Waktu itu masih saya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Berawal dari keisengan saya saat main ke rumah Laili, saya tertarik membaca salah satu komik yang dia koleksi. Judulnya Flash of Wind (versi Jepangnya Kaze Hikaru). Komik ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang menyamar jadi laki-laki (Seizaburo Kamiya) untuk bisa masuk menjadi anggota samurai karena jatuh cinta dengan gurunya (Soji Okita). Sejak pertama kali baca Kaze Hikaru, saya mulai mengoleksinya hingga hari ini. Untuk terbitan versi Indonesia baru sampai volume 32, sedangkan di Jepang sendiri buku ini tamat di volume 40 pada Mei 2017.
Japan
Kami menyusun rencana perjalanan yang cukup lebih rapi di hari ketiga di Kyoto (16/11/2017). Alhamdulillah sudah ngga ada lagi drama nyasar seperti hari sebelumnya. Hari itu kami menjelajah Fushimi Inari, menapaki jejak sejarah Shinsengumi, jalan-jalan di sekitar Gion dan mengakhiri hari di tepi sungai Kamo.
List itinerary selama di Kyoto sebetulnya banyak. Karena emang dari awal kita mau lama-lamaan di kota yang touristy ini. Tapi ada drama yang bikin kita jadinya hanya mengunjungi spot mainstream saja selama di Kyoto. Dan juga karena kita ngga bisa mengalahkan cuaca dingin yang bikin mager, jadi yang harusnya jam tujuh pagi kita udah di lokasi tujuan, jam segitu kita masih angop-angopan dibalik selimut yang anget.
Dari tahun 2015 saya dan Nisa sudah mulai hunting tiket ke Jepang. Waktu itu kami hampir dapat tiket promo pas Spring 2016, tapi kehabisan di tanggal yang kita pengenin. Saya meyakinkan Nisa untuk merubah timing ke musim gugur aja. Kita ngepasin tanggal yang enak musim gugur di dua perfektur (Kanto dan Kansai) karena puncak musim gugur di Jepang ngga merata.
Suka banget pake Fuji X70. Ukurannya yang mini bisa masuk kantong jaket. Ngga perlu pake dua tangan buat jepret. Cekrak-cekrek. Ngga ribet buka tutup lensa, karena lens cap nya sengaja ku tinggal di Jakarta, cuma pake filter UV buat ngelindungin lensa depan nya yang cukup tipis. Gerimis hujan pun ngga masalah, karena tangan kiri ready megang gagang payung, tangan kanan jeprat-jepret. Jalan-jalan mengitari distrik-distrik di Tokyo pun jadi lebih menyenangkan.
Semesta mendukung. Seharian saya dan Nisa main ke Fuji san cuaca begitu cerah karena dua hari berikutnya mendung dan hujan seharian. Kalau menyesuaikan itin yang sudah saya buat, jadwal ke Fuji san seharusnya jadi transit road trip kami dari Tokyo ke Kyoto. Tujuan nya biar irit budget transport karena selama di Jepang kami ngga menggunakan JR Pass. Tapi gegara trip impulsif ke Shirakawago, kami terpaksa merubah rute road trip menjadi Tokyo — Fuji san — Tokyo — Kanazawa — Shirakawago — Takayama — Kyoto.
![]() |
Bisa sampai Jepang adalah impian saya sejak seumuran mereka |
Otaku World
Suka sama Jepang ngga terlepas dari manga dan anime. Jaman SMA dulu tiap ada manga favorit baru terbit di gramed, ku beli dan bawa ke sekolah. Jadi kalau saya ngoleksinya Shounen magz, gebetan saya Shounen star, kita tuker-tukeran bacanya pas di sekolah. Ada juga temen yang ngoleksi Naruto atau Samurai Deeper Kyo, kita bawa ke sekolah dan tukeran baca. Duh, kalau inget dulu sampai ketahuan guru gara-gara ada komik setumpuk di sebelah jendela, atau ketahuan guru BK waktu lagi jadwal kosong saya baca Shounen star, rasanya jaman-jaman kelas 2 SMA itu indah banget ya.. Hahaha.