauh, cukup berjalan kaki saja. Kami menunggu di bawah sambil makan pop mie nya Thailand (suka banget yang rasa bebek). Saya pun tersadar, ternyata nama Krabi diambil dari kepiting. Terlihat dari baliho besar bertuliskan "Welcome to Krabi" dengan gambar kepiting yang besar. Mungkin maksudnya Krabi dari crab kali ya. Hehehe.

Perjalanan 2 jam pun dilanjutkan ke Penang, nggak langsung ke Jakarta. Lho kok ke Penang? Lagi-lagi setelah transit di SIngapur, kami iseng transit di Penang, Malaysia. Kata temen-temen sih Penang tempat wisata kuliner. Pas sampe bandara, kami pun buru-buru nyari bus ke kota. Karena belum sempat nukerin receh, kami bolak-balik jajan ke toko yang bisa balikin receh. Hal itu karena kalau naik bus di Malaysia kita musti nyiapin receh karena uang nya langsung masuk ke box, ngga ada kembalian. Sayang juga kalo 50 ringgit harus ludes gara-gara ga ada receh. 

Add caption

Karena ngga ada persiapan, kami cuma dapet info tentang George Town, dari mbak-mbak yang duduk disebelah saya sehabis sholat Zuhur. Itu pun kami ngga tau harus turun di mana. Bolak-balik nanya sama supir bus, yang ternyata baik kami pun dikasih tau bakal turun dimana. Tapi karena miss-communication kami malah jadi turun di antah berantah. Akhirnya kami cuma makan, terus balik lagi ke bandara. Beneran kan, wisata kuliner di Penang. Hahahaha saat kembali ke bandara kami hanya menertawakan sisa-sisa waktu yang sangat mepet. Di tambah lagi ternyata maskapai penerbangan kami L*on Air dari Penang ke Medan jadwalnya dipercepat 2 jam. Dan hal tersebut sudah diberitahu lewat email 2 hari sebelumnya. Pret! Mana sempet baca email orang lagi liburan. Jadilah kami ketinggalan pesawat. Untungnya, pihak maskapai mau mengganti tiketnya karena kasian kali ya. Mereka sebenernya juga kesal, karena yang mengubah jadwal tiba-tiba itu dari pihak maskapai yang ada di Indonesia. Waktu itu hanya ada tiga orang. Saya, si suami dan satu orang Indonesia juga. Alhamdulillah syukur banget ternyata mereka mau bantu sampai kami mendapatkan tiket pesawat penerbangan ke Medan berikutnya menggunakan maskapai lain.

Kenapa sih kita musti transit berkali-kali? Ke Medan pula. Hahaha.. Alasannya tentu saja biar bisa dapet tiket yang lebih murah. Penerbangan pulang pergi CGK-HKT di tanggal segitu lagi mahal-mahalnya. Makanya sekalian deh saya puter-puterin biar makin kerasa jalan-jalan nya. Hehehe.. Mampir ke Medan, sudah pasti saya membungkus dua gulung bolu meranti rasa keju yang makannya aja mungkin setahun sekali, itupun karena ada temen yang mau dititipin. Jadi kalau ada yang nanya, ngapain transit ke Medan. Jawabannya "Bolu Meranti!".

Perjalanan yang takkan terlupakan. Bersama kamu. Lima hari yang selalu saja masih teringat di kepala. Walau ada beberapa hal detail yang saya lupa, karena sepanjang jalan kita selalu ngalamin hal-hal yang tak terduga. Juga cara kamu yang ngga pernah nyebut Baht, tapi Beri karena penampakan mata uang Thailand yang mirip sama mata uang di anime One Piece. Petualangan di Penang yang bener-bener ngga penting, ketinggalan pesawat, nyasar ke hutan-hutan, kamera yang kecebur, jam tanganku yang hilang, hampir kebawa ke Koh Lanta, nyasar ke pecinan mesen mie pake minyak babi, berapa kali makan pop mie nya Thailand yang rasa bebek (waktu di kapal juga), berapa kali makan seafood yang murah meriah, semua sunset yang kulihat bersama kamu, dan akhirnya paspor kamu yang udah keisi empat cap negara (termasuk Indonesia ya). Let's wander as long as we're still alive! To make a story for tomorrow!


Perjalanan itu bukan tentang jauhnya, atau tentang menuhin cap di paspor.
Tapi tentang setiap momen yang akan kita ceritakan di esok nanti.

Wednesday, May 6, 2015

Tanjung Bira, Eksotisme Selatan Sulawesi

Banyaknya pertanyaan yang muncul, dari teman-teman yang berencana melakukan perjalanan mandiri ke Tanjung Bira. Maka akhirnya saya sempatkan juga menulis jurnal ini di blog. Perjalanan ini saya lakukan mandiri berdua dengan teman kuliah saya, di bulan November tahun 2013. Udah lama juga ya ternyata, satu setengah tahun, mudah-mudahan ingatan saya masih tajam. 

Spot yang menjadi ikon Pantai Tanjung Bira

Setelah berburu tiket promo beberapa bulan sebelumnya, saya dapat tiket 350 ribu PP Jakarta - Makassar. Ketika itu Air Asia masih punya rute CGK - UPG. Berangkatlah kami sore itu (14/11/2013), berbarengan dengan macetnya Jakarta menuju bandara Soetta. Sampai di bandara Hasanuddin jam 1 dini hari, dan menumpang tidur di masjid bandara. Menunggu pagi, menunggu damri yang ternyata tak kunjung tiba hingga pukul 7 pagi. Karena khawatir akan ketinggalan trayek yang menuju Tanjung Bira, terpaksa  deh kami naik taksi untuk menuju terminal Malengkeri. Hampir semua taksi sistemnya nembak! Setelah setengah jam menunggu kami dapat yang pake argo. Tapi ternyata mau pake argo atau nggak sama aja tarifnya, malah tanpa argo tarifnya jadi lebih mahal. Berkali-kali liat argo jalan cuma nyesekin dada, blom setengah jam jalan udah kena 100 ribu. Jangan-jangan argonya dimainin juga. Begitu pikir kami. Akhirnya kami minta turun di tengah jalan, keluar tol yg terdekat. Apes deh, tau gitu mending nembak. Hahaha.. Dan perjalanan pun kami lanjutkan dengan menumpang pete-pete (angkutan umum di Makassar) ke terminal Malengkeri.

Untuk menuju Tanjung Bira, ada dua alternatif angkutan umum yang bisa digunakan. Pertama adalah bus antar kota yang menuju Bulukumba. Seingat saya cuma ada satu sih. Kedua adalah Kijang, sebutan untuk mobil sekelas toyota kijang atau xenia yang digunakan sebagai angkutan umum sampai ke Tanjung Bira. Kendaraan ini jumlahnya lebih banyak, ada yang ngetem di luar terminal dan ada yang di dalam. Nah, kami menggunakan alternatif kedua di mana nanti si supir akan mengumpulkan penumpang sampai penuh, baru berangkat. Biasanya mereka berangkat kalau sudah penuh, atau hari sudah siang. Karena perjalanan menuju Tanjung Bira membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam.

Dari kijang, perjalanan menuju ujung pulau Sulawesi

Meskipun menunggu agak lama, kijang yang kami naiki berangkat pukul setengah 10 pagi. Karena masih lelah setelah tidur ngga jelas di langgar bandara, sebagian besar waktu kami di mobil adalah tidur. Beberapa kali terbangun saat melewati tepi laut. Di tengah perjalanan, kami juga sempat berhenti di warung makan. Uniknya disana adalah, minuman yang disuguhkan selalu air bercampur es. Lalu perjalanan dilanjutkan kembali ke Bulukumba. Ternyata kijang yang kami naiki hanya sampai Bulukumba. Seorang bapak paruh baya yang duduk di sebelah saya menawarkan mengantar kami sampai Tanjung Bira. Ia bilang hanya perlu menempuh satu jam untuk sampai kesana. Kami diajaknya ke Pasar Bulukumba untuk menunggunya mengambil mobil dari rumah nya. Agak aneh sih, "Kenapa kita ngga diajak kerumah nya aja ya sekalian?" Begitu pikir kami. Tapi yasudah lah, siapa juga yang mau nolak gratisan. Hehehe ..


Pantai Kaluku, tempat pembuatan kapal pinisi

Sebelum sampai di pantai Tanjung Bira, si Bapak memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Kami diberinya kesempatan untuk menikmati nyiur dan angin laut di atas tebing pantai Kaluku. Cerah sekali sore itu. Kemudian kami di drop di kompleks penginapan Tanjung Bira. Di sana kami berpamitan dan mulai mencari penginapan yang sudah saya googling sebelum berangkat.

Terima kasih, Bapak!

Penginapan itu namanya Sunshine Guest House, yang miliki oleh seorang perempuan Bugis asli, Nini kami memanggilnya dengan suaminya Gav yang berdarah bule. Lokasinya berada di kiri jalan ke arah pantai. Untuk menuju kesana, dari plang yang bertulisan nama penginapan, kita masuk melalui gang kecil sampai mentok. Posisinya lebih tinggi dari penginapan-penginapan yang sebelumnya kami lewati. Jadi perlu sedikit usaha ekstra untuk sampai ke Sunshine. Setelah sampai, kita menunggu lobi yang terbuka luas. Pemandangan laut bisa langsung dilihat dari sana. Setelah ngobrol sebentar dengan Nini, kami diantar ke kamar yang ada di lantai 2. Untuk permalamnya kami di charge 150 ribu/kamar. Sudah termasuk sarapan pagi.


Penginapan yang kami tinggali selama tiga hari dua malam di Tanjung Bira
(Pagar masuk, plang penginapan, dan balkon depan)

Karena hari mulai senja, kami pun bergegas menuju Pantai Kaluku untuk melihat proses pembuatan Pinisi sekaligus mengejar matahari tenggelam. Lumayan jauh untuk berjalan kaki sampai kesana. Kami pun mendapat tumpangan "gratis" dari abang-abang yang memaksa kami menggunakan jasa speedboatnya untuk hopping island ke Pulau Kambing esok harinya. Karena udah dipaksa banget, dan males diikutin yaudah deh akhirnya kami nurut aja. Di pantai Kaluku kami menghabiskan waktu hingga langit tertutup awan gelap. Kami tidak bisa melihat senja sore itu, langit mendung mengharuskan kami kembali ke penginapan. 


2 tiang 7 layar
Demi ini kami berdua kabur dari hiruk pikuknya kota metropolitan.

Kami kembali penginapan saat hari sudah gelap. Malamnya kami makan menu seafood di warung makan bambu persis di depan gang masuk ke rumah Nini. Banyak turis mancanegara sedang berkumpul. Setelah makan malam kami kembali ke penginapan dan melanjutkan istirahat panjang, mengumpulkan tenaga untuk snorkeling dan hopping island esok hari.


Kami sudah janjian dengan si abang-abang yang kemarin ngikutin kami. Di pagi hari yang cerah itu, kami sempat terlibat sedikit cekcok karena adanya salah paham antara Nini dan si abang. Sehingga kami berangkat terlalu siang. Jadilah kami memesan private boat seharga 450 ribu karena ketinggalan rombongan yang menggunakan jasa paketan. Itu sudah termasuk alat snorkeling, ke pulau Kambing, pulau Liukang Loe, dan pantai Bara, sampai sore! Walaupun awalnya sempat ragu soal harga, namun di akhir trip kamu justru bersyukur ditemukan dengan abang ini.


Snorkeling di sini!

Surga dunia, ah~
(courtesy photo by danceuu)

Spot pertama adalah snorkeling di pulau Kambing. Pulau ini letaknya lumayan jauh dan tidak semua trip menyediakan paket ke sana. Biasanya hanya ke pulau Liukang Loe saja. Berhubung kami ke Tanjung Bira tanpa bawa dokumentasi underwater, jadi cuma ada foto di atas permukaan saja ya. Sebetulnya, underwater pulau Kambing tuh kece abis. Saya hampir dua jam di sana nggak mentas-mentas. Struktur karangnya vertikal, jadi kalo diving pasti lebih keliatan. Selain snorkeling, kami main ke dalam goa tepat di bawah pulau Kambing. Untuk menuju ke goa ya kami harus berenang! Hati-hati ya karena banyak ular laut yang bersembunyi di bebatuan kata si abang.


Goa yang terlihat dari luar (atas), dan dari dalam (bawah)

Dari pulau Kambing, kami lanjut hopping island ke pulau Liukang Loe. Di sana kami leyeh-leyeh juga sampai menjelang sore. Memesan indomie goreng (kayaknya tiap ngetrip ngga bisa lepas dari ini) dan makan di kursi malas menghadap laut.


Abis kekenyangan mie goreng
(courtesy photo by danceuu)

Karena kami punya banyak waktu bebas, kami pun mencoba eksplor pulau Liukang Loe. Berjalan menyusuri sepanjang garis pantai. Bertemu dengan bapak nelayan yang sedang menyulam jaring ikan. Bermain dengan anak-anak pulau hingga ke dermaga.

Mereka sangat narsis dan lucu. Beberapa kali nyebur karena pengen difoto.

Dermaga di pulau Liukang Loe

Setelah puas leyeh-leyeh dan main dengan anak-anak pulau, perjalanan kami berlanjut ke Pantai Bara (langsung dari jalur laut, tanpa jalan kaki melalui pantai Bira). Oiya, saya juga dapat kesempatan belajar mengemudikan speedboat (learning by doing!). Asik banget lah sama si abang ini, kami benar-benar puas dengan service nya. Dia juga nyantai banget, ngikutin keinginan kita. Jadi tiap spot kami ngga perlu buru, pokoknya sampe kami bosen baru pindah spot. Dan spot terakhir adalah pantai Bara. Nggak sampai sunset sih, tapi kita udah puas bisa lihat nyiur dengan latar belakang pantai dan langit yang biru. 

Pantai Bara dari boat

Nyiur


Nyiur

Dari pantai Bara kami kembali ke pantai Tanjung Bira menggunakan boat si abang. Sebenarnya bisa saja kami berjalan menyisir garis pantai hingga ke Bira, namun karena sudah lelah si abang masih setia menemani kita sampai kembali ke Bira. Lalu kami kembali ke rumah Nini untuk bilas badan yang udah lengket sejak dari pulau Kambing. Kami habiskan sore di balkon rumah nini hingga senja menyapa. Beruntung sekali hari itu, warna jingga matahari menemani sore kami sambil duduk di kursi malas.


Dari balkon rumah

Lupakan penat

Pagi hari esoknya, kami masih malas untuk bangun. Mobil yang menjemput kami baru datang jam 10 pagi. Oiya, untuk kembali ke Makassar bisa reservasi lewat Nini. Karena kendaraan menuju Makassar terbatas. Setelah baru benar-benar terbangun pukul 7 pagi, saya packing dan bergegas ke pantai Tanjung Bira. 


View kayak gini yang bikin males pulang ke Jakarta

Jarak dari rumah Nini ke pantai Bira tidak terlalu jauh. Sebelum sampai di pantai Bira, di sebelah kanan terdapat toko oleh-oleh yang berjejer.


Dapet sarung pantai. Meskipun saya nggak pernah beli oleh-oleh,
setidaknya tiap ke pantai saya beli sarung untuk saya sendiri karena fungsional sekali

Kami memang belum sempat eksplor pantai Tanjung Bira, terutama di spot yang jadi ikon pantai ini. Rumah kayu yang berjejer di tebing, lalu dibawahnya terbentang laut dengan warna yang biru. Oleh karenanya, sebelum meninggalkan Bira, saya sempatkan ke sana meski sendirian meninggalkan danceu yang masih nyenyak di tidurnya.


Aduh pengen loncat!


For your information
Total pengeluaran selama 4 hari 3 malam di Tanjung Bira dan Makassar kira-kira 700-800 ribu. Itu udah termasuk akomodasi, transportasi, makan, keliling pulau, snorkeling dan sarung yang saya beli. Termasuk juga pas nongkrong-nongkrong malam senin di pantai Losari. Untuk tiket pesawat untung-untungan berhubung Air Asia dan Tiger Air rute CGK-UPG sekarang udah di tutup.